Tentang New Normal

 

Oleh: Vika Klaretha Dyahsasanti

 

Ada kisah di komik Donal Bebek saat saya kecil yang terasa sangat futuris, tetapi mungkin pas untuk masa pandemi. Dikisahkan Profesor Lang Ling Lung berhasil menciptakan replika tempat wisata mini seperti studio di rumah. Ada yang menyerupai pantai, lengkap ombak dan matahari untuk berjemur, gunung untuk didaki, bahkan alam yang indah untuk bersepeda. Paman Gober kemudian menjadi kaya karena memproduksi wisata mini itu. Kisah selanjutnya saya lupa. Kalau tidak salah berhubungan dengan sistem yang mendadak rusak, sehingga wisata mini tersebut ditinggalkan orang.

Kisah itu lahir di tahun 80an. Masa interaksi fisik secara komunal belum memberi banyak ekses buruk. Maka individualisme, tidak berinteraksi dengan orang, tidak disarankan. Sekumpulan orang mengobrol di pos ronda, hanyalah mengobrol. Tidak bergerak membuat kerusuhan, atau menggalang demo dengan orasi yang memancing perpecahan. Hal-hal yang terjadi di tahun-tahun belakangan.

 

Lalu pandemi datang, dan entah kenapa, ia bagi saya seperti dikirim oleh alam untuk kembali menyeimbangkan apa-apa yang telah berlebihan. Ini bukan berarti saya tak berduka dengan banyaknya korban. Tetapi pandemi ini membuat kita harus banyak mereview kembali tata nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan selama ini.

Banyak kita melihat kerumunan massa dengan kecemasan. Orang yang berkumpul girang, namun kita menjadi was-was: 'anda puas, kami cemas'. Kegirangan itu seringkali berubah menjadi kegarangan, chaotic.

Kita juga masih mengukur popularitas dari banyaknya orang yang berkumpul. Membuat semua yang politis selalu berusaha mengumpulkan massa. Sarana pencitraan terefektif di mata masyarakat komunal seperti kita. Dari situ terkadang orang mengukur kebenaran dari banyaknya 'pasukan' yang berhasil dikumpulkan.

Lalu pandemi datang, ia ibarat pemicu perang. Seperti terbunuhnya Franz Ferdinand yang menjadi pemicu PD 1, meski sebetulnya memang negeri-negeri tersebut telah menyimpan potensi ribut. Pandemi seperti mengaminkan ketakutan banyak orang pada potensi kerusuhan dari massa yang berkumpul.

Alam seringkali bergerak turun tangan memperbaiki yang buruk. Meski belum bisa dibuktikan keberadaannya secara ilmiah, membuat kita merasa ada campur tangan Tuhan di situ. Tuhan, dalam arti 'invisible hand'. Sesuatu yang menjamah apa yang tak lagi mampu diperbaiki manusia sendiri. Tetapi mengapa Tuhan memilih penyelesaian yang memakan korban? Diskriminatifkah Tuhan?

Tidak tahu. Yang jelas alam sudah banyak berubah. Dulu Sapardi Djoko Damono membuat Puisi Hujan Bulan Juni untuk menyatakan sesuatu yang tak mungkin, perasaan yang hanya tersembunyi. Seperti hujan yang tak mungkin jatuh di bulan Juni, di masa pemanasan global belum berpengaruh. Tetapi tafsir tentang Hujan Bulan Juni saat ini tak lagi terasa tak mungkin. Di penghujung Mei saja, berkali-kali hujan turun dan langit senantiasa mendung.

Hujan bulan Juni mungkin adalah 'new normal', kelaziman baru. Keadaan yang dulu tak ada, tetapi menjadi lazim di masa kini. Membuat meratapi mengapa hujan jatuh di Bulan Juni menjadi terasa aneh. Sama konyolnya dengan tetap berkeras menganggap hujan tak mungkin jatuh di Bulan Juni.

Kelaziman baru membuat kita akan memahami bila kelak wisata mini seperti ciptaan Lang Ling Lung dalam kisah Donal Bebek menjadi nyata. Sama seperti saya memandang kagum virtual tour ke Alaska, berasa saya benar-benar berada di sana.

Cinta alam akan punya arti baru. Tidak melulu harus ke alam terbuka, seperti yang biasa saya lakukan dulu, tetapi cukup memandang dari jauh. Membiarkan alam berbahagia tanpa jejak penuh tenaga sepatu dekil saya yang menyiksa rumput, dan bokong yang seenaknya nongkrong di batu. Mungkin unsur-unsur alam itu telah berdoa pada Tuhan, agar diberi kelegaan terhadap gangguan saya yang terkutuk. Apa yang saya kira cinta alam, ternyata sejatinya membuat rumput, pohon, batu dan lain-lain tersiksa. Seperti kedatangan tamu yang mengacak-acak rumah kita.

Kelaziman baru mungkin akan membuat kita terbiasa dengan serangkaian test kesehatan sebelum berkumpul dengan banyak orang. Andai vaksin belum ditemukan, saya kira akan ada terobosan tentamg test kesehatan yang masal dan murah. Dan semoga diikuti timbulnya kesadaran baru, membahayakan orang lain adalah kejahatan.

Kelaziman baru saya harap juga menyangkut jam sekolah yang lebih sedikit. Masuk seminggu sekali dengan jumlah murid yang terbatas. Dan anak-anak menjadi bodoh karena tak bersekolah, kata teman. Saya mengangkat bahu, "Mungkin di masa 'new normal', yang berhasil adalah anak yang punya kemampuan otodidak. Guru hanyalah mentor, yang memberi garis besar bahan pelajaran. Ukuran keberhasilan tak melulu kepatuhan, berpikir otonom mungkin mendapat tempat..."

Kelaziman baru pasti datang, dan (lagi-lagi) semoga salah satumya adalah keheningan baru. Dunia yang lebih hening, tak seriuh dulu. Bukan hanya hening dalam suara. Tetapi hening dalam arti tak lagi hedon, berlebihan.

Semoga...

 
(Sumber: Facebook Vika Klaretha D)
Thursday, May 28, 2020 - 13:30
Kategori Rubrik: