Terobosan Nadiem Atau Jokowi?

ilustrasi

Oleh : Joseph H Wenas

Dari Part 5 narasi di "Mata Najwa" selama 10 menit ini kita bisa tahu kalau Nadiem itu sedang membawa terobosan besar di dunia pendidikan Indonesia. Selama 10 menit ini kita akan lihat komentar yang merepresentasikan paradigma lama yang kontra, versus komentar soal paradigma baru dari mulut Nadiem sendiri.

Siapapun yang paham “revolusi digital modern” akan tahu POP-nya Nadiem itu adalah juga “audit terukur” sekaligus kapitalisasi “big data dan AI” yang bisa digunakan sebagai bahan pengembangan strategi pendidikan modern kita. Namun, sebaliknya kita bisa paham apa artinya hal ini bagi “kaum tradisionalis” yang selama puluhan tahun “menguasai” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam 10 menit ini kita juga bisa melihat contoh-contoh kontras antara cara pandang lama tentang strategi pendidikan yang cenderung statis, cenderung serba lama dan susah berubah, vis-à-vis cara pandang baru yang memandang strategi pendidikan secara dinamis, cenderung serba cepat dan gampang berubah.

Setelah Nadiem meminta maaf, dan mereka tetap tidak mau bergabung di POP, maka wajar bila muncul dugaan adanya motif lain dibalik gempuran tiga organisasi besar itu soal POP- ini.

Tidak ada satu pun mereka yang kontra menunjuk dimana jeleknya atau lemahnya progam POP an sich. Mereka hanya keberatan dengan keterlibatan serta privilese pihak-pihak non-tradisional.

****

Sudah beberapa tahun belakangan ini, sekolah-sekolah Katolik yang dulu terkenal unggul dalam hal strategi pendidikan pun mengakui tantangan-tantangan sulit yang muncul akibat “revolusi digital modern” ini.

Tetapi seorang Nadiem justru bisa melihat peluang bagaimana kurikulum sebagai salah satu hal yang selama ini paling sulit untuk diubah bisa “dengan mudah” disesuaikan thanks to Covid-19.

Pemimpin berusia muda itu rahmat bagi sejarah perjuangan bangsa ini. Kemerdekaan bangsa ini adalah atas jasa besar orang-orang muda kita di masa itu.

Soekarno jadi Presiden RI di usia 44 tahun. Hatta jadi Wakil Presiden RI di usia 43 tahun. Sutan Sjahrir jadi Perdana Menteri RI yang pertama di usia 36 tahun, dan justru menjadi arsitek diplomasi pengakuan kemerdekaan RI yang sangat, sangat, sangat gemilang-- sebagai antithesis strategi Tan Malaka dan kaum militer yang maunya perang melulu.

Kakek Nadiem, Hamid Algadri, adalah pejuang Perintis Kemerdekaan RI yang aktif di perundingan Linggarjati pada usia 35 tahun, ya, seusia Nadiem sekarang. Algadri juga terlibat dalam perundingan Renville dan Konferensi Meja Bundar dimana Belanda pada akhirnya mengakui kedaulatan RI.

Hamid Algadri itu kadernya Sutan Sjahrir, sama seperti Soemitro Djojohadikusumo ayahanda Prabowo Subianto. Lingkaran anak-anak muda cemerlang pada masa itu.

Kalau Anda jeli, pada setiap acara HUT Gerindra selalu ada foto Sutan Sjahrir terpampang diantara tokoh-tokoh bangsa lainnya. Anda bisa melihat jalinan hubungan-hubungan ideologis kebangsaan pada kabinet Jokowi kali ini kan?

Lha, sekarang kok ada "orangnya Sjahrir" di posisi yang selama puluhan tahun menjadi "hak tradisional" kekuatan-kekuatan sosial-politik kemasyarakatan tertentu.

Siapa sih yang punya kuasa tarok Nadiem di situ? Kontroversi-kontroversi Nadiem adalah bukti bahwa apa yang sedang diupayakan anak muda cemerlang ini memang terobosan-terobosan tulen. Kalau tidak ada kontroversi, adam ayem saja, pasti itu bukan terobosan.

Itulah sebabnya Nadiem tidak akan dicopot oleh yang punya kuasa untuk mencopot, yang selama ini memang menginginkan terobosan.

Sumber : Status facebook Joseph H Wenas

Monday, August 10, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: