Terang Benderang Tentang Keputusan MA

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dan mantan Ketua DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) yang kini sebagai anggota DPD RI, Prof. Jimly Asshiddiqie memberikan pendapatnya terkait keputusan MA yang memenangkan gugatan Rachmawati kepada KPU.

"Peradilan hasil pemilu dan pilpres ada di MK, bukan di MA. Segala perselisihan tentang hasil Pilpres 2019 berakhir di MK dan pelantikan Presiden/Wapres di MPR 20 Oktober 2019," tulis Prof Jimly lewat Akun Twitter pribadinya, Rabu (8/7).

Lebih lanjut, ia menuliskan, "Putusan MA 28 Oktober 2019 hanya terkait Peraturan KPU yang harus diubah untuk Pilpres berikutnya, tidak lagi terkait dengan Pilpres 2019. Tidak ada perbedaan atau pertentangan sama sekali antara MK dan MA dalam hal ini. Hanya ada orang yang tidak mengerti masalah berusaha menggorengnya untuk politik," tandasnya.

Rachmawati Soekarnoputri dkk menang melawan KPU di MA terkait dengan Pasal 3 Ayat (7) Peraturan KPU Nomor 5/2019 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih, Penetapan Perolehan Kursi, dan Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum.

Putusan MA tersebut telah diketok oleh Ketua Majelis Supandi pada tanggal 20 Oktober 2019. Namun, baru dipublikasikan pada pekan ini. Pada putusan tersebut MA menyebutkan bahwa pasal dalam PKPU itu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Jika saya seorang awam yang tidak mau dan tidak mudah terhasut bisikan kadal, maka pastilah saya lebih mendengar pemaparan prof Jimly Asshiddiqie yang memang ahli/pakar hukum tata negara bahkan praktisi langsung dalam penyelenggaraan pemilu. Mosok mau percaya kepada celengan onta si Novel Baukmin? Musrik kuuuuuuy...

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Friday, July 10, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: