Terompet, Riwayatmu Kini

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

Pagi2 saya udah ngakak baca berita ini. aduh ibu hal2 remeh temeh dibahas. menghimbau warga begini amat. aya-aya wae si ibu mah.

Entah apa yang merasukimu? Sekelas bupati kok ngurusi terompet. emang gak ada kerjaan lain ya.

Pemimpin itu seharusnya menjadi panutan bukan tambah mempersulit rakyat nya terutama pedagang kecil yang mengais rejeki untuk menafkahi keluarganya.

Belli terompet dibeli dengan uang sendiri, tiup terompet pake mulut sendiri, kenapa mesti dilarang?

Tiup terompet itu cuma buat seru2an aja menyambut pergantian tahun. Sama sekali gak merusak akidah.

Daripada menghimbau gak boleh tiup terompet, lebih baik tertibkan tuh prostitusi terselubung dan kawin kontrak di puncak karena bisa merusak generasi bangsa.

Prostitusi dan kawin kontrak dibiarkan. Sementara tiup terompet malah dilarang. Aduh bu, logikanya kebolak balik.

Pantesan negara ini semakin mundur kebelakang, terpuruk dan tertinggal dari negara maju lainnya, karena mental dan cara berpikir pejabatnya semakin ngawur.

Padahal pejabat atau kepala daerah yang ada di Republik ini berpendidikan dan bergelar tinggi mulai dari S1, S2, S3, tapi semakin jongkok cara berpikir nya.

Jadi bupati kok gak mikir. Yang jual terompet itu masyarakat kecil. kesempatan nambah penghasilan kok malah warganya dilarang niup terompet dan tidak membolehkan membeli terompet.

Soal terompet saja anda sampe buat himbauan konyol. Coba ibu piknik ke puncak dan tertibkan itu soal prostitusi dan kawin kontrak yang terselubung. Janganlah ibu menutup mata soal begitu karena banyak warga timur tengah yang bermukim disana.

Coba ajak sekalian dari pihak Imigrasi dan kependudukan untuk mendata soal ijin tinggal mereka dan soal ijin usaha mereka khususnya warga timur tengah.

Kalo pun ibu gak suka tiup terompet, bukan berarti harus melarang orang lain yang suka apalagi sampai melarang tiup terompet karena itu perbuatan zholim.

Beginilah hasil dari mabuk agama, pejabat publik pun kadang gak bisa paham esensi sederhana soal begini. Sungguh miris dan memprihatinkan tidak ada sikap kebajikan.

Pemimpin yang salah kaprah dan membuat peraturan sendiri, seharusnya harus ada teguran dari pihak terkait atasan kepimpinan orang seperti ini. Kalo dibiarkan akan muncul sikap yang sama dengan membuat kebijakan konyol.

Pesan Moral:

Pemimpin yang hebat itu seharusnya menjadi contoh, teladan, mengayomi dan memberikan semangat, optimisme, keyakinan, keberanian tanpa merendahkan dan mempersulit rakyatnya.

Jadilah pemimpin yang mempunyai kepribadian yang disegani, bukan gila ingin dihormati.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

 

Saturday, December 28, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: