Tentang SJW Garis Cari Panggung

ilustrasi

Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo

Semalam saya ngobrol dengan sahabat. Sambil ngangkring, mumpung di Jogja. Beliau memberitahu saya, betapa berbeda 180 derajat cara saya melihat persoalan HRS dengan banyak teman. Intinya satu: saya berusaha meng-guliverisasi, sementara banyak pengamat lain justru mengglorifikasi-nya. Dan kenyataan itu benar adanya. Silahkan membaca balik mereka, bagaimana cara mereka menulis, pilihan katanya, dan strategi mereka mendedah persoalan.

Tidak satu dua, tapi banyak. Ketika ada orang lain yang meneliti dan memperbandingkannya. Akan ketemu bahwa cara menulisnya sama, karena bahan bakunya sama. Terlihat bahwa itu sejenis orderan. Dan itu dilakukan oleh banyak penulis yang notabene selalu mendaku independent, anti-buzzer pemerintah, dan bla bla bla khas seorang SJW. Social Justice Warriors, sebuah anomali karena nama agungnya sekaligus ejekan terkutuk bagi mereka....

Sebenarnya bagi penulis yang cermat, membedakan tulisan baik dan buruk itu gampang sekali. Mana yang berdasar riset mendalam, mana yang hanya memungut data dari sana sini. Dan semalam, saya baru tahu bahwa si para penulis itu ternyata tidak tinggal di Indonesia. Mereka menulis dari luar negeri, hidup dari lembaga donor entah yang mana lagi. Yang tentu masing2 membawa kepentingan yang berbeda.

Anehnya, ketika mereka men-discuss, me-wacanakan HRS. Nadanya sama persis. Yang intinya mengglorifikasi. Dan reaksi mereka sama, ketika pemerintah menggunakan "strategi pembiaran". Mereka teriak Jokowi mlempem, pemerintah dimana, Si Menteri ini blangkemen, dst dst nya. Intinya menjunjung tinggi sekali HRS, dan menisbikan Jokowi dan jajarannya.

Tanya kenapa?

Ya, karena hari ini tak ada lain oposisi yang mempan beradu gares kepada Jokowi. Lalu momentum kepulangan HRS dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengisi curriculum vitae daftar karya tulis kerja mereka. Setelah GN dengan KAMI-nya nyungsep di Omnimbus Law. Mereka butuh figur baru....

Dan bagian yang tak terbayangkan, sebagaimana biasa mereka2 ini adalah manusia hybrid. Etnik nya tidak linier dengan agamanya, tidak linier dengan nasionalisme. Mereka mendaku seorang humanis, tapi suka sekali mengumbar konflik. Ketika mereka kepepet salah, mereka akan bilang inilah dinamika alam demokrasi. Pret!

Analisa itu boleh salah, tapi kita tidak boleh bohong dengan realitas. Bohong saja tidak boleh, apalagi terang2an melakukan pelanggaran hukum. Nah karakter orang2 SJW itu sesungguhnya lebih jahat daripada para politikus busuk yang selamanya oportunis itu. Mereka sama2 pembohong, pengadu domba. Bedanya politikus berani tampak muka ketika mereka kepergok mencuri. SJW ketika kepergok berbohong, mereka akan adu argumentasi berlindung di sudut pandang yang berbeda. Cih!

Kembali ke konteks HRS, sekali lagi saya tak habis pikir. Mereka ini kaum minoritas yang saat ini justru jadi bahan "pengkafiran", tapi mereka lebih rela menjual martabat harga dirinya demi dollar. Mereka justru dengan santai berbicara tentang kebesaran HRS, jauh lebih gigantik dibanding misalnya seorang intelektual muslim lainnya. Mereka akan terus mencarikan musuh pemerintah atas nama demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Mereka ini SJW kampret yang hidupnya asyik bermewah2 di luar sana. Melihat bak mata elang, fokus pada anak ayam yang sedang diincarnya. Mereka tidak peduli bahwa, di sekitarnya banyak juga buaya, macan, atau celeng yang justru siap menyergapnya. Mereka merasa diri elang, yang berani terbang tinggi. Kukuh karena back-up kepentingan asing yang membayarnya.

Saya bukan fans-nya Mardigu Wowiek. tapi ketika ia berbicara betapa banyaknya infiltrasi asing melalui langkah intelejen di berbagai bidang untuk melemahakan posisi Indonesia. Dia banyak benarnya. SJW2 itu gak akan puas sebelum Indonesia pecah berkeping, sebagaimana Irak dan Suriah. Mereka sedemikian tega membuat analisa di banyak media on-line yang sesungguhnya juga gagap menarik simpati pengiklan. Lalu tunduk sebagai media bayaran, Mengunggah banyak analisa ngawur yang sungguh menyesatkan....

Bro, masbro. Sekalipun sejuta orang mempercayai cara bertuturmu, bagaimana kamu memalsukan data-datamu. Mengglorifasikan sesuatu yang remeh, dan mengkerdilkan sesuatu yang jauh lebih penting. Cukup satu dua orang yang tahu betul bagaimana cara kerjamu. Akan tiba saatnya orang menelanjangi dirimu. Cari panggung silahkan, halal kok cari penghidupan. Tapi mimpi jadi King Maker, pengen jadi Godfather. Ya nanti dulu....

Satu kata saja buatmu: kamu jahat!
.
.
.
#tetapbersamaJokowi

Sumber : Status Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

Wednesday, November 25, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: