Tentang Qassim Soleimani (1)

 

Oleh: Dina Sulaeman

 

Gugurnya Komandan Quds Force Iran, Jenderal Qassem Soleimani, akibat serangan roket [1] yang ditembakkan militer AS secara sengaja atas perintah Trump telah mendapat pemberitaan luas. Saya membaca cukup banyak di antaranya, baik media Barat maupun nasional. Seperti biasa, umumnya media nasional melakukan copas-terjemah-edit sumber-sumber Barat, dan frasa yang sering diulang adalah bahwa Jend. Soleimani “berperan dalam meluaskan pengaruh Iran di Timteng”. Sungguh frasa khas Washington.

Ada beberapa yang menulis bahwa Jend Soleimani ‘berperan’ dalam melawan ISIS; lebih banyak lagi yang menyebut ‘berperan’ dalam ‘perang saudara’ di Suriah. Di media sosial, termasuk grup-grup WA, yang disebarkan lebih sadis: Jend Soleimani berperan dalam “membunuh kaum Sunni di Irak dan Suriah”. Padahal kita tahu, di Suriah bukanlah ‘perang saudara’ melainkan perang sebuah bangsa melawan ISIS dan ratusan milisi lainnya yang berafiliasi dengan Al Qaida. Pasukan milisi teror tersebut jelas bukan Sunni, tapi Wahabi. Dalam Muktamar Ulama Aswaja di Chechnya tahun 2016, Wahabi dinyatakan bukan bagian dari Ahlussunnah karena Ahlussunnah sama sekali tidak berpaham takfiri, apalagi membunuh sesama Muslim dengan tuduhan ‘kafir’ sebagaimana yang diajarkan ideolog Wahabi.[2]

 

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Sang Jenderal?

Menlu Iran, Javad Zarif, segera setelah kabar kematian Jenderal Soleimani tersebar, menulis di Twitter-nya sebuah kalimat yang paling tepat menjelaskan situasi yang sebenarnya: AS telah melakukan aksi terorisme internasional, menargetkan dan membunuh Jendera Soleimani, kekuatan PALING EFEKTIF dalam memerangi ISIS, Al Nusrah, Al Qaeda, dll.

Kekalahan ISIS dan ratusan milisi Al Qaida (dalam berbagai nama, mulai dari Al Nusra, Jaish al Islam, hingga FSA yang diistilahkan oleh media Barat sebagai ‘pemberontak moderat’) di Irak dan Suriah adalah berkat strategi dan komando Soleimani. Yang dilakukannya selama beberapa tahun terakhir adalah membangun jaringan milisi antiteroris takfiri/Wahabi yang bekerja sama dengan pemerintah resmi, baik di Irak maupun Suriah. Dengan kata lain, kehadiran Soleimani di Irak dan Suriah adalah atas izin pemerintah resmi.

Tentara nasional Irak dan Suriah tidak mampu melawan ISIS (dan milisi afiliasi Al Qaida) sendirian. Ini seharusnya memunculkan pertanyaan kritis: mengapa? Bagaimana mungkin milisi teror bisa sekuat itu? Bisa memiliki senjata-senjata tercanggih hingga lebih kuat dari tentara nasional? Siapa yang mendanai? Siapa yang menyuplai senjata? Siapa yang memberikan dukungan diplomatik dan propaganda media? Jawabannya justru sangat berkorelasi dengan kejadian terbaru ini: siapa yang membunuh Soleimani, tokoh sangat penting dalam perjuangan melawan semua milisi teroris itu? Amerika Serikat.

Soleimani berperan penting dalam merebut kembali kota Qusayr (2014) yang diduduki FSA dan berbagai milisi Al Qaida lainnya. Di sana, ia menjalin kerjasama dengan Hezbollah. Operasi merebut Qusayr merupakan pertama kalinya Hezbollah terlibat dalam perang Suriah, karena Qusayr berbatasan dengan Lebanon. Setelah Qusayr jatuh, kemungkinan besar target para teroris takfiri berikutnya adalah Hezbollah Lebanon. Pemerintah dan media Barat sering menyebut Hezbollah sebagai kelompok teroris meskipun yang dilakukan milisi yang direstui dan diterima oleh pemerintah dan rakyat Lebanon ini adalah mengusir Israel yang pernah menduduki sebagian tanah Lebanon. Setelah diusir tahun 2000, Israel terus melakukan provokasi serangan ke Lebanon. Mengapa? Karena Lebanon masuk dalam peta “Israel Raya”, bagi Israel, Lebanon termasuk ke dalam “tanah yang dijanjikan”, selain Palestina.

Tahun 2015, Soleimani diberitakan datang ke Rusia, meyakinkan Putin untuk bergabung melawan ISIS dan afiliasi Al Qaida. Putin adalah presiden yang rasional, dia paham resiko bila membiarkan milisi-milisi teror itu menang, aksi teror akan berlanjut ke jalanan Moskow. Ada ribuan milisi Chechen yang bergabung dengan ISIS-Al Qaida di Suriah. Perlu dicatat, bangsa Chechen (Chechnya) umumnya adalah Muslim Aswaja yang cinta damai dan antiteror, namun sejak merebaknya ideologi takfiri-Wahabi (yang memang menyebar masif ke berbagai penjuru dunia, termasuk juga Indonesia) banyak orang Chechen yang bergabung dengan milisi teror.

Dengan bergabungnya Rusia mulai September 2015, perlawanan terhadap ISIS dan ratusan milisi afiliasi Al Qaida itu berjalan sangat efektif. Rusia dan tentara nasional Suriah (SAA) melakukan serangan udara ke basis-basis kelompok teror, sementara milisi gabungan bentukan Soleimani (bekerja sama dengan tokoh pejuang Irak dan Suriah, tentu saja) bersama SAA melakukan serangan darat.

Padahal, sejak Agustus 2014, AS sebenarnya sudah membentuk pasukan koalisi untuk melawan ISIS. Tapi yang sering terjadi, saat SAA hampir mengalahkan ISIS, tiba-tiba saja pesawat tempur AS datang membombardir tentara Suriah. Alasannya selalu saja “salah tembak.”

Segera setelah bergabungnya Rusia, terjadi perimbangan kekuatan. Bahkan Rusia membongkar aib-aib AS dan Turki. Dengan pantauan satelit yang dilakukan Rusia, terlihat bahwa ISIS mencuri minyak Suriah, lalu dibawa ke Turki dengan sepengetahuan AS.

Kerjasama Turki-ISIS sejak lama diketahui jurnalis media alternatif, namun ditutupi media Barat. Seorang jurnalis AS, yang menjadi reporter Press TV pada 2013 telah melaporkan bahwa pasukan ISIS dan milisi Al Qaida lainnya secara bebas masuk ke Suriah melalui perbatasan Turki; ada kamp-kamp pelatihan teroris yang disamarkan sebagai ‘kamp pengungsi’, dan ada suplai senjata dari Pangkalan Udara AS Incirlik di Turki kepada teroris di kamp-kamp tersebut. Pada Oktober 2014, ia tewas secara mencurigakan dalam kecelakaan mobil di perbatasan Turki-Suriah. Namanya Sherena Shim, cantik, gugur di usia 29 tahun.[3]

---
[1] ada berbagai info soal serangan, “roket” saya ambil dari PressTV 
[2] https://www.islampers.com/…/ulama-aswaja-sedunia-sepakat-me…
[3] https://www.globalresearch.ca/american-journalist-k…/5551946

 

(Sumber: Facebook Dina Sulaeman)
Monday, January 6, 2020 - 14:45
Kategori Rubrik: