Terkait Vaksin Nusantara, Jangan Mudah Terprovokasi

ilustrasi
Oleh : Agung Wibawanto
Belakangan banyak berita tidak sedap terkait vaksin covid 19. Sejak kemunculan vaksin nusantara beberapa waktu lalu, muncul spekulasi entah siapa yang menghembuskan seolah vaksin Nusantara yang produk dalam negeri ditolak pemerintah sementara vaksin dari China diterima. Bahkan lebih sadis lagi dikatakan adanya mafia jual-beli vaksin. Hal seperti ini biasanya muncul dari kelompok yang percaya teori konspirasi.
Lantas seperti apa sebenarnya? Agar tidak menjadi spekulasi yang makin liar dan menimbulkan fitnah, berikut berita rangkuman dari berbagai sumber: Menanggapi munculkan Vaksin Nusantara, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban memberi apresiasi atas inovasi baru dalam memecahkan masalah pandemi virus corona.
Sampai saat ini ia mengaku belum menemukan publikasi data di jurnal ilmiah terkait vaksin tersebut, meski akan memasuki uji klinis tahap 2. "Kalau ada penelitian-penelitian baru, saya mendukung dan tertarik banget. Namun sebagai dokter, kita harus bicaranya terbuka mengenai data ilmiahnya," kata Zubairi kepada media, Jumat (19/2/2021).
"Sel dendritik ini kan sejak beberapa tahun lalu sudah dipikirkan untuk mengatasi kanker. Namun mengatasi penyakit infeksi saya baru denger sekarang. Jadi ini memang hal yang menarik," sambungnya. Vaksin Nusantara yang inisiasi mantan Menkes Terawan Agus Putranto, memulai tahap uji klinis kedua di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Kariadi Semarang, Selasa (16/2).
Vaksin Nusantara diharapkan dapat disuntikkan kepada peserta vaksinasi dengan penyakit penyerta atau komorbid. Dilansir dari pemberitaan Kompas.tv, pada uji klinis tahap pertama vaksin Nusantara sudah diuji coba kepada 27 orang. Dalam pengembangannya, vaksin ini dikerjakan oleh Universitas Diponegoro Semarang, bekerja sama dengan perusahaan Aivita Biomedical Inc asal Amerika Serikat.
Mengenai uji klinis vaksin Nusantara, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, bahwa sampai saat ini belum ada pembahasan terkait penggunaan vaksin Nusantara. Sebab sebelumnya telah diputuskan bahwa program vaksinasi akan dilakukan dengan menggunakan 7 vaksin yang telah melalui uji klinis tahap akhir.
Sedangkan vaksin Nusantara baru memasuki tahapan uji klinis tahap 2. "Sampai saat ini ada 7 vaksin seperti dalam Kepmenkes 9860 ya," kata Nadia, saat dihubungi media, Rabu (17/2). Adapun 7 jenis vaksin tersebut di antaranya: PT Bio Farma (Persero); Astra Zeneca; Sinopharm; Moderna; Pfizer Inc; BioNTech; Sinovac Biotech Ltd. Selain dari ke tujuh tersebut maka belum dapat diberikan pada peserta vaksinasi.
Sedangkan untuk program vaksinasi nasional, sampai saat ini pemerintah tetap mengunakan vaksin Sinovac. Selain vaksin Nusantara yang dipelopori oleh Terawan, Undip dan RS Kariadi Semarang, sebelumnya Indonesia juga mencanangkan vaksin Merah Putih yang dikembangkan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, PT Kalbe Farma, dan PT Biofarma.
Kepala LBM Eijkman, Prof. dr. Amin Soebandrio, PhD, SpMK(K) menjelaskan bahwa sampai saat ini vaksin Merah Putih masih dalam tahap riset and development (RND). "Saat ini masih dalam tahapan RND ya. Jadi diharapkan nanti akhir Maret kami baru bisa menyerahkan bibit vaksinnya ke Bio Farma. Setelah itu baru dilanjutkan dengan uji pra klinik, uji klinik fase 1, 2, dan 3," jelas Amin, saat dihubungi, Rabu (17/2).
"Nanti setelah selesai tahapan RND, baru masuk tahapan industri, itu nanti di bawah kendalinya Bio Farma," tambah Amin. Mengenai pengawasan pengembangannya, LBM Eijkman juga harus mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Tentu sekarang sudah ada pembicaraan dengan Badan POM, MUI, segala macam untuk memastikan porses itu sudah sesuai sehingga nanti proses berikutnya tinggal masuk ke skala industri dan uji klinik," terang Amin. Ia berharap awal tahun 2022 vaksin Merah Putih akan selesai uji klinik.
Intinya, vaksin nusantara belum digunakan karena memang belum selesai uji klinisnya. Sementara masyarakat sudah sangat segera membutuhkan vaksin. Pada waktunya, seperti juga vaksin merah putih (jika sudah keluar izin dari BPOM) maka pasti akan manfaat. Bisa digunakan sendiri ataupun diproduksi lalu dijual ke negara lain. Jangan mudah terprovokasi oleh spekulasi liar politisi, apalagi menuduh tanpa bukti. (Awib)
Sumber : Status facebook Agung Wibawanto
Saturday, February 27, 2021 - 14:45
Kategori Rubrik: