Terima Atau Menolak Vaksin?

ilustrasi
Oleh : Arya H Darmawan
Sekalipun vaksin adalah satu-satunya penawar virus dari dalam tubuh yang telah dibuktikan kebenarannya secara saintifik, tokh penolakan masih terjadi. Bahkan, saat ini media massa memberitakan ada saja kelompok masyarakat yang menolak vaksin covid 19, di berbagai negara Eropa. Di masyarakat yang dikenal memiliki derajat pendidikan lebih tinggi seperti Eropa pun penolakan (resistensi), keengganan (reluctance), keraguan (hesitance), terus terjadi yang membuat keheranan bagi warga yang tinggal di belahan bumi lain.
1. Anti vaksin di Eropa
Bagi kelompok anti vaksin di Eropa, secara umum penolakan didasarkan atas alasan rasional politik ekonomi. Mereka menolak bukan karena tidak percaya pada vaksin. Tetapi mereka menolak sebagai wujud ekspresi keengganan di-kooptasi (dikuasai) oleh kekuatan industri medis. Mereka menolak karena tak mau dijajah oleh konspirasi kapitalisme-medis produsen vaksin. Posisi diametral frontal dengan kapitalisme medis membuat kelompok ini keras penolakannya pada vaksin.
Sebagian yang lain, mengatakan bahwa mereka masih mendendam memori masa lalu. Memori kekecewaan distrust pribadi, kepada beberapa perusahaan obat-obatan di masa lalu. Pengalaman pribadi yang kemudian diteruskan hingga antipati mereka pada kasus vaksin covid 19 saat ini.
2. Indonesia, bagaimana?
Lain di Eropa, lain pula yang terjadi di Indonesia. Sekalipun sebagian besar masyarakat Indonesia mempercayai kekuatan vaksin sebagai penumbuh antibodi penangkal virus covid 19, tetapi ada sebagian yang menolaknya. Kelompok masyarakat penolak vaksin ini tak banyak jumlahnya. Tetapi suaranya kadang nyaring.
Membaca komentar-komentar di medsos, alasan penolakan macam-macam. Dari soal politik hingga keyakinan (faith). Jarang yang menolak, karena alasan politik ekonomi seperti di Eropa.
Apapun, bagi yang menolak vaksin mudah-mudahan masuk 30% yang tak perlu divaksin. Karena secara sains, Indonesia hanya memerlukan 70% populasi yang divaksin agar tumbuh imunitas kolektif untuk kasus covid 19.
3. Saya percaya kekuatan vaksin
Saya pribadi percaya pada kekuatan vaksin. Bahkan sejak kecil saya sudah banyak melakukan vaksinasi. Sejak BCG, anti polio, anti tetanus dst, semua vaksin itu sudah masuk tubuh saya. Di masa dewasa, saya juga melakukan vaksinasi untuk menangkal penyakit meningitis.
Bagi siapapun yang akan berhaji atau umroh, pasti paham vaksinasi meningitis yang wajib bagi siapapun jamaah haji/umroh tanpa terkecuali. Ia menjadi syarat visa untuk masuk ke kawasan tanah suci dan sekitarnya. Tak mau divaksin, anda tak berangkat haji/umroh. Pilih mana?
Saya pun pernah melakukan vaksinasi terhadap virus khusus untuk masuk ke suatu negara Afrika. Terakhir, di tahun 2019, saya melakukan vaksinasi virus yang sangat langka bagi Indonesia yaitu yellow fever. Susah sekali mencari vaksin jenis ini di Indonesia, sampai saya akhirnya temukan di sebuah klinik di Jakarta. Harganya pun luar biasa mahal. Vaksin yellow fever sangat perlu karena saat itu saya harus mengunjungi sebuah negara di Afrika dimana yellow fever menjadi penyakit yang sangat mematikan disana.
Saya percaya pada kekuatan vaksin sebagai hasil olah pikir sains-kedokteran. Menerima vaksin, buat saya mensyukuri nikmat ilmu dan keagunganNYA seraya memenuhi perintah untuk membaca ayat-ayat alam, sebagaimana yang dituntunkan dalam ajaran agama saya.
Apakah anda sepaham dengan saya? Terserah anda.
Pilihan ada pada anda.
Salam pagi,
Sumber : Status Facebook Arya H Dharmawan
Friday, January 8, 2021 - 10:30
Kategori Rubrik: