Tentang Perekrutan Dosen dari Luar Negeri

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Selain wacana mengimpor rektor dari Luar Negeri, pemerintah juga mewacanakan (atau mungkin sudah dilaksanakan?) untuk merekrut para tenaga pengajar dari "lurneg" (luar negeri). Semua itu untuk meningkatkan kualitas dan reputasi kampus-kampus Indonesia di tingkat internasional. Tentu saja wacana dan kebijakan ini sangat baik dan memang sudah banyak dilakukan oleh berbagai negara termasuk negara-negara di Asia: Singapore, Malaysia, Brunei, Jepang, Korea, Hong Kong, Gulf states, dlsb. Pemerintah konon akan menganggarkan mekanisme pengganjian staf pengajar "lurneg" ini dari LPDP.

Meskipun begitu, sebelum terburu-buru merekrut para dosen dari "lurneg", kampus-kampus perlu membenahi diri dulu dalam banyak hal: sistem akademiknya, kurikulumnya, beban mengajarnya, fasilitas risetnya (misalnya akses ke jurnal-jurnal top dunia, labs, dlsb). Jika "kebutuhan akademik" tidak dibenahi terlebih dahulu, maka akan sulit juga untuk merawat para dosen "lurneg" ini. Kebanyakan kampus-kampus bersemangat untuk merekrut para dosen hebat tetapi lupa untuk memperhatikan dan merawat mereka. Akhrinya ya mereka kabur lagi.

Beban mengajar misalnya ini sangat penting. Seorang dosen tidak akan mampu produktif menulis dan riset jika beban mengajarnya sangat tinggi. Di kampus-kampus riset top dunia, beban mengajar paling dua mata kuliah per semester, bahkan bagi dosen senior cukup satu saja. Tujuannya supaya memberi peluang bagi dosen untuk menulis sebanyak-banyaknya. Saya juga cuma mengajar satu mata kuliah per semester.

Selanjutnya juga perlu diperhatikan jangan asal merekrut "dosen lurneg" tetapi mereka yang betul-betul mempunyai produktivitas menulis di jurnal-jurnal bagus dan yang aktif riset karena tidak semua dosen lurneg, bule sekalipun mempunyai karya akademik dan kualitas menulis yang baik. Selama ini saya juga terlibat di "search committee" yang menyeleksi berbagai pelamar dosen di kampusku dan banyak sekali para pelamar bule yang miskin karya. Tentu saja langsung saya masukin ke "keranjang sampah" berkas-berkas lamaran mereka.

Penting juga untuk diperhatikan: untuk mengoptimalkan para "dosen hebat" made-in dalam negeri yang sudah mengajar di kampus-kampus di Indonesia. Mungkin karena akibat banyak hal yang tidak produktif (seperti tugas-tugas tetek-bengek administrasi, beban mengajar yang menggunung, dlsb), mereka yang alumni universitas-universitas top di lurneg kemudian "mandul" ketika balik kampus. Meskipun saya melihat ada beberapa pengajar yang sangat hebat dan mumpuni dan mampu bertahan "di tengah kekurangan dan penderitaan". Tetapi itu jumlahnya kan sangat mini sekali, bahkan lebih mini dari metromini dan mini-mini yang lain.

Selain itu, pemerintah juga perlu fokus untuk merekrut para "anak bangsa" yang keren-keren yang berkarir di berbagai kampus beken di lurneg yang jumlahnya cukup lumayan itu agar "balik kandang" dan ikut membenahi dunia pendidikan dan perguruan tinggi di Indonesia. Negeri "Upin-Ipin" Malaysia termasuk yang gencar merekrut para ahli, sarjana, dan scientists dari Indonesia. Jangan biarkan mereka berkelana terus-menerus di negara-negara lain dan berkarya atas nama negara-negara lain itu.

Jika berbagai hal diatas tidak diperhatikan dengan baik, maka wacana hanya wacana, mimpi tinggal mimpi...** (ak)

Sumber : Facebook Sumanto Al Qurtuby

Sunday, June 19, 2016 - 06:00
Kategori Rubrik: