Teori Tangkap Hujan Gagal, Banjir Jakarta Semakin Brutal

Oleh: Rudi S Kamri

Saya akhirnya maklum mengapa program penanganan banjir di DKI Jakarta saat ini bukan hanya berhenti tapi mengalami kemunduran ke zaman batu. Salah satu penyebabnya disamping buah dari kesombongan Gubernur DKI Jakarta yang gengsi meneruskan program normalisasi sungai dari pendahulunya, tapi juga ternyata sang gubernur telah salah bergaul dengan orang yang mengatakan dirinya "ahli tangkap hujan" yang bernama Muslim Muin.

Muslim Muin merupakan salah satu dari 73 orang Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TUGPP). Dibayar mahal oleh rakyat melalui APBD tapi hasil kerjanya sangat memalukan. Teori asbun "Tangkap Hujan" Muslim Muin membuat sarjana hidrologi lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sungguh sangat mempermalukan almamaternya yang terkenal mempunyai alumni yang handal. Muslim Muin mungkin hanya produk gagal dari ITB. 

 

Sejatinya teori "tangkap hujan" Muslim Muin tidak jelek-jelek amat. Cuma salah waktu saja. Kalau teori Muslim Muin ini diterapkan di Jakarta tahun 1950 saat lahan terbuka umum dan lahan terbuka di pemukiman masih luas, mungkin masih bisa dilakukan. Tapi kalau mau diterapkan sekarang dimana ruang terbuka hijau hanya tinggal 9,98% dan minimnya halaman rumah di pemukiman Jakarta, sepertinya akan ditertawakan ahli hidrologi di seluruh dunia. Dari sosok Muslim Muin kita bisa membaca dengan jelas kualitas anggota TUGPP Jakarta. Memalukan.

DPRD DKI Jakarta sebagai representasi rakyat Jakarta seharusnya bisa lebih kritis terhadap ulah memalukan Gubernur DKI Jakarta dan Pasukan Soraknya seperti TUGPP ini. Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi dan Ketua Fraksi Golkar DPRD Jakarta Basri Baco harus membuktikan ucapannya saat menunjukkan kekecewaannya terhadap Gubernur dan Pasukan Soraknya dalam melakukan antisipasi dan penanganan banjir di Jakarta. Jangan koar-koar di media tapi melempem di forum formal DPRD. Rakyat Jakarta perlu bukti nyata pertanggungjawaban DPRD DKI Jakarta untuk memberi sanksi keras kepada Gubernur DKI Jakarta.

Dari Muslim Muin kita tahu bahwa apa yang dikatakan Mendikbud Nadiem Makarim benar adanya. Bahwa orang yang mengantongi gelar sarjana belum tentu punya derajat berpikir yang intelektual. Dan Muslim Muin justru secara nyata menunjukkan betapa pekoknya kalau gelar sarjana sudah terkontaminasi kepentingan politik. 

Jadi paham kan kalau penanganan banjir Jakarta amburadul tidak masuk akal. Haaapp......lalu air hujanpun ditangkap Muslim, dipeluk erat lalu dilarang keras mengalir di jalan. Rupanya Muslim Muin bukan sekedar sarjana hidrologi tapi juga pawang air yang bisa memerintah air seenak udelnya. Hmm.... memalukan.

Salam SATU Indonesia

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Friday, January 10, 2020 - 00:00
Kategori Rubrik: