Teror ISIS dan Penusukan Wiranto

ilustrasi

Oleh : Mujahidin Nur, Pengamat Terorisme

Pesantren Matlaul Anwar, Banten adalah Pesantren yang sangat familier bagi saya. Pertama, karena dua kakak saya bersekolah dan mendapatkan ijisah MA dari Ponpes Mathlaul Anwar. Kedua karena Ramadhan 2017, saya di undang untuk mengisi kegiatan Ramadhan oleh salah satu keluarga pendiri pesantren Mathlaul Anwar, Menes, Pandeglang yang juga kebetulan kakak kelas dan teman dekat saya sewaktu di al-Azhar University, Kairo Mesir.

Karenanya, ketika Pak Wiranto diundang ke Mathlaul Anwar untuk meresmikan gedung Kampus UNMA (Universitas Mathlaul Anwar), melalui pesan Whatsapp saya mengucapkan selamat kepada teman dekat saya yang sekarang menjadi dosen di UNMA, seraya mendoakan semoga Mathlalul Anwar senantiasa menjadi mercusuar dakwah, keilmuan dan pembanguan peradaban Islam di Indonesia.

Beberapa jam sesudah komunikasi singkat saya dengan teman saya, beredar kabar di media masa Pak Wiranto ditusuk oleh sajam (senjata tajam) ketika beliau berjalan menuju haly pad di pintu Gerbang alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Kec Menes didampingi oleh Kompol Daryanto, SH, MH (Kapolsek Menes), keluarga besar Pesantren dan H Fuad.

ISISER Indonesia asal Medan Syahril Alamsyah alias Abu Bara, pedagang Cilok yang mengontrak di Menes bersama isteri pernikahan ketiganya Fitri Andriana binti Sunarto asli Brebes, merupakan pelaku penusukan itu.

Abu Rara menikah dengan isteri pertamanya Kanti Netta pada tahun 1995, namun pernikahan mereka cuman berjalan tiga tahun sebelum akhirnya mereka bercerai, paska percerain Abu Rasa dengan Kanti Netta karena prustasi dia sering ikut taruhan judi togel dan mengkonsumsi puluhan pil kutrak.

Abu Rara pun pernah mencari peruntungan dengan bekerja di Malaysia selama lima bulan, sejak di Malaysia inilah penampilan Abu Rara mulai berubah. Sepulang dari Malaysia, Abu Rara kemudian melakukan pernikahan dengan Yuni, gadis dari Deli serdang. Pernikahan ini tidak disetujui oleh orangtua Yuni sehingga Yuni diambil paksa oleh orangtuanya bahkan orangtua Yuni melaporkan Abu Rara ke kepolisian atas tuduhan membawa lari anak orang sehingga membuat Abu Rara dipenjara selama tiga bulan.

Pada 2015, Abu Rara menikah dengan Fitri, ketika bersama Fitri Abu Rara sudah aktif menjadi pendukung kekhalifahan kontroversial ISIS, Abu Bakar al-Baghdady, mereka pun pernah bergabung dengan sel ISIS Kediri, kemudian pindah ke Bekasi dan bergabung dengan sel ISIS Bekasi untuk kemudian berpindah ke Menes sekitar setahun yang lalu atas rekomendasi tokoh ISIS Banten, sambil mereka meneruskan profesinya menjadi penjual Cilok dan sesekali berjualan tiket.

Anak-anak ISIS di seluruh dunia, termasuk di Indonesia sebenarnya mereka frustasi, kebingungan dan tidak tahu 'jihad' apa yang harus mereka lakukan ; kekhalifahan kebanggaan mereka hancur, khalifah mereka Abu Bakar al-Baghdadi menghilang bersembuyi atau disembunyikan oleh tentara Amerika di sebuah gurun pasir tandus di perbatasan antara Suriah dan Iraq. Namun anak-anak ISIS dengan ideologi takfir (pengkafiran) dan Tafjir (pemboman) yang sudah menyebar ke tengah masyarakat kita masih memuja-muja Khalifah mereka yang disembunyikan oleh Amerika itu. Mereka saling terkoneksi antara satu sel dengan lainnya melalui media sosial, saling mengarahkan untuk melakukan pembunuhan terhadap anthog (anhsoru thogut), istilah yang mereka pakai untuk menamai aparatur pemerintah, berbagi video 'jihad', dan saling memviralkan nasehat khalifah mereka yang hilang itu.

Lebih parahnya lagi dalam kebingungan mereka juga kehilangan panutan karena tidak ada orang alim (berilmu) di tengah mereka. Sehingga tidak ada orang yang bisa mereka mintai pendapat. Ditengah kebodohan mereka itu, mereka berijithad sendiri bagaimana membajak 'jihad' dan agama mereka bergerak melakukan lone wolf, melakukan penyerangan sendirian (tunggal) seperti dilakukan oleh Syahril Alamsyah dan isterinya Fitri Andriana di Menes kemarin.

Dalam akidah kelompok takfiriyah (suka mengkafirkan orang lain) khawarij ISIS, Pemerintah, aparatur sipil negara (PNS), legislator, Polisi, Hakim, dan Jaksa semua adalah orang-orang kafir bagi mereka. Halal darahnya untuk membunuh mereka dengan cara apa pun; di bom, ditembak atau ditusuk dengan pisau, gunting atau apa pun seperti yang dilakukan oleh Abu Bara dan isterinya Fitri Andriana.

Di tenga musibah penusukan oleh teroris pendukung ISIS, sungguh miris sekali ketika sebagian masyarakat kita menuduh bahwa kejadian penusukan itu hanyalah pengalihan isu, sebagian membuat foto editan bahwa penusukan itu rekayasa, sebagian lagi menyebarkan berita hoaks tanpa berpikir akibat dari perbuatannya. Entah apa yang ada di benak mereka ketika mereka menyebarkan fitnah dan hoaks tanpa mereka berpikir azab Allah dari apa yang mereka lakukan itu.

Tidakkah mereka tahu di dalam al-Quran Allah SWT menggandengkan dua larangan sekaligus yang dosanya sama-sama besar yaitu larangan menyembah berhala yang najis dan larangan berkata (menyebarkan) dusta (hoaks) sebagaimana penegasan Alquran surah al-Hajj ayat ke-30. Artinya, dosa hoaks berada di bawah level dosa kemusyrikan kepada Allah Swt. Disamping Allah memperingatkan para penyebar kebohongan (hoaks) akan mendapatkan murkan Allah baik itu di dunia maupun di akhirat (QS an-Nur :19)

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. ***

Sumber : Status Facebook Biru Laut

Saturday, October 12, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: