Tentang Pak Ilyas Karim

Oleh: Muhammad Jawy
 

Politisasi terhadap Ilyas Karim menurut saya sudah sangat berlebihan. Ya, tidak kurang orang seperti Fadli Zon dan JJ Rizal pun mengatakan bahwa Ilyas Karim bukanlah pengibar bendera pusaka.

TAPI, beliau adalah betulan veteran, orang tua, sesepuh kita, yang pernah berjuang untuk negeri ini, sehingga kita yang masih muda, juga jangan kemudian malah menghujat beliau karena beliau mengungkapkan fakta yang keliru, apapun motif beliau.

Untuk menjadi pahlawan di negeri ini, tidak harus menjadi pengibar bendera. Banyak pahlawan yang bahkan kita tidak tahu namanya, karena orangnya keburu meninggal ketika berjihad di medan peperangan melawan penjajah tanpa sempat mencatatkan namanya. Mereka mungkin tidak dikenal oleh penduduk dunia, tapi mereka InsyaAllah akan menjadi orang terkenal di kampung akhirat.

Politisasi yang dilakukan oleh Jonru dkk juga sangat tidak pantas. Memangnya selama ini mereka betulan peduli dengan para veteran? Masih banyak lho para veteran yang selama ini masih hidup dengan dukungan finansial yang minim. Sebelumnya ngapain aja pahlawan kesiangan ini? Tapi memang apa sih yang bisa diharapkan dari model Jonru dkk. Apa yang bisa dipakai untuk mendiskreditkan pemerintah, akan dilakukannya. Entah berapa dusta dan hoax yang sudah disebarkan olehnya.

Maksud saya, janganlah ketidaksukaan kita terhadap politisasi Jonru dkk membuat kita kemudian menghujat Pak Ilyas, yang memang betulan veteran, meskipun bukan pengibar bendera pusaka. Kalaupun Pak Ilyas dianggap keliru karena mengklaim sebagai pengibar bendera, maka kita yang muda yang harus "mengalah", yaitu untuk tidak langsung menghujatnya.

Orang mungkin bertanya, kenapa Pak Ilyas masih tinggal di rumah (yang mungkin kumuh) di Rawajati, sedangkan dia punya anak yang sudah mandiri? Psikologi orang tua, umumnya tidak mau merepotkan anaknya. Dia lebih nyaman tinggal di tempat dia sendiri, meskipun tidak sebagus tempat anaknya.

Kakek saya sendiri, usia hampir 90 tahun. kalau Ibu saya inginnya beliau selalu tinggal di tempat Ibu saya di kota lain yang lebih nyaman, dan jelas ada yang melayani. Tapi kakek saya selalu minta pulang, karena sekadar ingin bisa menyapu halaman, mencabuti rumput, membersihkan pekarangan, mengurusi panenan sawah. Buat beliau, aktivitas seperti itu memang sudah terpatri, sekaligus juga karena ada rasa pekewuh (segan) karena merasa merepoti anaknya. Sangat mungkin Pak Ilyas juga sama.

Semoga masalah ini segera selesai, Pak Ilyas bisa segera mendapatkan tempat yang tenang untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan baik, juga warga Rawajati lain bisa segera lanjut lagi hidupnya, pemerintah juga programnya bisa berjalan. Sekalipun saya bukan orang yang setuju dengan model penggusuran seperti ini, tapi saya tidak dalam posisi mengatakan kebijakan itu benar atau salah, tidak hanya DKI, Bandung, Medan, Surabaya dan kota besar lain pun juga melakukan penggusuran untuk kepentingan yang lebih luas. Saya cuma berharap semakin ke depan, warga kita semakin maju dan semakin tertib, sehingga potensi konflik seperti ini semakin hilang.

Wallahua'lam.

 

(Sumber: Status Facebook Muhammad Jawy)

Saturday, September 3, 2016 - 14:45
Kategori Rubrik: