Tentang Pertanyaan Karni Ilyas kepada Presiden Jokowi

Oleh: Liza Novijanti

Karni Ilyas: Bagaimana mengendalikan pemerintahan jika tidak punya saham?

Anda tidak melihat kehebatannya Pak Karni? Tanpa saham, tidak punya partai, dan bukan petinggi partai, Pak Jokowi bisa membuat KMP bubar dan kocar kacir. APBN selalu bisa disetujui, PPP, PAN dan bahkan Golkar bisa ikut bergabung ke pemerintahan tanpa imbalan mahar politik dan tanpa janji kursi mentri. Saham terbesar adalah Rakyat. Bekerja untuk rakyat. dan itu yang paling penting.

Dulu jika ada perpecahan di tubuh partai, selalu ada tangan-tangan pemerintah ikut memenangkan salah satu kubu, seperti pada kasus PDI dan PKB. Yang dikalahkan pasti yang mempunyai figur kuat macam Mega dan Gus Dur. Pak Jokowi tidak seperti itu, selalu jalan damai yang ditempuh, tidak ada yang dimenangkan ataupun dikalahkan. Efeknya dahsyat, akhirnya semua kubu yang bertentangan jadi ikut mendukung dan memperkuat pemerintahan. Kasihan Gerindra manyun sendirian melihat PSK main mata, maju mundur, jelek

Tukang mebel itu belajar cepat, bekerja cepat. Semua lini dipelajari sehingga tak bisa dibohongi, dan pembantunya ndak bisa ABS lagi. Bahkan masalah ekonomi pun beliau tidak bisa dibohongi, oleh segala macam laporan Gubernur BI yg diangkat Sang Mantan. Dulu Bunga kredit bisa sampai 23% kalau pinjaman kecil macam KUR ataupun UMKM. Kalau debitur besar bunga bisa rendah cuma 13%,,, Hahaha,

Sekarang Presiden kasih 9%, bahkan beliau berencana kasih bunga kredit hanya 4%. Sang mantan bisa tambah baper dan mencuit liar, karena jadi keliatan kelemahan di tubuh besarnya. Bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa digenjot jika bunga kredit tinggi seperti sekarang? Sepertinya Presiden perlu mengganti Gub BI, jika dia tidak segera menurunkan suku bunga sampai setara atau di bawah tingkat inflasi.

Negara negara besar sudah mulai mematok suku bunga rendah supaya tidak terjadi Lazy Bank, dimana bank malas menyalurkan kredit. Di Indonesia suku bunga tinggi, sehingga bank2 itu lebih suka menyetor uangnya ke BI untuk mendapatkan selisih bunga yang besar. Bayangkan bank swasta cuma kasih bunga pada nasabah 2,5%. Kemudian disetorkan ke BI, dapat bunga 7%. Dengan ongkang2 kaki bank itu akan mendapat 4,5%, kalikan saja dengan Triliun, pusing dah ngitungnya. Makanya roda ekonomi seret, karena Bank malas menyalurkan kredit. Suap dan kredit macet merajalela, akibat suku bunga tinggi,

Dimana biasanya Pengusaha kakap menyuap untuk mendapatkan kredit. Mereka usaha sebentar, kemudian menyatakan bangkrut, dan melarikan diri ke LN, macet dah. Lha nyuapnya saja kadang sampai 50% dari pinjaman. Bankir biasanya malas memberi pinjaman kecil ke UMKM, karena ndak dapat ceperan, kikikik, padahal peminjam kecil itu biasanya malah jarang macet.
Hal ini salah satu, dari yang hendak saya sampaikan saat ketemu Presiden, Malah Presiden sudah tahu duluan, akhirnya usul yang satunya ndak saya berikan karena malu, sepertinya Presiden itu pinter banget, hihihihihi. Saya berharap Presiden menemukan jalannya sendiri untuk mengatasi masalah ekonomi ini.

Oh iya mungkin ada yang tanya kalau bunga 0%-0,5% bahkan minus apakah itu tidak akan mematikan bank? Oooh tidak, bank akan menjadi lebih dinamis, akan tetap menarik nasabah untuk menabung dengan bunga sampai 2%. Selanjutnya bank akan berusaha menyalurkan kredit dengan bunga sampai 7%, dengan kerja keras, dan tidak ada lagi bankir yang main mata, studi kelayakan kredit akan dijalankan dengan ketat, hanya perusahaan yang bonafide yang akan dapat kredit. Dan tidak ada lagi dana pembangunan yang macet tak tersalurkan dan ngendon di bank dimana bunganya dinikmati pemda seperti di Indonesia saat ini (Tahun 2015 dana tak terserap mencapai 249 T). Karena bank tidak akan memberikan bunga pada dana2 yang tidak bisa disalurkan menjadi kredit macam itu.

Bravo President, You are brilliant and on the track!

(Sumber: Facebook Liza Novijanti)

Tuesday, March 1, 2016 - 11:45
Kategori Rubrik: