Ternyata Tak Perlu Berprasangka Baik pada Dwi Estiningsih

Oleh: Istiqomatul Hayati
 

Kemarin, saya sudah memutuskan sudah cukup membully Dwi Estiningsih. Apalagi dia selalu mengatasnamakan anaknya yg disebutnya berusia 35 hari. "saya akan bawa anak saya yg baru berusia 35 hari ke polisi." saya tahu, itu cara dia mencari simpati. Setelah mencuit bodoh soal pahlawan kafir, tidak berjilbab dan melukai sebagian besar masyarakat Indonesia, ia menggunakan bayinya untuk menarik simpati. Murahan memang. Norak banget. Tapi itu efektif menggugah perasaan orang walo masih misuh2. Saya minimal memutuskan menyudahinya seharian tadi.

Eeee.... Iseng2 buka fbnya yg dia bikin fan page (duileeeee njonru banget sih lo, niat banget nyari duit dgn menyebar kebohongan dan membakar ketidaktahuan masyarakat dgn sentimen sara) hari ini. Dyaaaaarrrr...... Orang begini kok hidupnya ngenes banget, ga berharga banget jadi orang....

Setelah serangan bertubi2, saya pikir akan membuatnya menarik diri dari keriuhan terus berpikir soal kedunguannya. Lha jebul aku terlalu berprasangka baik sama dia. Lha jebul dia masih merasa tidak salah. Dan ucapannya tidak membully siapapun ( ucapan lo itu memang tidak membully, tapi sudah tahap melukai cuk). Ia juga bilang apa yg dia cuitkan itu sebagai tanda kecintaaanya kepada negara, sikap kritisnya (duh, tai bener cewek ini). Dan dia membantah akan menemui para pelapornya untuk minta maaf serta menarik belas kasihan si pelapor agar mencabut laporan.

Ini artinya ya memang tidak ada introspeksi dari dirinya atas kegaduhan dan perpecahan yg dia lakukan demi mencari duit. Hina sekali cewek ini. Dan sebenarnya, kalo menilik fb suaminya yg arsitek dari kampus 'kafir' seperti istilah yg dia lekatkan untuk menyebut bukan Islam itu, tindakan bodoh bininya itu atas restunya. Lha wong malah memuji bininya sebagai ibu pejuang yg mendidik anak2nya. Jujur saya kasihan dgn anak2nya, pendidikan macam apa yg diberikan pasangan hina ini, mereka dididik dgn kebencian dan kebodohan. Lebih kasihan lagi kepada bayi yg diperalatnya untuk menarik simpati. Asupan gizi ASI itu ditambahi kebencian kepada sesama. Semoga anak2 itu nanti ada yg menyelamatkan.

Note: maaf ya untuk pisuhan2 yg ikut nongol

 

(Sumber: Status Facebook Istiqomatul H)

Saturday, December 24, 2016 - 11:45
Kategori Rubrik: