Tepuk Pramuka dan Pemabuk Agama

ilustrasi

Oleh : Abdulloh Faizin.

Yel yel "Islam Islam yes ! Kafir Kafir no !" Adalah sebuah hawa panas dan tamparan keras yang merusakkan bahkan memporak-porandakan makna entitas nilai Islam serta toleransi keberagaman. Betapa tidak distorsi legetimas eksistensi ekspresi kebhinekaan dan keberagaman mulai dicabik cabik bahkan di pecah belah oleh pembina Pramuka yang dalam tanda petik telah mabuk agama dengan narasi kebencian dalam beberapa tepukan saja.

Pembina yang terpapar intoleransi agama itu melakukan mutilasi pemaksaan kebencian sesama ummat manusia. Mencuci otak anak dengan narasi permusuhan kepada pemeluk lain dan menghujakan ke relung jiwa jiwanya. Dengan tepukan kegembiraan yang dicampurkan pada adukan keyakinan serta kepercayaan ke syaraf otak anak yang masih lugu dan polos agar anak tersebut memusuhi dan memeragi yang beda keyakinan dan agamanya.

Inilah fenomena awal dari tragedi besar kehancuran kerukunan bangsa ini. Anak anak yang seharusnya dibina dengan keyakinan agama yang indah dan menyejukkan. Malah dicekoki dengan radikalisme berfikir kasar dan kekejaman keyakinan yang menyebabkan ia menjadi monster agama yang mengerikan menjadi pecandu dogmatis yang tak mampu merasakan kelembutan bahkan keindahan Agamanya. Menakutkan sekali. Bahkan tak mampu mengimplementasikan Rahmah agamanya dengan benar.

Tragedi kegiatan itu tepuk Pramuka itu bukanlah sebuah pembinaan Islami. Namun pembinasaan nurani dan keyakinan suci Islam yang ramah lembut dan berakar kasih sayang yang diajarkan oleh Rasulullah. Lima sampai sepuluh tahun yang akan datang pembinasaan itu akan menelorkan jihadis jihadis atas nama Islam dan menjadi reinkarnasi para teroris ISIS dan pemberontak timur tengah. Karena telah menjadi hasil pembinasaan itu bahwa selain Agama dan pemahamanya adalah kafir dan wajib dibunuh.

Inilah yang dikhawatirkan para kiyai pesantren khususnya yang telah angkat bicara masalah spesifik ini yakni guru kami Gus Mus. Mengapa karena beliau telah lama mencium aroma hilangnya kasih sayang dan tasamuh sesama yang mengejala saat ini. Dan survey yang paling bisa dipercaya 90 persen yang mengajarkan radikalisme dan intoleransi adalah pendidikan yang tidak jelas eksistensi identitas keormasanya. Biasanya kebanyakan tenaga pengajarnya adalah penganut gerakan gerakan senisbat HTI dan penganut Islam garis keras serta pemahaman tekstual. Serta mengidolakan budaya dan timur tengah.

Mengapa saya harus membuat analisa ini. Karena tidak semua orang berfikir tentang kemaslahatan secara universal sampai pada titik nadzir pendidikan anaknya dikira sudah baik menunjukkan keislaman dengan pakaian lslam dengan jargon Islam namun isinya intoleran bahkan benturan dengan kerahmatan Islam. Ini hanya mengingatkan sesama apalagi kita yang dilahirkan dari kesejukan dan keteduhan doktrinasi Ulama dan Guru Guru kita. Tak ada maksud dan tujuan lain. Seperti adigium terkenal ingin bahagia dunia akhirat ajarkan anak kita dengan ajaran Agama yang benar.

Yang jelas di penghujung tulisan ini kita harus bersama hati hati dengan cekikan bahkan cekokan paham dan ajaran yang meracuni otak anak kita. Lalu kita arahkankan tunas tunas generasi kita ke paham yang benar. Ajarkan mereka memiliki dan mempertahankan ajaran dan bingkai kita. Jangan sampai mereka melesat melepas dari jalan kita, sehingga kita tidak menyesal. Mereka anak anak kita akan bersama kita, mendoakan kita selamat dunia akhirat dengan syarat jika iman dan keyakinan mereka sama dengan kita.

Wallohu a'lam

Sumber : Status Facebook Abdulloh Faizin

Saturday, January 18, 2020 - 14:45
Kategori Rubrik: