Teori Konspirasi dan Berpikir Kritis

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Dahulu ketika Bom Bali 2002, di sebuah pengajian mereka sangat percaya kalau yang mengebom itu adalah intelijen Mossad, untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia.

Untungnya waktu itu Polri bergerak cepat dalam hitungan hari sudah bisa mengungkap pelakunya, sehingga teori konspirasi itu langsung patah.

Konspirasi itu sesungguhnya bukan hal yang musykil, misalnya koruptor biasanya berkonspirasi dengan pihak lain untuk mengelabui pengawasan dan pemeriksaan. Ada banyak konspirasi yang tidak sempat muncul di muka publik, ada juga yang muncul karena peran jurnalis, whistle blower. Seperti Edward Snowden yang membongkar NSA, atau yang membongkar skandal Contra Nicaragua.

Namun, buru-buru menyerah dan mengikuti teori konspirasi tertentu juga bukan hal yang tepat. Karena banyak teori konspirasi yang sesat, seperti konspirasi pendaratan palsu di bulan, atau yang lokal, konon Jokowi kalau menang maka komunis tumbuh subur karena ia keturunan PKI.

Tom Nichols menulis: "Teori konspirasi sangat menarik bagi orang yang kesulitan memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk penjelasan yang kurang dramatis".

Jadi bagaimana supaya tidak menjadi korban penganut teori konspirasi yang sesat?

Berpikir kritis, berpegang kepada fakta yang kuat, dan ambil pendapat dari pakar yang betul menangani bidangnya.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Tuesday, May 5, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: