Tentang Surat An Nisa 135 Di Dinding Mahkamah Konstitusi

ilustrasi

Oleh : Munawar Khalil

Sebenarnya pembacaan ayat Al Qur'an itu biasa-biasa saja. Menjadi agak ganjil ketika dibacakan oleh salah satu pihak yang bersengkata dalam ruangan yang mengadili persengketaan yang pengadilnya terdiri dari berbagai unsur agama yang berbeda.

Dalam diksinya, karena dibacakan oleh yang bersengketa, An Nisa 135 yang bicara tentang keadilan untuk pengadil ini 'seolah' menggurui hakim-hakim yang berada di MK untuk bersikap adil karena dikhawatirkan memutuskan perkara secara memihak.

Kita tahu, dari awal semua lembaga dari jenjang terbawah diragukan netralitasnya, mulai KPPS, Bawaslu, lembaga survey, Polri, hingga KPU, bahkan MK. Sampai ketua MK sendiri diberondong dengan keraguan hingga akhirnya membuat statement bahwa hanya Allah yang mereka takuti.

Inilah yang menjadi dasar kenapa An Nisa 135 yang juga terpampang di depan MK dan juga di dinding gerbang fakultas hukum Harvard University AS di bacakan kembali oleh pihak yang bersengketa di MK. Padahal bagi hakim-hakim yang beragama Islam tentu saja ayat inipun sudah menjadi pegangan dalam mereka menjalankan tugas memberikan keadilan bagi yang berperkara. Itu kelihatan jelas dari attitude, gesture, dan pengetahuan agama yang cukup baik yang dimiliki para hakim-hakim di MK.

Yang jadi masalah, adil itu tafsirnya akan berbeda nanti bagi pihak yang berperkara. Adil itu ketika permohonan pihak pemohon diterima, dan tidak adil jika permohonan ditolak. Dan sebaliknya, mungkin juga terjadi pada pihak termohon.

Tapi ada hal lain yang juga menjadi catatan penting dan cukup menyejukkan, yaitu ketika ketua mahkamah sendiri dengan bijak mengizinkan pihak pemohon membacakan ayat tersebut, walau terlihat berbisik ke hakim di samping beliau dengan gerak bibir 'biar saja' yang tampaknya kurang sepakat jika ayat tersebut dibacakan.

Momen-momen seperti inilah yang luar biasa, dan mungkin terlewat dari pandangan kita.

Namun menurut saya, alangkah lebih bijak dan merdu lagi jika ayat tersebut dibacakan bukan oleh pihak berperkara, tapi atas ide mahkamah, dibacakan oleh pembaca Al Quran yang qari' dan berasal dari pihak yang netral, sehingga ayat indah ini tidak sekedar menjadi ajang unjuk kekuatan apalagi menggurui.

Wallahu'alam...

Sumber : Status Facebook Munawar Khalil

Sunday, June 23, 2019 - 19:15
Kategori Rubrik: