Tergagap Covid

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

MAAF...

Maafkan gw, karena gw hanya mampu belajar dan berpikir. Gw hanya mampu membaca, mempelajari, dan memahami berbagai jurnal tentang sarscov2, ilmu dasar virologi (belum banyak), guideline WHO dan kemenkes, serta tentang surveillance dan epidemiology.

Gw hanya mampu menyampaikan ulang semua yg gw pelajari itu di wall facebook gw, untuk diskusi dan belajar bersama yg mau aja

Tapi maaf, gw gabisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Kekuatan scaremongers alias penebar ketakutan lebih banyak. Dokter yang benar-benar paham imunologi, virologi, makna positif PCR, OTG, cara membuktikan virus bahaya atau tidak itu gak banyak. Kalaupun ada, mereka pilih diam daripada dimusuhi rekan-rekan sejawatnya.

Ingat tidak, di awal pandemi ada para dokter dan IDI yang mengancam nggak mau merawat pasien positif Covid19 jika pemerintah tidak menyediakan hazmat sesuai jumlah yang mereka sebutkan? Ingat tidak, siapa saja yang maksa lockdown di awal wabah corona di Indonesia? Ingat tidak, ketika sejumlah nakes protes online dengan jargon "Indonesia menyerah? "

Mayoritas dokter, juga organisasi dokter menarasikan Covid 19 berbahaya, mematikan, OTG menular, positif PCR pasti terinfeksi, OTG bisa mengalami kerusakan organ permanen, OTG bisa mati mendadak karena happy hipoxia, mayat bisa menularkan virus, solusinya hanya vaksin, selama belum ada vaksin harus di rumah saja tes massal dan pakai masker kapanpun dimanapun.

Soal kesehatan, masyarakat pilih lebih percaya dokter atau presiden? Tahu akibatnya, jika presiden tidak satu suara dengan mayoritas dokter dan organisasi dokter?

Situasi wabah covid 19 ini dikondisikan oleh yang namanya DESAIN SURVEILLANCE DAN EPIDEMIOLOGY. apakah itu? Sejenis kegiatan survei pengumpulan data dan eksperimen.

Angka positif dan angka kematian covid 19 itu artinya bukan sejumlah orang yang sakit dan mati KARENA COVID 19. tetapi sesuai dengan definisi operasional yang DIDESAIN dalam surveillance itu.

Angka positif covid 19 DIDESAIN sebagai yang positif menurut hasil swab, ngga peduli mereka sakit atau tidak. Makanya, OTG HARUS DIANGGAP SAKIT DAN MENULAR, BAHAYA.

Angka kematian covid 19 didesain dalam surveillance sebagai siapapun yang meninggal dengan sesak nafas karena ARDS atau yang positif swab, apapun kondisinya ketika sakit (termasuk mati ketabrak truk). MAKANYA JUMLAHNYA BANYAK, YANG DIMAKAMKAN SECARA COVID JUGA BANYAK.

semua itu adalah HASIL DESAIN SURVEILLANCE, bukan karena virusnya bahaya. Hasil uji kultur justru membuktikan hasil mutasi virus bikin virusnya makin menular tapi daya rusaknya melemah.

Buktinya, LEBIH BANYAK YG OTG DAN BERGEJALA RINGAN daripada yang bergejala berat dan meninggal.

DESAIN SURVEILLANCE yang mengorbankan kesejahteraan rakyat. Sampai detik ini belum ada upaya memberi pemahaman kepada wartawan dan masyarakat bahwa testing tracing menghitung angka positif dan angka kematian itu HANYA SURVEILLANCE. Angka positif dan angka kematian HANYA DATA SURVEILLANCE YANG MASIH MENTAH, BELUM DIUJI VALIDITAS, BELUM DIUJI RELIABILITAS, BELUM DIANALISA DAN DISIMPULKAN tapi sudah diumbar-umbar.

Jadi, kalau ingin menyelesaikan pandemi ini caranya : Simpulkan sifat virusnya sebahaya apa dengan postulat Koch, pahami bahwa semua ini hanya sebatas SURVEILLANCE, luruskan pemahaman soal OTG, positif PCR, arti data mentah surveillance angka positif dan angka kematian covid 19. BUKAN DENGAN MASKER, VAKSIN, MAIN CLUSTER, DAN DIAM DI RUMAH.

Anggaplah angka positif dan angka kematian covid itu arti yang sebenarnya tanpa perlu diinterpretasikan lagi. Jika sampai ada angka positif dan angka kematian yang tinggi, itu artinya PEMIMPIB DAERAH TERSEBUT GAGAL.

Jika sampai harus ada dua kali atau berkali-kali PSBB, lonjakan angka positif dan angka kematian, ICU penuh, ekonomi rakyat di suatu daerah hancur, maka JANGAN PILIH LAGI SI DIA JADI PEMIMPIN. Dia gak layak jadi bupati, gubernur, menteri, apalagi presiden. DIA PEMIMPIN YANG GAGAL.

Bisa jadi gagal memahami ARTI SURVEILLANCE, atau gagal mengendalikan penyakit di daerahnya. GAGAL.

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Saturday, September 12, 2020 - 18:15
Kategori Rubrik: