Tentang Perusuh 22 Mei Yang Gagal Cari Pembeli

ilustrasi
Oleh : M Abdallah Badri
 
GUS Muwafiq sempat membatalkan ceramah hingga dua pekan pasca Pilpres 2019, hanya karena beliau harus berada di Jakarta untuk "menjaga gawang" agar kerusuhan 22 Mei 2019 tidak meluas dan menjadi konflik horizontal berskala nasional.
 
Bersama tokoh-tokoh yang berpengaruh, beliau harus mengamankan Jakarta dari skenario terburuk yang disusun oleh para dalang kerusuhan tersebut. Ratusan preman yang dibayar hanya dengan ratusan ribu pun ditangkap polisi pasca kerusuhan 22 Mei 2019.
 
Menurut Gus Muwafiq, para perusuh itu datang ke Jakarta dengan ajakan pihak-pihak suka rusuh. Tapi begitu sampai di lokasi mereka kehilangan biduk. Polisi pun menyebut massa perusuh sangat cair di lapangan, yang artinya, kehilangan komando utama.
 
Bagi Gus Muwafiq, mereka ini digiring oleh pihak yang dana simpanannya di Swiss dibekukan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Nilainya mencapai 7.000 triliun. Sayangnya, ketika sampai di Jakarta, dana kerusuhan dianggap kurang bisa menggerakkan massa.
Karena kekurangan dana inilah, skenario rusuh nasional tidak berhasil. Perusuh itu gagal mencari pembeli skenario konfliknya. Apalagi unsur yang menggerakkan kerusuhan tidak ada, yakni krisis moneter dan mahalnya harga barang-barang.
 
Polisi pun berhasil membuktikan bahwa orang-orang lapangan yang membikin rusuh ternyata berjejaring dengan kelompok jihadis yang suka menggunakan teror sebagai aksi utama.
 
Andai saja para perusuh itu dibeli dengan harga yang lumayan mahal, misalnya 100 triliun, barangkali Gus Muwafiq akan lebih lama menjadi "penjaga gawang" di Jakarta. Tapi alhamdulillah tidak.
 
Sumber : Status Facebook M Abdullah Badri
Monday, June 10, 2019 - 19:15
Kategori Rubrik: