Tergantung Persepsi Kita

Oleh : Nadirsyah Hosen

Ada kawan kena masalah, kita bilang sabar itu ujian dari Allah.
Ada musuh kena masalah, kita bilang itulah azab Allah.

Ada saudara dapat rejeki dan jabatan, kita bilang itu kemuliaan dari Allah.
Ada lawan dapat rejeki dan jabatan, kita bilang hati-hati itu istidraj

Ada sekeluarga pergi umrah, kita bilang itu rahmat Allah
Ada pejabat sekeluarga ke tanah suci, kita bilang itu pencitraan

Ada ulama berfatwa mendukung calon pilihan kita, kita bilang ini ulama hebat
Ada ulama berfatwa mendukung calon yang lain, kita bilang ini seburuk-buruknya ulama

Ada partai mendukung buat #gantikandidat kita bilang ini Partai Allah
Ada partai mendukung untuk #tetapinkamben kita bilang ini Partai Setan

Ada tokoh mendukung pemerintah, kita bilang dia menjilat
Tokoh yang sama di kemudian hari mengkritisi kebijakan pemerintah, kita bilang dia belum kebagian jatah

Ada tokoh yang kita senangi jatuh sakit, kita bilang dia sedang diampuni Allah lewat sakitnya
Ada tokoh yg kita benci jatuh sakit, kita bilang itu efek kena mubahalah

Kita yang sukses, lantas kita bilang ini karena kerja keras kita
Pas kita gagal, kita bilang Tuhan tidak adil.

Benar kata Kitab Suci:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizqinya maka dia berkata: “Tuhanku Menghinakanku.” (QS al-Fajr [89]: 15-16)

Jadi ternyata dalam keseharian baik dan buruk itu semuanya tergantung persepsi kita. Repotnya, kita seringpula mengatasnamakan Tuhan seolah perpsepsi kita itu sesuai dengan keputusan Tuhan. Dan yang memiliki persepsi berbeda kita anggap melawan Tuhan, padahal yang dilawan itu perspesi dan opini kita. Akhirnya, senangnya Tuhan atau marahnya Tuhan tergantung persepsi kita yang lagi senang atau ngomel. Inilah syirik khafi. Menduakan Tuhan tanpa kita sadari. Halus dan tersamar.

Persepsi kita itu bisa menjadi kendaraan Setan untuk menjebak kita masuk ke dalam Syirik Khafi. Jika persepsi yang menjadi dasar kita menilai orang lain, maka urusannya tergantung like and dislike (suka atau tidak suka). Bagaimana membersihkan angan dan ingin kita adalah pekerjaan yang utama daripada asyik menilai dan menghakimi orang lain.

Mudah untuk dituliskan, tapi butuh perjuangan setiap saat menaklukkan ego diri untuk mampu melaksanakannya bukan?!

Tabik,

Sumber : facebook Nadirsyah Hosen

Thursday, May 31, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: