Terorisme, Murnikah Gerakannya?

Oleh : M. Ali Amiruddin

Alhamdulillah di sela-sela merawat ibuku tercinta yang kini terkulai lemah di sebuah rumah sakit karena penyakit yang mendera, saya ingin menulis lagi kelanjutan dari artikel saya sebelumnya tentang teroris, bahwa memang saat ini terjadi silang pendapat tentang benarnya teroris itu murni ajaran Islam yang diajarkan oleh baginda Rosulullah SAW, seperti yang saat ini menjadi langkah dan ideologi yang dijalankan oleh ISIS.

Follower ISIS berusaha memaknai ajaran Islam tentang firman Allah yang artinya kurang lebih ‘Dan bagi orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan’ (Q.S. 29 / Al Ankabut : 70).

 Ayat ini menegaskan bahwa barang siapa di antara umat Islam yang ingin berjihad, maka Allah SWT akan memberikan jalannya. Menunjukkan cara yang sebaik-baiknya dalam melakukan jihad itu.

Dengan demikian, siapapun yang ingin berjihad dengan niat karena Allah maka mereka akan mendapatkan jalan terbaik bagaimana melakukannya, dan tentu saja dengan niat yang baik itu, tentu pertolongan Allah amatlah dekat.

 Selaras dengan apa yang dirisaukan oleh umat Islam saat ini, tentang bagaimana memaknai jihad yang sebenarnya, muncul beberapa gerakan yang memicu tindakan kontradiktif yang membuat umat Islam sendiri semakin dibuat gamang, bagaimanakah jihad yang sebenarnya dan diterima Allah, apakah jihad yang sama dengan pola ISIS dalam melakukan peperangan atau memerangi negara-negara muslim yang tak sepaham dengan mereka? Mereka melakukan jihad sesuai dengan pemahaman mereka yang radikal dengan menumpahkan senjata.

Namun, ada sisi lain yang tidak boleh dilupakan , bahwa Rasulullah SAW juga pernah mengalami tekanan dalam berjihad - kategori dakwah bil qouli wal haali - dengan tidak mengerahkan senjata, pun menjadi salah satu pmahaman yang juga menjadi pilihan. Karena selama ini jihad seringkali selalu diidentifikasi dengan gerakan perang dengan siapapun, bahkan sampai detik ini yang turut memicu keanehan di antara kelompok yang mengatasnamakan pejuang Islam itu adalah tidak ada jihad selain berperang. Padahal menurut hemat penulis ada cara lain yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam berjihad, yakni berjihad dengan tauladan, harta, dan dakwah secara intensif ke belahan bumi lain di luar negeri Muslim. Betapa gigihnya Rosulullah dalam berjihad mendakwahkan kebenaran Islam terhadap bangsa Quraish tanpa menggunakan senjata. Meskipun ketika umat Islam kalaitu sudah mndapatkan tekanan dari bangsa Quraish, maka perjuangan Islam pun dengan senjata. Sebuah sikap terakhir ketika ancaman, intimidasi dan kekerasan diterima oleh umat Islam kala itu. Meskipun babak baru selanjutnya muncullah sebuah perjanjian hudaibiyah yang berisi tentang gencatan senjata. Umat Islam dan umat lain hidup berdampingan dengan damai, dan mereka dibolehkan melaksankaan ibadah sesuai dengan ajaran yang dianut tanpa paksaan sedikitpun.

Bahkan jika diruntut berdasarkan catatan sejarah dakwah Islam, sejarah perang itu awalnya tidak pernah digaungkan, tapi muncul pertama kali ketika umat Islam mendapatkan intimidasi dan kekerasan. Pada saat itu Rasulullah SAW mendapatkan wahyu agar melawan tindakan represif umat lain demi mempertahankan diri. Mempertahankan diri dari ancaman non Islam, supaya Umat Islam mendapatkan pengakuan sebagai umat yang berhak untuk dihormati dan diakui serta dibiarkan bebas berdakwah dengan caranya sendiri. Tak perlu lagi adanya intimidasi.

Jadi hakekat perang itu bukan tindakan represif saat ini yang dilakukan oleh ISIS dengan mengatasnamakan Islam, toh ternyata tindakan mereka justru sangat jauh sekali dari esensi perang di jaman Nabi. Nabi tidak mengajarkan tentang bunuh diri (saat ini dengan bom) seperti saat ini yang dilakukan sosok2 kader ISIS, dan Nabi pun melarang umat Islam dalam berperang menggunakan cara-cara massif seperti ISIS lakukan saat ini. Perang yang dilakukan sangat melampaui batas. Mereka melakukan bunuh diri, membunuh para wanita dan anak-anak, bahkan para sandera pun dihabisi dengan cara keji. Amat jauh melenceng dari esensi jihad ala Nabi. Para sandera tidak dibunuh, bahkan mereka diperlakukan dengan amat baik.

 Bagaimana dengan ideologi jihad ISIS saat ini? Sungguh jauh dari esensi jihad yang diharapkan, bukan? Jihad bukan hanya dengan perang, tapi amal sosial pun adalah esensi dari jihad.

 Betapa banyak cara-cara jihad selain perang-yang dipahami sebagai tindakan mempertahankan diri- pun jihad dengan harta, ilmu dan tenaga merupakan esensi jihad. Pun saat ini, umat Islam berada pada posisi terbelakang dari segi ekonomi dan pendidikan tekhnologi, merupakan pekerjaan rumah yang cukup sulit untuk diatasi oleh umat Islam sendiri. Memperbaiki ekonomi dengan menjalankan ekonomi yang Islami sudah mulai diperkenalkan oleh ahli-ahli ekonomi Islam saat ini.

 Bagaimana jihad Islam dengan membangun basis ekonomi syariah ternyata semakin lama diterima oleh masyarakat luas. Dan alhamdulillah ekonomi syariah yang saat ini dikembangkan banyak dinikmati umat Islam dan umat lain di berbagai belahan dunia, khususnya Indonesia.

Ternyata kehadiran ekonomi syariah sebagai manifestasi dakwah ini lebih elok dan arif dikembangkan dalam membangun ekonomi umat daripada ideologi kekerasan seperti yang dicontohkan oleh radikalis ISIS.

Boleh percaya atau tidak, dengan aksi barbar ISIS justru mengundang ketidak percayaan publik terkait esesnsiajaran Islam yang damai ini. Mereka secara tidak langsung menganggap bahwa Islam itu agama kekerasan. Sebuah langkah bodoh yang dilakukan sebagian umat yang mengaku-ngaku Islam dalam menjatuhkan kredibilitas Islam itu sendiri. Selain membangun sistem ekonomi syariah, melaksanakan jihad dengan mengembangkan ilmu pengetahuan seperti para tokoh sains terkemuka islam lainnya menunjukkan bahwa Islam selalu sejalan dengan kemajuan teknologi di masa kini. Berbeda dengan ISIS yang justru merusak citra Islam dengan aneka tindakan kekerasan yang saat ini menjadi motif gerakannya.

Entahlah, yang patut diduga, justru ISIS sebenarnya digerakkan oleh orang2 yang anti Islam dan memanfaatkan umat Islam lainnya sebagai pion untuk memuluskan rencana jahatnya menghancurkan Islam itu sendiri.

Dan sukses, saat ini banyak umat Islam yang percaya dengan tanpa kritis bahwa Islam identik dengan perang. Muncullah sosok-sosok yang tak berhati nurani seperti Bahrun Naim (benarkah ia muslim?) yang mengaku-ngaku sebagai salah satu jihadis Islam yang berafiliasi dengan ISIS. Sungguh tindakan yang kontra produktif dan memalukan.

Benarkah ISIS dibentuk dan dibiayai Amerika? Pertanyaan ini pun boleh jadi sampai saat ini masih menggelayut dalam pikiran umat Islam. Terkait keterlibatan AS dalam gerakan radikalisasi ISIS. Seperti yang disampaikan Hilary Clinton beberapa lalu di ranah lini massa.

Entah, benarkah ini sebuah strategi AS sendiri yang ingin Islam semakin jatuh kelembah kehancuran lantaran kemajuan Islam semakin pesat? Mereka memanfaatkan anak2 muda Muslim yang cerdas menjadi barisan ISIS yang ternyata justru memerangi umat Islam pula. Entah benar atau tidak, yang pasti ISIS benar-benar bukan Islam, dan memang sepertinya digerakkan tangan-tangan keji untuk menghancurkan umat. Tak hanya Islam yang dijadikan bumper, karena ada umat lain yang turut menjadi korban.

Yang pasti, yang hak itu tetap hak dan batil tetaplah batil. Meskipun ISIS menggunakan label Islam sebagai cara mendapatkan legalitas atau pembenaran tentang gerakan kekerasan mereka, maka lambat laun Allah SWT pasti akan menunjukkan siapa sebenarnya ISIS ini. Dan sebagai umat Islam kita mesti waspada dan mawas diri bahwa ada cara lain yang mestinya kita lakukan dalam melakukan dakwah selain melakukan kekerasan yang sama sekali jauh melenceng dari esensi Islam yang sebenarnya.

 

 

Sumber : Kompasiana

 

Thursday, January 21, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: