Terorisme dan Radikalisme

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Aksi teror dan kekerasan bukan hanya terjadi di Turki tapi juga bisa terjadi di negara di mana sistem keamanan sudah solid , seperti Amerika dan Eropa. Mengapa itu bisa terjadi ? Bukankah hidup jadi tidak aman. Karena bisa saja tanpa kita sadari di sekitar kita ada pembunuh berdarah dingin untuk dengan tenang membunuh hanya karena perbedaan pandangan politik. Sebetulnya ini konsekwensi dari sistem demokrasi. Di negara manapun , sekuat apapun sistem keamanannya, selagi menganut sistem demokrasi terbuka maka akan sangat mudah di teror oleh mereka yang tidak seiring dengan penguasa.

DI china dengan penduduk lebih dari 1 miliar orang, hampir tidak pernah terdengar teror. Mengapa ? Mereka menerapkan sistem demokrasi namun seleksi kepemimpinan dan suksesi di design oleh elite politik partai Komunis walau penentuannya di lakukan lewat pemilu tidak langsung. Ada juga Iran, walau penentuan pemimpin di lakukan secara langsung namun seleksi calon pemimpin di tentukan oleh elite politik. Yang jelas kedua negara tersebut menganut demokrasi terpimpin. Demokrasi atas dasar kepemipinan nasional yang dijaga ketat lewat idiologi yang hanya tunggal.

Sebetulnya demokrasi terpimpin dan Monarki tidak jauh berbeda. Hanya perbedaan terlatak pada sistem kekuasaan. Kalau Monarki kekuasaan adalah tunggal, sementara demokrasi terpimpin kekuasaan secara kolektif. Sistem ini sangat sulit ditembus oleh idiologi lain. Perbedaan di haramkan dan dianggap makar. Apapun harus sejalan dengan penguasa. Makanya gerakan radikalisme di negara tersebut tidak bisa hidup. Mengapa ? Karena UU mereka keras sekali. Siapapun yang di curigai boleh di tangkap tanpa harus di adili secara terbuka.

Namun dengan terpilihnya Trumps sebagai Presiden AS maka arah politik AS lebih mengutamakan ekonomi untuk kepentingan nasional . Geopolitik AS tidak lagi bertujuan hegemoni tapi kerjasama. Geostrategis bertumpu pada mutual simbiosis. Apalagi dengan di tunjuknya Steven Mnuchin, trader hedge fund legendaris dari Goldman Sachs sebagai menteri keuangan maka semakin jelas arahnya adalah kemitraan global dengan tujuan ekonomi semata. Issue China, Rusia, AS incorporation semakin menguat dan cepat di sambut.

BIla China, Rusia, AS bersatu maka tentu mereka tidak membutuhkan lagi proxy menciptakan ketidak sabilitan wilayah agar mendapatkan keuntungan geopolitiknya. Kedepan kelompok radikal lambat namun pasti akan hilang dengan sendirinya. Karena tidak ada lagi dana yang mengalir ke mereka. Di Indonesia sekarang operasi membungkam kelompok radikal sedang berlangsung efektif, dengan di temukannya penyandang dana. Apabila UU ormas, UU anti teror, UU Pemilu, selesai di revisi maka kemungkinan kita akan menjadi negara demokrasi terpimpin. Tentu DPR mendukung. Dunia butuh stabilitas agar kelangkaan sumber daya dapat di kelola bersama. Yang mau ribut kelaut ajalah...

 

(Sumber: Status Facebook Erizeli)

Wednesday, December 21, 2016 - 01:00
Kategori Rubrik: