Teroris Tak Bisa Dikasih Hati, Saatnya Negara Tegas

Oleh : Tomi Lebang

Sepuluh tahun lalu, sekelompok orang yang diduga teroris ditangkap di Sumatera Selatan. Mereka lalu ditahan di Markas Komando Brimob di Palembang.

Seorang jenderal polisi dari tim antiteror turun tangan melakukan interogasi terhadap seorang dari terduga teroris yang baru ditangkap itu.

Ingin menunjukkan niat baik dan melakukan pendekatan lunak (soft approach), sang jenderal polisi membiarkan si terduga teroris dalam keadaan bebas dengan tangan tanpa borgol. Di ruangan itu pun hanya ada mereka berdua. Polisi berharap dengan perlakuan yang manusiawi, orang itu tak merasa diinterogasi. Mungkin bisa diajak berbicara dari hati ke hati.

Tak disangka-sangka, di tengah proses interogasi, si terduga teroris tiba-tiba bertingkah: ia berusaha merebut senjata api sang jenderal. Mereka sampai bergumul rebutan senjata.

Untunglah, keributan itu terdengar polisi lain yang berjaga di luar ruangan. Insiden itu teredam dan tak diketahui khalayak.

Hari ini, cerita itu diungkap Harian KOMPAS di halaman muka. Surat kabar ini terbit dengan sampul berwarna hitam sebagai ungkapan duka cita atas peristiwa kemarin di ruang tahanan Mako Brimob Polri di Depok.

Sumber : facebook Tomi Lebang

Friday, May 11, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: