Terbuang

ilustrasi

Oleh : Agoes Ibrahim

Waktu masih duduk di bangku SMA, saya sering diajak belajar bareng di rumah seorang teman. Saking seringnya menginap di sana, saya jadi akrab dengan keluarganya. Papanya seorang yang murah hati. Saya dan teman-teman lainnya sering diajak makan di restoran-restoran terkenal di Surabaya. Maklumlah papa teman saya ini pengusaha yang lumayan sukses. Punya pabrik dan toko.

Awal tahun 2000 an waktu masih tinggal di kota Malang, saya mendengar kabar bahwa keluarga teman saya itu sudah bangkrut. Bahkan si Om konon dikucilkan keluarganya. Hidup seorang diri di rumah mungil di pinggiran sebuah kota kecil.

Segera saya mencari tahu alamatnya dan meluncur ke sana. Perjumpaan kami, membuat kami berdua menangis. Si Om bercerita, semua aset miliknya dikelola anaknya dan bangkrut. Habis semua disita bank termasuk rumah kediamannya sendiri. Yang tersisa hanyalah villa mungil di lereng pegunungan ini. Itupun diminta anaknya pula untuk mengambil kredit di bank. Lantaran sertifikat dari aset satu-satunya yang tersisa ini tak diserahkan ke anaknya, maka anaknya dan istrinya marah kepadanya. Akhirnya si Om terusir dari rumah kontrakan di Surabaya dan tinggal seorang diri di villa mungil nan sunyi itu. Untuk menghidupi dirinya, si Om sewa kios kecil untuk berjualan di pasar di pusat kota. Setiap pagi si Om naik motor bebek buatan tahun 70'an berangkat ke pasar dan pulang menjelang sore.

Singkat cerita, saya minta si Om menutup kiosnya yang katanya lebih banyak menjaring angin dari pada pelanggan. Saya ajak si Om bekerja di restoran saya dan janjikan gaji yang gede. Si Om setuju.
Jadi setiap jam 12 siang, si Om dijemput sopir saya dan dibawa ke kota Malang. Malam harinya diantar sopir pulang ke rumah.

Apa pekerjaan si Om di resto saya ? Tak ada... saya hanya ingin membalas budi baiknya. Setiap hari saya ajak dia makan enak di resto sambil ketawa ngakak bernostalgia nakalnya kami, anak muda saat itu..
Di resto, si Om bebas melakukan apa saja. Ngobrol dengan tamu-tamu resto, dengan karyawan saya bahkan sering saya ajak menikmati ice cream di resto/toko OEN yang legendaris itu.. Si Om sudah saya anggap sebagai ortu saya sendiri. Apalagi saya sudah tak punya ortu sejak lama.

Setelah sekian lama "bekerja" di resto saya, si Om mengundurkan diri. Sambil menangis dia bilang dilarang istrinya bekerja ikut saya.. dia disuruh diam di rumah. Trenyuh hati ini... terbayang hari-hari sunyi yang bakal di laluinya.

Awal 2018, saya yang sudah tinggal di Blitar mendapat informasi dari seorang doglover, katanya ada anjing jenis great dane mix doberman yang mau dijual seseorang. Banyak yang tak mau beli karena anjing tersebut sudah tua. Sudah 10 tahun umurnya. Akhirnya saya datang ke rumah si penjual.

Waktu ditunjukkan anjingnya, saya sedih banget. Anjing segede itu, bobotnya aja 55 kg saat dia kurus kering, ditaruh di kandang ukuran 1,5 x 2 meter.. sangat sempit. Udah gitu, lantainya jorok banget. Penuh kotoran.. air minum di wadahnya udah berwarna coklat. Badan anjingnya pun banyak menempel kotoran yang sudah mengering.
Saya jadi teringat si Om yang hidup sendirian dimasa tua nya tanpa ada yang merawat sampai beliau meninggal dunia.

Akhirnya saya beli anjing itu.
Saya bawa dia ke rumah dengan berjalan kaki sejauh 2 km.. dia sangat riang bisa menghirup udara kebebasan..
Saya berbisik di telinganya, berjanji akan merawatnya dengan sepenuh hati sampai maut menjemputnya...
Kini anjing itu, Caesar, hidup merdeka dan bahagia.
Dia bebas berlarian atau tiduran sepanjang hari..

Setiap kali kami bertatapan mata, saya lihat ada cinta di matanya...

Sumber : Status Facebook Agoes Ibrahim

Friday, August 7, 2020 - 22:00
Kategori Rubrik: