Tentang Sekolah

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Jika saya diminta bercerita tentang pengalaman sekolah, kayaknya yang akan saya ceritakan melulu adalah betapa asyiknya bermain dengan teman. Selebihnya saya lupa.

Jujur, saya gak ingat soal pelajaran apa yang waktu itu dipelajari. Pelajaran SMP yang masih menempel, mungkin ketika guru biologi mengajarkan mengenai organ reproduksi. Atau saat guru agama mengajarkamn soal mandi besar. 

 

Waktu itu kami mendengarkan dengan rasa ingin tahu yang besar disertai dengan cekikikan. 

Saya yakin jika pertanyaan yang sama ditanyakan kepada Anda mengenai pengalaman sekolah, bukan bagaimana belajar fisika atau rumus matematika yang keluar. Tapi, siapa yang dulu suka tidur di kelas. Siapa yang resleting celananya rusak saat upacara bendera. Atau siapa yang pernah gelut hanya gara-gara kalah main kelereng.

Artinya, bagi kita, dan juga anak-anak sekolah sekarang, bermain adalah hal yang paling menarik dari sekolah. Bukan mata pelajarannnya.

Wajar saja jika dalam sinetron, saat adegan berkenaan tentang aktivitas sekolah, kita selalu disuguhkan suasana anak-anak berteriak, ‘hooreee!’ justru saat bel pulang berbunyi. Seolah sebelumnya anak-anak itu berada dalam kurungan besi. Duduk di kelas adalah siksaan bagi mereka. 
Bagi anak-anak mungkin, sekolah seperti penjara. Teriakan, ‘hooreee!’ secara serempak pada saat bel pulang adalah buktinya.

Tapi anak-anak adalah mereka yang mencintai debu. Itu kata penyair India, Tabindranath Tagore. Tagore juga merasakan bagaimana sekolah telah membelengunya ketika kecil. Pada umur 13 tahun dia berhenti sekolah. Kemudian jadi penyair. 

Dia tumbuh jadi ikon intelektual India yang paling terkemuka hingga saat ini. Tagore juga tercatat sebagai penerima hadiah nobel kesusasteraan pertama dari Asia. Karya monumentalnya, Gitanjali, dibaca orang di seluruh dunia.

Di belahan bumi yang lain, ada Thomas Edison. Lelaki ini hanya tiga bulan mencicipi bangku sekolah. Sebab pada usia 12 tahun Thomas harus mencari nafkah untuk hidupnya. 

Ketika kecil, Thomas mengerami telur ayam. Ibunya kaget, tapi tidak lantas mengomel. Thomas yang penasaran, apakah telur bisa menetas setelah dihangatkan tubuhnya, mencoba berseksperimen. Kita tahu, eksperimennya mengerami telur ayam ternyata gagal. Tapi rasa ingin tahu yang dipupuk oleh ibunya menghasilkan sesuatu yang lain. Semasa hidupnya, selain bola lampu, ada sekitar 1.093 barang baru yang ditemukan Thomas Alfa Edison untuk orang pada jamannya.

Dunia juga mengenal Richard P. Feyman, nobelis fisika yang jenaka. Feyman selalu bersikap seperti anak kecil, asyik dengan rasa ingin tahunya. Dan kita paham rasa ingin tahu dimulai dari sebuah pertanyaan. 

Mungkin di sinilah letaknya. Orang-orang jenius itu selalu memulai dengan pertanyaan, bahkan untuk hal-hal yang oleh kebanyakan orang dianggap selesai. Dari sanalah fikiran mereka hidup dan berkembang.

Barangkali inilah yang menjadi masalah dengan sekolah kita –sebuah institusi yang sering lebih sibuk mengajarkan bagaimana mencari jawaban dan bukannya bagaimana memproduksi pertanyaan. Belakangan konsep Ujian Negara sebagai syarat kelulusan telah ikut mereduksi peran sekolah untuk membantu anak didik memproduksi pertanyaan sendiri. Akibatnya lembaga sekolah kehilangan kepercayaan dirinya. Sebab untuk urusan pengajaran bagaimana cara memilih jawaban, lembaga-lembaga bimbingan belajar dianggap lebih terampil.

Proses pengajaran yang melulu mementingkan jawaban, mungkin akan membuat kita jadi pintar seperti seperangkat komputer. Tapi, mungkin akan menghilangkan semangat anak kecil dalam diri kita. 

Semangat yang selalu mempertanyakan, kenapa begini, kenapa begitu? 

"Mas, kalau ada Kuntilanak putus cinta. Lalu dia mati bunuh diri. Kira-kira arwahnya bakal gentayangan lagi gakl?" tanya Abu Kumkum.

Bukan pertanyaan kayak gini, Kum...

www.ekokuntadhi.id

Thursday, June 27, 2019 - 00:30
Kategori Rubrik: