Tetaplah Tersenyum Grace dan Tsamara, Aku Suka Itu

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

"Kami siap menjadi alien, siap dikucilkan dan dianggap aneh. Karena dari awal visi kami tidak hanya meramaikan dewan tapi juga mau menaikkan standar demokrasi. Itu impian kami," (Grace Natalie)

Pada April 2016 sebuah partai politik baru bernama La République en Marche! didirikan oleh Emmanuel Macron, pemuda usia 39 tahun. Macron mengambil risiko mundur dari kabinet Presiden Hollande dan mendirikan en Marche. Partai politik yang ketika berdiri ditertawakan oleh partai-partai mapan lainnya di Prancis dalam waktu cepat bisa mendapatkan 200.000 anggota. Dalam Pemilihan Legislatif Prancis, partai yang baru berusia 14 bulan ini bahkan berhasil meraih kemenangan sebesar 43% atau 301 kursi dari 577 kursi yang tersedia di parlemen.

Bukan sekadar soal kemenangan besarnya, tapi siapa yang menduduki kursi tersebut. Para calon legislatif en Marche diseleksi dari 19.000 orang yang mendaftar secara online. Mereka semua orang baru, belum pernah mencalonkan diri sebagai calon legislatif. Pemilihan Legislatif lalu adalah yang pertama kalinya mereka maju mencalonkan diri untuk melayani rakyat Prancis.

Hebatnya lagi, 50% dari calon legislatif en Marche adalah perempuan! Sungguh benar apa yang dikatakan oleh The Economist bahwa ini adalah “a second French revolution”; “Revolusi Prancis kedua.” Tapi apakah kebangkitan anak muda hanya terjadi di Prancis?

 

Kemenangan ini menghantarkan si muda Emmanuel Macron bertarung melawan Marine Le Pen. Le Pen, sama seperti Trump, menggunakan isu anti-imigran dan anti-Islam untuk meraup suara orang-orang yang kecewa dengan situasi Prancis. Ceritanya sama seperti di Amerika, mereka merasa imigran mengambil lapangan pekerjaan mereka dan membuat mereka hidup semakin sulit.

Macron mengambil sikap pula terkait isu anti-imigran ini. Ia menempatkan imigran pada porsinya. Jika Le Pen ingin tampil sebagai pelindung rakyat Prancis dari imigran, Macron merasa imigran seharusnya bisa diajarkan mengenai bahasa dan budaya Prancis. Berbeda pula dengan Le Pen, Macron ingin ada integrasi dengan umat Muslim di Prancis. “Kalau kita mengikuti Le Pen, kita akan membuat perang sipil!” kata Macron (New York Times, 5/5/2017).

Pendekatan moderat tetapi disertai dengan keberanian dan kelantangan Macron ini membuahkan hasil. Dirinya menang telak pada Pemilu Presiden putaran kedua sebesar 63%. Saya berani menyebut bahwa Macron hari ini adalah simbol dunia untuk kebangkitan partai politik anak muda.

Fenomena Macron ini mengingatkan saya, saat KPU pernah merilis data pemilih pemula dalam rentang umur antara 17-20 tahun yang berjumlah 14 juta, sedangkan yang berusia 20 sampai 30 tahun sekitar 45,6 juta jiwa. Jika ditotal berarti pasar aspirasi politik kaum muda di Indonesia berjumlah hampir 60 juta jiwa. Angka ini akan makin membengkak pada pemilu 2019. Komisi Pemilihan Umum memperkirakan pada Pemilu 2019 terdapat tidak kurang dari 192 juta pemilih. Pemilih muda berusia 17-38 tahun akan mendominasi. Jumlahnya bisa lebih dari 55 persen dari seluruh jumlah pemilih itu. Generasi muda yang lahir antara 1980 dan 2000an, angkanya diperkirakan berkisar 100 Juta Pemilih. Ini merupakan “suara” potensial yang menggiurkan dalam sebuah market politik. Merekalah yang menjadi penentu kepemimpinan nasional ke depan.

Hari ini, saya melihat wajah La République en Marche dalam tubuh Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai baru yang didominasi anak muda, mengusung visi anti korupsi dan Intoleransi. PSI menjadi partai anak muda dan menyaratkan pengurus PSI tidak pernah terlibat partai politik sebelumnya menjadi diferensiasi dengan partai politik lainnya. Pengurus partai PSI juga dibatasi maksimal 45 tahun, dan saat ini pengurus daerah rata-rata berumur 20-30 tahun. Selain itu Partai ini tidak mau bertumpu kepada seorang tokoh untuk mengangkat nama partai, seperti partai politik lain kebanyakan.

Entahlah hari Ini, Partai Solidaritas Indonesia berulang tahun yang ketiga. Saya mengucapkan selamat ulang tahun, semoga spirit anti korupsi dan melawan Intoleransi itu tetap ada dan terus digaungkan. Salam hangat saya untuk Tsamara Amany Alatas dan Grace Natalietalie teruslah tersenyum, aku suka senyum kalian, itu saja. Tidak lebih, takut dilempar Tupperware saya

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Friday, November 17, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: