Teori Konspirasi Covid 19

ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

"Dimana letak kebenarannya"

Ketika kota Wuhan di Provinsi Hubei Tiongkok diserang Virus Corona secara masiv hingga satu kota harus lockdown, berbagai spekulasi dan analisis bermunculan. Dari pihak barat menuduh bila itu kebocoran dari salah satu laboratorium milik China yang sedang mengembangkan senjata biologis. Sebaliknya ada yang balik menuduh bila ini adalah ulah Amerika karena kalah dalam perang dagang.

Isu inilah yang sempat menghangat, terlebih dengan beredarnya berita hoax tertangkapnya beberapa ilmuwan yang diwartakan menjual hasil rekayasa virus tersebut. Namun seiring waktu isu ini pun lenyap ditelan berbagai pemberitaan lain terkait pandemi virus corona yang terus mendunia dengan korban yang terus meningkat tajam sulit dicegahnya.

Lalu muncul banyak lagi spekulasi yang intinya bahwa virus yang kemudian ditetapkan bernama Covid-19 adalah bagian dari konspirasi tingkat tinggi dari negara tertentu yang bertujuan agar semua negara akan membeli vaksin atau obat dari negara produsen vaksin. Di lain sisi ada yang berteori agar semua negara bergantung pada Amerika atau pada lembaga pemberi utang yang secara hukum berada di bawah kekuasaan Amerika. Lucunya Amerika sendiri berutang, hingga presidennya disebut Raja Utang.

Yang terkini makin jauh lagi, karena disebutnya ini semua sebagai ulah Israel yang ingin menguasai dunia dengan cara meruntuhkan China sebagai calon penguasa ekonomi dunia, dan nanti Indonesia mau tak mau harus bekerja sama dengan kaum Yahudi. Kemudian mereka pun membuat narasi panjang yang sekilas sangat ilmiah plus contoh-contohnya. Sayang tak ada satu pun yang berbasis data dan terkesan sangat tendensius.

Lalu mana yang benar? Penulis katakan belum ada satu pun yang bisa dijadikan sebagai acuan atas pembenarannya, karena belum ada bukti hukum dan ilmiahnya. Lalu bagaimana dengan konspirasi Bill Gates beserta kelompok Iluminatinya? Itu pun baru sebatas dugaan, karena sejarah masa lalu ketika kelompok mereka menyiapkan vaksin untuk SARS.

Hal ini diperkuat dengan sikap Bill Gates yang kampanyekan anti virus corona mulai tahun 2014, dan disampaikan kepada Donald Trump pada tahun 2016. Plus dibuatnya film yang isi skenarionya mirip dengan kejadian saat ini. Lalu dihubung-hubungkan pula dengan novel karya Dean Koontz (1981) yang berjudul 'The Eyes of Darkness,' disambung lagi Film kartun The Simpsons episode tahun 1993. Bahkan bila di Indonesia dijadikan lelucon, karena di mini seri Bajaj Bajuri telah disebutkan pada 7 tahun lalu bila ada corona di China.

"Tapi logika sederhananya adalah vaksin itu sudah ada dan dimana? Nyatanya sampai detik ini belum ditemukan. Baru sebatas uji coba."

Jadi secara politis mau pun medis semua gugur adanya. Sebab nyatanya Amerika dan sekutunya semua mengalami seperti halnya China yang harus pontang panting menghadapi pandemi tergila dalam sejarah dunia. Bahkan Amerika menjadi negara yang paling banyak warganya terpapar dan meninggal. Lucunya tak ada berita Bill Gates menjualnya ke Donald Trump. Lalu siapa yang bermain di balik rekayasa Covid-19? Kita tunggu saja para intelejen dunia beraksi. Mungkin Hawaii Five-0 hingga James Bond 007 menemukannya.

Sekarang kita soroti dulu narasi di dalam negeri yang dikatakannya tak perlu harus paranoid dan hiduplah normal seperti biasa, karena Covid-19 itu katanya tidak terlalu bahaya dan lebih lemah dari virus flu biasa, hanya saja penularannya lebih cepat setelah dicampur dengan asam amino 4x lipat. Jadi tenaga medis hanyalah korban penipuan, karena sejatinya pengobatannya sangat mudah, dengan penjelasan medis yang diurai seolah ilmiah dan meyakinkan.

Pada intinya bahwa "Vitamin C" adalah obat terhebat untuk meningkatkan daya imun manusia yang bisa mematikan si corona yang satu ini. Pertanyaannya adalah: Lalu mengapa bisa ribuan yang meninggal dunia karena virus ini? Lihat di Ekuador hingga mayat bergelimpangan sulit tertangani lagi. Pertanyaan kedua: Mengapa Vitamin C mendadak sulit untuk didapat? Bahkan untuk mendapat vitamin tertentu di Apotik dibatasi 1 lembar dengan harga yang berbeda.

"Nah yang jadi pertanyaan sekarang adalah yang dimaksud konspirasi itu yang mana? Siapa pula yang menjadi produsen Vitamin C. Jangan-jangan masih ada mafia obat "

Lalu bagaimana dengan Indonesia ke depannya, apakah perlu mengimport vaksin atau obat-obatan dari negara lain? Optimislah bahwa Indonesia esok akan mampu mandiri untuk membuat sendiri. Setidaknya pemerintah harus berani mencoba 'Jamu Pancasila.' Walau tentunya harus sangat hati-hati sebelum memutuskan secara nasional, melalui penelitian seksama beberapa pakar.

Indonesia harus mampu membuktikan kepada dunia dan negara-negara maju, bahwa mereka yang kini justru membutuhkan Jamu Pancasila buatan Indonesia, yang bersumber dari kekayaan herbal alam Nusantara guna menangkal Covid-19 yang memang belum ditemukan vaksinnya yang benar-benar pas.

Saat ini Jamu Pancasila sebagai herbal temuan Laksamana Muda Dr. Suradi, baru sebatas uji coba kepada pasien-pasien penderita Covid-19 mau pun yang bergejala Covid-19 atau orang dalam pemantauan (ODP) di sejumlah rumah sakit saja yang hasilnya semuanya bisa disembuhkan. Jadi tidak ada salahnya sambil menunggu vaksin dari hasil penelitian, pemerintah bisa mencoba yang herbal, mengingat Indonesia memiliki kekayaan sumber herbal yang luar biasa.

"Ayo saudaraku se Indonesia, jangan mudah termakan oleh narasi-narasi yang sok ilmiah, padahal mereka tak berbuat sesuatu, selain mengambil kesempatan dalam kesempitan dari balik meja kecongkakannya. Sekarang berfikir positif dan jaga kesehatan saja, itu jauh lebih penting ketimbang ikut berfikir yang bukan porsi kita. Patuhi saja protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dan para tenaga kesehatan yang lebih paham."

Sumber : Status facebook Wahyu Sutono

Yang masih semangat melawan Covid-19

 

Friday, May 29, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: