Teriakan Serak Lelaki Tanpa Leher

Oleh : Rudi S Kamri

BAGI saya yang orang Jawa cukup susah untuk mengeja nama LIEUS SUNGKHARISMA alias Li Xue Xiung. Mantan Ketua Generasi Muda Buddhis Indonesia ini lahir di Cianjur, 1 Oktober 1959. Sejak muda Lieus memang aktif di pergerakan pemuda seperti AMPI dan KNPI. Dia pernah juga menjadi Ketua Umum Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PARTI). Pada Pilpres 2014 si engkoh Lieus ini mendukung Jokowi namun pada Pilpres 2019 dia balik badan mendukung Prabowo. Bahkan masuk ke lingkaran dalam kubu 02 dan didapuk menjadi Koordinator Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi.

Mengapa dia berbalik mendukung Prabowo dan begitu militan menyerang Jokowi ? Ini masih menjadi tanda tanya. Mungkin bisa ditelusuri kiprahnya sejak tahun 2015 saat dia begitu militan memusuhi Ahok kala menjadi Gubernur DKI Jakarta. Hal ikhwalnya konon kebijakan Ahok banyak merugikan kiprah dia sebagai makelar tanah di daerah Fatmawati Jakarta Selatan. Proyek MRT yang digagas Jokowi yang kemudian diteruskan oleh Ahok membuat harga tanah yang dikuasainya jeblok. Dan hal ini yang membuat dia meradang dan menyerang Ahok membabi buta. Walhasil pada Pilgub DKI Jakarta 2017 engkoh Lieus mendukung frontal AHY dan Sylviana Murni. Dan ternyata dukungan Lieus tidak berarti apa-apa, karena AHY keok di putaran pertama.

 

Mantan pengelola Tabloid Naga Post ini saat merasa menjadi Timses Prabowo-Sandi sering menunjukkan arogansi yang berlebihan. Dia pernah kedapatan ngamuk tanpa alasan di Lapas Cipinang saat dilarang menjenguk Ahmad Dhani karena tidak mengantongi ijin. Dengan mata menyala merah dia membentak Sipir Penjara Cipinang. Sayangnya kejadian memalukan tersebut tidak diusut tuntas oleh aparat keamanan. 

Lieus ini begitu dibangga-banggakan oleh para pendukung Prabowo. Bahkan dengan alasan yang tidak masuk akal Lieus yang notabene beragama Buddha diberikan panggung di mimbar masjid untuk berdakwah memprovokasi massa. Bahkan para orang Islam yang menjadi pendukung Prabowo seperti kerbau dicolok hidungnya gegap gempita meneriakkan takbir yang dipimpin Lieus. Entah Lieus yang sukses dengan mulus bermetamorfosis menjadi seorang ulama dadakan atau memang kebodohan orang-orang yang mau dipimpin takbir oleh orang non-muslim. Saya tidak tahu.

Yang jelas saat ini sel penjara yang pengap dengan sabar sedang menunggu kedatangan Lieus. Dia terkena tuduhan berkonspirasi untuk merencanakan gerakan makar. Orasinya yang ngawur ini memang sudah melewati batas toleransi demokrasi. Dia tidak sedang menyuarakan kebebasan berpendapat tapi sudah mengarah memprovokasi massa untuk melawan pemerintahan yang sah. 

Apakah nantinya Lieus Sungkharisma akan berbagi matras tipis di sel pengap penjara dengan Amien Rais, Kivlan Zein, Permadi atau Eggy Sudjana ? Saya sangat berharap aparat kepolisian segera merealisasikan harapan mayoritas rakyat Indonesia. Syukur-syukur sekalian segera bergabung Fadli Zon atau Arif Poyuono. Agar langit berita di negara ini menjadi bersih tanpa kontaminasi ocehan destruktif mereka. Segera.

Mudah-mudahan Yusril Ihza Mahendra masih waras untuk mau menolak tawaran Lieus untuk menjadi pengacaranya. Kalau Yusril menerima berarti sudah jelas, dia memang serupa dengan mereka. 

Ada pertanyaan kecil, mengapa seorang Lieus Sungkharisma tidak ikut rombongan Prabowo ke Brunei ? Apakah dia ternyata tidak lagi dianggap sebagai bagian penting di kubu 02 ? Atau mungkin dia sengaja dikorbankan sebagai tumbal perjuangan konyol mereka ? 

Waktu yang akan mengabarkan seperti apa peran lelaki tua tanpa leher ini di jejak hitam demokrasi Indonesia.

Salam SATU Indonesia
18052019

Monday, May 20, 2019 - 23:00
Kategori Rubrik: