TGB Calon Wapres Jokowi

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Kontestasi capres dan cawapres 2019 nampaknya mengerucut jadi dua pasangan saja. Joko Widodo-Tuan Guru Bajang ( TGB) dan Anies Baswedan-Gatot Nurmantyo. Anies tidak mau jadi nomor dua karena ambisinya jadi Presiden yang sudah terpendam sejak lama.

TGB jadi calon wapres terindikasi dari " komentar tidak biasa" Presiden Jokowi terhadap dukungan TGB untuk mencalonkan lagi. Hanya berselang bilangan hari saja setelahTGB mendukungnya, Presiden berucap syukur Alhamdulillah.

Media pekabaran mengutip Presiden sebagaimana mengatakan, " Saya kira itu bentuk sebuah penghargaan apresiasi kepada pemerintah. Beliau ( TGB) sendiri menyampaikan rasionalnya seperti itu,"

Gayung kemudian bersambut. TGB mengeluarkan pernyataan agar ulama jangan menggunakan ayat untuk jualan politik. Bobot pernyataannya ini sangat tinggi karena kredibilitas TGB yang dikenal juga sebagai ulama. Pernyataan itu sekaligus menghajar keras kampanye politisasi ayat hingga lunglai.

Saling lempar pernyataan mendukung ini semakin memperjelas bahwa batu sandungan Jokowi mencalonkan lagi adalah politisasi ayat Quran. Islam dan pemeluknya sejak lama menjadi faktor penentu Pilkada,Pileg ataupun Pilpres. Isu ini makin menajam setelah tumbangnya Ahok. Semua pihak menggunakan template untuk menajamkan isu agama dan juga untuk menangkalnya.

Presiden Jokowi telah" berakrobat" luar biasa untuk menarik dukungan dari kalangan Islam mengatasi politik jualan ayat. Hasilnya luar biasa. Isu agama ditindas habis di Tanah Jawa berkat dukungan NU. Menyisakan tangisan keras PKS, menyaksikan kendaraannya ringsek tanpa bentuk di Jawa Barat. Kedepan, PKS harus menghadapi arus deras kampanyekan#guremkanpks.

Namun kemenangan ini belum cukup. Politisasi Islam belum sepenuhnya berada dalam kendali Jokowi. Masih tersisa pasukan penunggang Islam untuk kemenangan di 2019. Jumlahnya signifikan. " Sel tidur" pengusung ganti presiden cukup signifikan di Pemilu Jabar dan Jawa Tengah. Mereka yang merasa" Islam dizolimi Jokowi" akan bangkit mendukung calon yang menjadi sosok idola yang membenarkan persepsi itu.

Mereka adalah Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo. Kelompok Somad dan kawan-kawannya seperi Arifin Ilham dan Gymnastiar tanpa gembar gemborpun sudah mendeklarasikan syahwat politik mereka yang seperti biasa berbalutkan hujat ayat dan gerimis hadits.

Baik Anies dan Gatot sangat dekat dengan kelompok penceramah politik itu. Mereka akan mengusung dua orang ini dibawah panji " Indonesia Bersyariah" yang akan dikumandangkan secara terang-terangan atau secara tidak langsung. Hanya dengan cara inilah gerakan ganti presiden bisa bangkit lagi dari kakinya yang keseleo ditendang keras oleh kemenangan spektakuler pemimpin daerah pendukung Jokowi.

Hanya Anies dan Gatot yang bisa mengobati sakitnya tendangan telak pemilih rasional di batok kepala PKS. Saat ini PKS mendapat tekanan keras baik dikubu internal mereka yang mulai menyalahkan Mardani sebagai terlalu kegenitan mengkampanyekan 2019 ganti presiden tanpa platform yang jelas. Anies dan Gatot bisa menjadi viagra bagi PKS untuk menegakkan kembali syahwat politiknya yang nyaris impoten dengan mengusung isu agama.

Dalam konteks ini,Gerinda terpaksa harus ikut arus. Pak Prabowo lagi-lagi harus dihadapi pada kenyataan bahwa perannya hanya sampai pada juru bayar tagihan orang lain yang nyalon dan ini menguras koceknya. 
Wajahnya muram miris karena capres abadi mungkin akan melekat pada dirinya selamanya karena elekrabilitasnya yang terus tergerus.

Bagi yang suka dengan kisah konspirasi, tak pelak lagi percaya bahwa isu Islam adalah proxy kekuatan asing menyingkirkan Jokowi. Mereka mengkaitkan manuver terakhir Jokowi atas Freeport, ancaman Trump soal neraca perdagangan RI-USA yang jomplang serta isu seputar Anies, Sandi dan Gatot melawat ke Amerika.

Namun isu proxy itu dipandang sangat sumir meskipun pihak-pihak asing yang terganggu kepentingannya atas sepak terjang Jokowi selama ini tentu sangat senang jika dia kalah.

Ada kesepakatan pandangan, isu politisasi Islam adalah masalah internal Indonesia yang harus diselesaikan. Jokowi kini punya sekondan kuat yakni Sang Guru Bajang. Ulama yang juga berpolitik praktis yang segera menjadi lawan Somad dan kawan-kawan yang juga berpolitik praktis. Bedanya TGB didukung penuh NU dan mayoritas Muhammadiyah. Bandingkan dengan Somad cs. Masyarakat sudah paham siapa dibelakang mereka.

Jadi dalam konteks ini, posisi TGB sangat strategis bagi Jokowi. Tidak hanya mengkonter gerakan jualan ayat, namun juga memajukan kawasan Timur Indonesia. TGB diharapkan bisa tandem dengan Prof Nurdin Abdullah. "Sang Ayam Jantan Dari Timur, " yang melibas habis dinasti Limpo dan dominasi klan JK-Golkar akan membangun Sulawesi Selatan sebagai pintu gerbang kemajuan pembangunan kawasan Timur Indonesia, mengulang sukses dia menjadikan Bantaeng laksana permata dari Timur yang mengucurkan kemakmuran disana.

Nurdin dan TGB dipandang sebagai generasi muda pemimpin Indonesia setara Jokowi, bersama Ridwan Kamil, Kofifah, Ganjar, Risma dan puluhan bupati dan walikota yang visioner, cinta NKRI dan kebal menghadapi isu agama. Yang membawa Indonesia selamat, makmur dan sentosa selepas era Jokowi.

Moncernya TGB di kubu Jokowi akan menjadi pembanding langsung peforma Anies dan Gatot. Sudah jadi rahasia umum, Anies lebih kondang dengan sebutan"gabener" karena prestasi bobrok dia di Jakarta. Sementara Gatot bakal didera oleh gorengan isu " Sang Jenderal Beristri Tiga."

Demikian rangkuman hasil perjalanan saya bertemu dengan para mereka yang punya kabar burung.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Saturday, July 7, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: