Teologi Kecelakaan

ilustrasi

Oleh : Nino Aditomo

Dalam salah satu tulisannya Kang Hasanudin Abdurakhman mengkontraskan dua cara pandang tentang campur tangan Tuhan dalam peristiwa-peristiwa naas. Pertama, kita bisa meyakini bahwa Tuhan pada dasarnya menghendaki keselamatan bagi mahluknya, namun keselamatan ini harus diraih melalui usaha. Dengan demikian, kecelakaan adalah buah kelalaian atau kurangnya usaha manusia. Dalam pandangan kedua, keselamatan maupun kecelakaan dianggap sebagai kehendak Tuhan. Selamat dan celaka adalah nasib yang harus diterima.

Secara nalar, dua pandangan ini memang bertentangan. Pandangan pertama bisa kita sebut dengan teologi ikhtiar karena ia menuntut manusia untuk berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk mencegah kecelakaan. Sebaliknya, pandangan kedua mendorong manusia untuk pasrah dan menerima nasib yang digariskan oleh Tuhan. Karena itu saya akan menyebut pandangan kedua ini sebagai teologi penerimaan.

Bila keduanya bertentangan, lantas mana yang benar? Entahlah. Saya bukan ahli agama. Lagipula, saya rasa kerangka “salah-benar” bukanlah kerangka yang tepat untuk melihat urusan non-empiris semacam ini. Dari kacamata pragmatis, lebih baik kita mencermati kapan, untuk apa, dan pada siapa masing-masing teologi tersebut berguna. Untuk menjawab pertanyaan pragmatis ini, kita bisa memulai dengan mencermati bahwa teologi ikhtiar bersifat prospektif.

Sebaliknya, teologi penerimaan bersifat retrospektif. Dengan kata lain, teologi ikhtiar berguna sebagai kerangka untuk mengantisipasi apa yang belum terjadi. Yang kedua berguna sebagai cara memaknai apa yang sudah terjadi.

Karena bersifat prospektif, teologi ikhtiar berguna sebagai kerangka aksi individual maupun kolektif. Keyakinan bahwa Tuhan menghendaki keselamatan bagi mereka yang mau berusaha dapat menjadi ruh yang menggerakkan tindakan individual maupun kolektif untuk meminimalkan kemungkinan kecelakaan.

Sebaliknya, karena sifatnya yang retrospektif, teologi penerimaan memiliki fungsi yang lebih terbatas. Teologi ini praktis hanya bermanfaat untuk mereka yang mengalami musibah. Keyakinan bahwa “kecelakaan sudah menjadi kehendak Tuhan” bisa membantu orang menerima kehilangan dan tragedi yang sudah terjadi.

Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa teologi penerimaan hanya berguna pada level individu. Pada level sosial, teologi ini bukan hanya tidak berguna tapi juga berbahaya dan kontra produktif. Teologi penerimaan bisa disalahgunakan oleh pemerintah dan perusahaan untuk mengaburkan tanggung jawab mereka dalam membuat sistem yang meminimalkan risiko kecelakaan.

Sumber : Status Facebook Nino Aditomo

Monday, January 27, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: