Terkenal itu Karena Prestasi Bukan Sensasi

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Sepertinya Indonesia gak pernah kekurangan stok perempuan cerdas berprestasi hingga diakui dunia. Perempuan-perempuan ini bisa dikatakan tangguh bekerja berkarya dan memberi kontribusi nyata yang positif bagi kemajuan bangsa. Saya gak akan sebut satu persatu karena khawatir ada yang terlewat tidak disebut (saking banyaknya dan lupa).

Bedakan dan bandingkan dengan yang terkenal karena sensasi ya. Pekerjaannya tidak lain hanya membangun opini negatif dan menyebarkannya dengan tujuan menggiring opini masyarakat agar terhasut kemudian marah dan demo. Mudah mana? Jelas tidak mudah menjadi terkenal karena prestasi. Klo sekadar bikin sensasi sih mudah banget.

Untuk jadi berprestasi itu harus melalui proses yang tidak mudah, diantaranya: tertib, disiplin dan tanggungjawab. Harus pula memiliki kepribadian ulet, berani, mau belajar dan terus belajar, selalu optimis, semangat serta tidak berputus asa. Sebaliknya sensasi hanya butuh sebuah narasi yang negatif, sama sekali tidak sulit dan tanpa perlu ada tanggung-jawab.

Karena mereka yang penuh sensasi itu tidak pernah berani menghadapi konsekuensinya dari apa yang sudah dilakukan. Konsekuensi dari sensasi tentunya adalah cibiran, persekusi hingga pelaporan menjadi sebuah perkara hukum. Sedang prestasi itu ganjarannya adalah apresiasi. Diberi apresiasi karena prestasi tentu tidak mudah.

Artinya, tanggungjawab untuk membuktikan diri semakin tinggi. Dan apresiasi sekaligus sebagai pelecut agar lebih baik lagi, setidaknya dipertahankan. Perempuan Indonesia yang cerdas dan berprestasi kali ini adalah Nicke Widyawati, Direktur Utama PT Pertamina. Nicke tercantum nomer 16 dari 50 Most Powerful Women International tahun 2020 versi Majalah Fortune.

Menurut Fortune, mereka adalah perempuan eksekutif perusahaan terkemuka berskala global yang mampu bertahan dan bangkit di masa pandemi covid-19. Deretan perempuan tangguh tersebut umumnya muncul dari perusahaan sektor pertambangan, baja, minyak dan gas hingga startup yang tumbuh paling cepat, paling inovatif dan bernilai tinggi.

Nicke memenuhi kedua kriteria di atas. Perusahaan yang dipimpinnya juga tengah terimbas pandemi COVID-19 sekaligus bergerak di bidang yang biasanya didominasi pria. Sebagai Dirut Pertamina, Nicke mendapat tanggung jawab yang besar. Ia harus mengawasi perusahaan dengan pendapatan tahunan lebih dari US$ 54,6 miliar dengan 32.000 karyawan di seluruh dunia itu agar tetap stabil.

Wanita kelahiran Tasikmalaya, 25 Desember 1967 itu berlatar belakang insinyur dan sudah memimpin perusahaan pelat merah tersebut sejak 2018. Ia menggantikan pendahulunya, Elia Massa Manik yang diberhentikan di tengah upaya restrukturisasi. Ia kemudian dipercayakan menjadi pimpinan Pertamina untuk mentransformasi menjadi perusahaan induk dengan anak perusahaan terbuka selama 2 tahun ke depan.

Namun, dalam perkembangannya, pandemi COVID-19 membawa dampak cukup dalam buat Pertamina. Sebelum menjabat sebagai Dirut Pertamina, Nicke lebih dulu menjabat sebagai Direktur SDM Pertamina dan pernah menjabat sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1 PT PLN (Persero).

Sebelum itu, Nicke juga pernah dipercaya sebagai Direktur Utama PT Mega Eltra yang merupakan kontraktor listrik di lingkungan holding PT Pupuk Sriwijaya. Lalu, juga menjadi Direktur Bisnis di PT Rekayasa Industri (Rekind) dan Vice President Corporate Strategy Unit (CSU) di perusahaan yang sama. Well, semoga makin banyak lagi perempuan Indonesia yang perkasa, cerdas dan berprestasi untuk negeri. (Awib)

Sumber : Status Facebook Nicke Widyawati

Monday, October 26, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: