Tersungkur

Ilustrasi

Oleh : Alois Wisnuhardana

Saya terus terang tertegun membaca berita ini.

Mengapa dan bagaimana kita bisa tersungkur ke dalam arus zaman seperti ini? Zaman di mana pikiran dan imajinasi mengerdil, lalu segala yang kita baca dan lihat mengubur kreativitas dan daya nalar.

Pikiran saya lalu terbang ke masa-masa di mana saya berumur sepertinya. Lalu, pikiran itu membawa saya ke kenangan masa lalu, ketika anak-anak muda sibuk membahas gagasan dan pemikiran orang-orang seperti John Naisbitt, Juergen Habermas, sampai dengan Michel Foucault.

Ada lagi nama seperti Stephen R. Covey yang buku-bukunya masih dijadikan rujukan dan bacaan hingga hari ini. Atau Ali Shariati, Milan Kundera, Naguib Mahfouz, Peter Drucker, Kazuo Shimogaki, Ben Anderson, Hernando de Soto, Abdus Salam, Mohammed Arkoun, Samuel Huntington, Paule Freire, Dom Helder Camara, Anthony Giddens, dan masih banyak lagi. Anak-anak muda zaman itu, diajak untuk membaca pikiran dan gagasan dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda dari ilmu yang ditekuninya, menikmati sastra, dan mengeksplorasi cakrawala berpikir mereka.

Belum lagi pemikiran dan gagasan intelektual dalam negeri seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Dawam Raharjo, Ibrahim Alfian, Sritua Arief, Arief Budiman, Y. B. Mangunwijaya (Romo Mangun), Soedjatmoko, Koesnadi Hardjasumantri, BJ Habibie, Emil Salim, Immadudin Abdurrahim, Jalaluddin Rakhmat, dan seterusnya. Pemikiran dan sepak terjang serta karya-karya mereka didiskusikan di banyak tempat, menyita perhatian anak-anak muda dari kalangan mana saja.

Hari ini, imajinasi anak-anak muda diterbangkan menujuk ke alam gaib, makhluk gaib, barang gaib, dan semacamnya.

Hari ini, anak-anak muda disodori informasi, yang isinya tidak lagi mengajak mereka bertualang ke khazanah pemikiran, melainkan ke kubangan kebencian

Sumber : Status Facebook Alois Wisnuhardana

Sunday, March 4, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: