Teriak-Teriak Tolak Vaksin Itu Tak Tahu Diri

ilustrasi
Oleh : Atoillah Isvandiary
Ada yang nobar pak presiden disuntik dosis pertama CoronaVac?
Gimana, siap divaksin?
Survey Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) pada bulan September tahun lalu menunjukkan, bahwa dari 115 ribu orang yang diwawancarai dari 34 provinsi di Indonesia, saat itu, dua pertiganya mengaku siap divaksin ketika vaksin itu tersedia.
Tapi di masa pandemi ini, meskipun masih 4 bulan berlalu itu rasanya kok seperti 4 tahun. Lama pake banget. Jadi rasanya saya kok kuatir, angka masyarakat yang mengaku siap ini turun seiring waktu, mengingat semakin lama pandemi justru semakin menurun kepintaran sebagian masyarakat memahami situasi pandemi yang paradoksal : saat kasus masih rendah kecemasan masyarakat sangat tinggi di awal pandemi, menjadi di saat kasus sangat tinggi kecemasan justru anjlok di awal januari.
Sehingga manakala vaksin itu benar-benar datang, yang terjadi pada sebagian masyarakat bukanlah rasa senang, justru sebaliknya, malah gamang.
Tentu tidak fair kalau menyudutkan mereka yang gamang, bahkan menolak vaksin tanpa memahami sudut pandang masing-masing yang jelas bermacam-macam.
Bukan soal bodoh atau pintar, Lha wong yang orang kesehatan saja juga banyak yang anti vaksin, lhah apalagi ditambah kenyataan bahwa dari tiap 100.000 rakyat Indonesia ini hanya 1 orang yang beruntung menjadi sarjana di berbagai bidang kesehatan. Tapi kalo wakil rakyat yang bilang, menurut saya memang lain soal, wkwkwk.
Kok bisa orang kesehatan anti vaksin? Jawabannya tergantung dua hal: sudah berapa lama lulus kuliah serta di lingkungan seperti apa kini dia bertumbuh. Sedangkan baru masyarakat awam, tingkat pengetahuannya lah, bukan tingkat kecerdasan, yang berbeda-beda.
Terkait penerimaan pada vaksin covid ini sendiri, maka selain faktor basis pendidikan kesehatan tadi maka menurut survey The Jakarta Post di bulan yang sama, alasan 1/3 responden yang menolak vaksin 30% di antaranya karena kuatir nggak aman, 22% kuatir nggak efektif, 12% kuatir efek samping (takut jarum suntik juga masuk di kelompok ini), 8% beralasan agama, sisanya alasannya macam-macam.
Sekali lagi, ini survey 4 bulan yang lalu. Boleh jadi saat ini kondisinya beda. Bisa saja akibat literasi yang tidak terliterasi, mengingat semua orang bisa mengatakan semua yang ia inginkan di sosial media (bukan yang ia ketahui ataupun ahli) maka wajar bila netijen +62 yang sebagian besar, tidak tua tidak muda, sedang dalam proses pencarian jati diri ini, bisa berubah-ubah pendiriannya.
Termasuk soal vaksinasi dengan vaksin Coronavac buatan sinovac ini, misalnya. Pengumuman kesucian, sudah. Halal, sudah. Efikasi, walaupun hanya 65,3% sudah juga, Gratis, iya. presiden dulu yang divaksin, iya juga.
Sehingga bagi yang masih gamang, pertanyaannya bisa begini: Quo Vadis, atuh mang?
Bagi yang sudah diundang lewat aplikasi dan sudah mantap siap, saya pribadi bilang: mengingat bahwa ada peluang 65% untuk kebal dan 35% untuk gagal kebal, halal, sangat minim risiko, saya kira anda termasuk dapat privilege.
Yang menunggu vaksin lain dengan efikasi yang lebih bagus tapi harga bukan pertimbangan utama juga silahkan. Tapi setahu saya, bagi yang kehalalan jadi pertimbangan, belum ada peninjauan terkait kehalalan proses dan bahannya. Dan proses penyimpanannya juga butuh teknologi yang lebih canggih, yang belum tentu semua fasilitas kesehatan di Indonesia bisa menyediakannya, bila dibanding dengan vaksin gratis ini.
Vaksin merah putih? tentu, ini akan membanggakan, kalau sudah jadi. Masalahnya, uji klinis fase pertamanya pun masih belum mulai. Secepat-cepatnya uji klinis dilakukan, selesainya paling cepat adalah akhir tahun ini. Sementara, pandemi terus terjadi dan jumlah kasus semakin meninggi.
Yang penting, herd immunity itu prinsipnya begini. Kalau jumlah minimal orang senegara yang kebal covid-19 itu akhirnya tercapai, maka yang nggak ikut kebal, termasuk yang menolak vaksin pun, akan ikut-ikutan terlindungi.
Karena itu, menolak vaksin itu sebenarnya pilihan pribadi. Tapi menolak vaksin lalu teriak-teriak agar orang lain nggak mau divaksin sehingga senegara batal terlindungi, itu namanya tidak tahu diri.
Sumber : Status facebook Atoillah Isvandiary
Friday, January 15, 2021 - 11:45
Kategori Rubrik: