Tentang Plasma Convalescent

ilustrasi

Oleh : Agni B Sugiyamto

Terapi OLD yang sekarang akan digunakan lagi untuk melawan covid 19.

Plasma (darah tanpa sel darah merah dan platelet) pasien COVID yang sembuh di ambil dan di TRANSFUSIkan kepada pasien yang masih berjuang melawan COVID.

Diharapkan, ANTIBODI akan berikatan dengan ANTIGEN dan terjadi apa yang disebut proses NETRALISIR. Virus diliputi oleh ANTIBODI sehingga tidak bisa menginfeksi, bahkan ditandai untuk di rusak oleh sistem imun bahkan di fagosit (makan) oleh sel sel imun.

Tetapi pemberian plasma ini bukan masalah ringan. Pastinya mempunyai berbagai risiko.
Beberapa Hal yang harus diwaspadai:

1. Harus ada kecocokan darah, yaitu kecocokan golongan darah ABO dan rhesus antara donor dan resipien.

2. Plasma darah bebas dari virus hepatitis B, hepatitis C, HIV, berbagai virus, bakteri serta virus COVID itu sendiri.

3. Reaksi alergi, sekitar 1 sd 3 persen kejadian, yang sebagian besar kasusnya ringan. Tetapi pada beberapa kasus bisa menyebabkan sesak, syok bahkan kematian.

4. Risiko terjadinya TACO (transfusion associated circulatory overload), fatalitasnya (kematian) sekitar 5 sd 25 persen. Pasien yang diberi plasma ini bisa tetiba sesak nafas karena paru terendam cairan terutama pada usia tua dan usia muda, dengan atau tanpa kelainan jantung yang terdeteksi.

5. Risiko terjadi TRALI (transfusion related lung injury), yaitu pasien tetiba sesak bukan karena paru terendam cairan, tetapi karena aktivasi sel imun di sel paru yang menyerang sel paru. Biasanya akan pulih setelah 3 hari, tetapi FATALITAS atau kematiannya sekitar 5 sd 15 persen.

6. Terjadinya ADE (antibody dependant enhancement) jadi justeru pasien terpacu imunnya, dan memperburuk BADAI SITOKINnya bila antibodi dari donor ternyata aviditasnya tidak baik.

Segala hal ini seharusnya menjadi pertimbangan URGENT atau tidaknya pemberian PLASMA KONVALESEN ini. Dan pemilihan donor serta pemilihan pasien yang tepat.

Donor haruslah dilakukan berbagai skrining, dan harus mempunyai ANTIBODI yang cukup jumlahnya dan baik kualitasnya.

Dan resipien (penerima donor) pun harus dipilih pasien yang benar benar membutuhkan plasma itu. Antara risiko yang saya sebut diatas dengan manfaat yang didapat, haruslah lebih besar manfaatnya.

Kapan dipertimbangkan pemberian plasma ini? Pada 7 hari sejak onset sakit? Atau 14 hari onset sakit? Diberikan pada mereka dengan kondisi memburuk atau mereka yang stabil?

Yang jelas terapi ini mahal..
Dan berisiko tinggi..

Jangan sampai dirutinkan untuk semua pasien COVID.. Walaupun bersubsidi sekalipun.

Sumber : Status Facebook Agni B Sugiyamto

Friday, September 11, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: