Tertib Antri

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.MA

Tiap budaya bisa kita ukur level peradabannya lewat budaya antri yang berlaku. Lihat saja bagaimana cara antrinya.

Makin tertib, tidak saling sodok, tidak saling salib, tidak dorong dorongan, maka semakin tinggi level peradabannya.

Sebaliknya, semakin rebutan, rusuh, ribut, dan acak adul, maka semakin udik dan ndeso.

Maka biar tidak terjadi antrian yang berantakan, beberapa instansi sudah menggunakan antrian online.

Jadi secara fisik, kita tidak perlu datang, berdiri dan menunggu lama dengan kesal dan sebal. Cukup secara digital saja antrinya, sementara kita bisa berleha-leha di rumah. Cukup pantau hp saja, kita sudah tahu kira-kira jam berapa giliran kita.

Waktu saya bikin visa ke Jepang Ramadhan lalu, antriannya di Mal Lotte Avenue juga pakai sistem online. Jadi saya bisa ngepasin jadwalnya. Pas nyampe pas giliran masuk. Keren abis lah pokoke.

Sayangnya model antrian kayak gini masih belum bisa kita nikmati secara merata. Jadi di banyak tempat, ternyata kita masih kudu menunggu buang waktu secara fisik.

Masih kalah sama tukang bubur ayam langganan. Antrinya bisa online. Cukup telepon dari rumah, begitu pesanan siap, si tukang bubur kirim WA : Sudah siap nih pesanan buburnya, Om. Silahkan diambil. Mantabs.

Beda dengan tukang bubur yang satu lagi, dia masih rada oon dan ndeso. Dia biarkan para calon pembeli berdiri cengok lama nunggu antrian dilayani. Makin banyak yang antri, kita makin stress. Apalagi kalau sampai ada yang nyodok, bawaannya mau kita timpuk aja.

Mestinya dia buka pesanan online dong. Jadi pas kita datang, langsung dilayani. Dan kita tidak akan datang, kalau belum pas giliran dilayani. Sederhana sekali logikanya.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Saturday, August 3, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: