Terpaksa Mubadzir

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Beberapa bulanan kemarin ada larangan dari pemerintah daerah untuk membuka restoran dan cafe sehubungan dengan adanya wabah. Saya lupa untuk mengecek expiration date atau tanggal masa berlaku bagi persediaan minuman botolan yang ada di gudang seperti juice dan soda. Ketika kemarin ada seorang customer yang mengembalikan sebuah botol Coca Cola yang sudah dibeli karena tanggalnya terlewat sudah. Dan saat saya melihat tanggal yang tertera di semua botol yang ada, rata-rata semua persediaan sudah memasuki masa kadaluarsa.

Mau tidak mau seluruh sisa persediaan yang ada di gudang terpaksa harus dibuang. Ada lebih dari seribu botol dari bermacam merek dan rasa yang dikucurkan ke dalam bak pencucian. Menitik air mata, antara merasa sayang dan juga sambil menghitung kerugian yang telah melayang. Rasanya mubazir, tetapi apa lagi yang hendak dikata, nasi telah menjadi bubur encer yang tidak bisa dinikmati lagi walaupun ditambah dengan ayam panggang.

Sebagian juice apple dan nenas, saya simpan di lemari pendingin untuk nanti dikonsumsi sendiri. Ah, biarin saja kalau tanggal berlakunya sudah lewat barang empat atau lima hari. Saya haqul yakin kalaupun saya minum, insha Allah nga akan menyebabkan sakit perut atau mati. Dasar nga mau rugi, masih ada tersedia dua krat yang akan diminum tiga kali sehari, pagi sore dan malam hari.

Memang para customers di sini selalu jeli untuk melihat tanggal masa berlaku bagi sesuatu yang akan mereka konsumsi. Kadang ada yang keterlaluan hingga menyuruh saya untuk memperlihatkan tanggal yang tertera di galon susu, takut kalau-kalau sudah basi. Apalagi orang Yahudi, sampai minta untuk diperlihatkan kotak bungkusan pengiriman karena sekalian mau melihat ingredientnya apakah nanti dia akan alergi. Kalau sedang sibuk saya cuekin saja, malas untuk melayani orang resek dan dengan lantang berkata 'Sorry, I'm busy..'

Almarhumah nenek dulu selalu marah besar jika kita membuang makanan atau masih ada sisa nasi yang terletak di pinggan. Dia selalu akan merepet dan bercerita tentang susahnya mencari makanan saat dahulu dijajah oleh bangsa Jepang. Bubuk kopi yang sudah tidak jelas rasanya lagi karena selalu diseduh kembali dengan air panas berulang-ulang. Atau kerak nasi yang disimpan dan dikeringkan dengan diberi gula, untuk nanti menjadi camilan.

Beliau biasa menyiapkan sarapan bubur kacang hijau tetapi oleh saudara-saudara saya yang lain sering dibuang karena sudah bosan. Sekali waktu beliau ngambek tiga harian ketika mengetahui tingkah laku mereka, saat mendapatkan sisa bubur kacang hijau berserak di bawah jendela dalam jambangan. Alhasil saya yang membujuk dengan berjanji akan memakan semua jatah mereka jika tidak dihabiskan. Dan selama enam tahun berikutnya hampir setiap hari saya memakan bubur kacang hijau buatan beliau, pagi siang sore dan malam dan herannya sampai sekarang masih juga doyan.

Teringat saat dahulu pernah bekerja di restoran China di sebuah kota kecil di negara bagian Iowa. Setiap pagi, sang chef kepala akan masuk ke dalam ruangan persediaan untuk melihat barang-barang yang akan kadaluarsa. Semua bahan makanan yang disimpan telah diberi label dengan mencantumkan tanggal pembelian atau tanggal pembuatan adonannya. Dan dia mencatat, bahan mana saja yang harus terjual hari itu karena kalau tidak, akan sudah rusak esok lusa.

Sehingga nanti dia akan membuat menu istimewa dengan harga yang spesial, khusus untuk hari itu saja. Misalnya beef broccoli atau chicken mushroom dengan harga jual setengah dari pada yang biasa. Setiap customer yang datang, pasti akan ditawarkan kalau kita ada menu spesial yang harganya dijamin lebih murah. Jadi, jangan pernah membeli 'special today', karena makanan tersebut biasanya dibuat dari bahan-bahan yang nyaris harus musnah.

Tabik.

Sumber : Status facebook B. Uster Kadrisson

Saturday, August 1, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: