Terima Atau Menolak Vaksin?

Apapun, bagi yang menolak vaksin mudah-mudahan masuk 30% yang tak perlu divaksin. Karena secara sains, Indonesia hanya memerlukan 70% populasi yang divaksin agar tumbuh imunitas kolektif untuk kasus covid 19.
3. Saya percaya kekuatan vaksin
Saya pribadi percaya pada kekuatan vaksin. Bahkan sejak kecil saya sudah banyak melakukan vaksinasi. Sejak BCG, anti polio, anti tetanus dst, semua vaksin itu sudah masuk tubuh saya. Di masa dewasa, saya juga melakukan vaksinasi untuk menangkal penyakit meningitis.
Bagi siapapun yang akan berhaji atau umroh, pasti paham vaksinasi meningitis yang wajib bagi siapapun jamaah haji/umroh tanpa terkecuali. Ia menjadi syarat visa untuk masuk ke kawasan tanah suci dan sekitarnya. Tak mau divaksin, anda tak berangkat haji/umroh. Pilih mana?
Saya pun pernah melakukan vaksinasi terhadap virus khusus untuk masuk ke suatu negara Afrika. Terakhir, di tahun 2019, saya melakukan vaksinasi virus yang sangat langka bagi Indonesia yaitu yellow fever. Susah sekali mencari vaksin jenis ini di Indonesia, sampai saya akhirnya temukan di sebuah klinik di Jakarta. Harganya pun luar biasa mahal. Vaksin yellow fever sangat perlu karena saat itu saya harus mengunjungi sebuah negara di Afrika dimana yellow fever menjadi penyakit yang sangat mematikan disana.
Saya percaya pada kekuatan vaksin sebagai hasil olah pikir sains-kedokteran. Menerima vaksin, buat saya mensyukuri nikmat ilmu dan keagunganNYA seraya memenuhi perintah untuk membaca ayat-ayat alam, sebagaimana yang dituntunkan dalam ajaran agama saya.
Apakah anda sepaham dengan saya? Terserah anda.
Pilihan ada pada anda.
Salam pagi,
Sumber : Status Facebook Arya H Dharmawan

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *