Terorisme dan Tafsir Ala Azzam

ilustrasi

Oleh : Makinuddin Samin

Pernah mendengar pernyataan Hasyim Yahya yang menyebutkan bahwa muslim yang baik adalah menjadi teroris? Sumber penceramah itu adalah tafsir Abdullah Azzam, bapak jihadis dunia. 

Azzam menyebut irhabiyah (terorisme) adalah salah satu bentuk jihad di jalan Allah. Ideolog para jihadis itu menganggap al-Quran memerintahkan orang-orang Islam melakukan teror terhadap orang-orang kafir.   

Mentor Osama bin Laden itu mengutip QS al-Anfal ayat 60 untuk membenarkan pandangannya. Bunyi ayat itu “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan kuda yang dapat menggetarkan musuh Allah dan musuhmu…” Seperti dikutip oleh Salahudin dalam buku “NII Sampai JI: Salafi Jihadisme di Indonesia”, Azzam menafsir ayat itu dengan kalimat “Terorisme (irhab) untuk musuh merupakan salah satu fondasi Islam. Barangsiapa menyangsikan kefardluan/kewajiban meneror musuh, maka dia termasuk kafir.” 

Tafsir Azzam ini dipertegas di berbagai khutbah, makalah, maupun buku-buku yang ditulisnya, yang terhimpun dalam “Tarbiyah Jihadiyah”. Berikut ini sebagian doktrin-doktrin Azzam dalam buku edisi Indonesia setebal 2.300-an halaman itu: 

1. Jilid ke-9 sub-judul “Jihad adalah Qital/membunuh”, “Rezeki di bawah Bayangan Tombak”, “Qital Merupakan Kebutuhan”, dan “Nilai Pedang”. Azzam menyebut bahwa gerak perjuangan agama Islam hanya melalui jalan membunuh, “Pedang di satu tangan dan Al-Quran di tangan yang lain,” katanya.

2. Jilid ke-2 sub-judul “Dinamika Sejarah Islam Bergantung kepada Jihad” Azzam mengatakan bahwa jihad harus didahulukan dari pada shalat, puasa, zakat, haji, dan kewajiban lainnya. Pada jilid yang sama Azzam juga mengulang-ulang kalimat “Sesungguhnya surga itu berada di bawah bayangan pedang.”

3. Jilid ke-15 sub-judul “Tidak ada Tauhid tanpa Pedang” dia mengatakan “Sungguh sejak awal agama ini diperjuangkan di atas tumpukan tengkorak manusia. Kemuliaan agama ini, keperkasaannya, dan bangunan negaranya benar-benar ditegakkan di atas potongan tubuh manusia.”

4. Jilid ke-2 sub-judul “Pengalaman Jihadku” Azzam mengatakan “Barang siapa yang mati padahal dia belum pernah berperang atau berniat untuk perang, maka dia mati dalam keadaan munafik.”

Azzam sendiri bukan ahli tafsir, dia lulusan sekolah pertanian, master bidang syariah, dan doktor bidang fiqih. Namun tafsirnya terhadap ayat-ayat al-Quran justru menjadi doktrin yang kuat bagi para jihadis, termasuk para jihadis di Indonesia. Latar belakangnya sebagai aktivis dan politisi gagal dari Ikhwanul Muslimin Palestina lebih dominan dalam menafsir ayat-ayat al-Quran dibanding latar belakang akademisnya. 

Benar kata Ignas Goldziher dalam "Madzab Tafsir" (Madzahib al-Tafsir al-Islami) bahwa penafsiran bukan hanya melibatkan para ulama, juga orang-orang bodoh yang menyebabkan perselisihan, pembunuhan, dan pembegalan. Menafsir yang awalnya dilakukan untuk menjaga keutuhan teks seiring waktu bercampur dengan usaha untuk menundukkan al-Quran demi kepentingan kelompok dan individu. Bagi mereka, teks suci bukan hanya sebagai sumber harapan, juga menjadi senjata perang yang mematikan!

Sumber : Status Facebook Makinuddin Samin

Wednesday, April 7, 2021 - 14:30
Kategori Rubrik: