Tentang Mereka yang Membakar Paspornya

ilustrasi

Oleh : Bintang Prabowo

Kali ini saya benar-benar menunggu gelombang emosi di timeline mereda mengenai rencana memulangkan WNI pengkhianat yang pergi diam-diam kemudian membakar paspornya setelah merutuki negeri kita yang indah ini sebagai negara toghut..

sebetulnya ini adalah semacam perumpamaan yang indah bagi orang orang yang mau melihat hikmah..

kisah impian kosong para militan Daesh ini merupakan gambaran dari cerita penuh semangat orang-orang yang merasa sedang menjemput surga, kemudian menyakiti hati orang lain, bahkan menghina tanah surga Indonesia, dimana jutaan mata air jernih mengalir, buah-buahan tropis tersedia sepanjang tahun, madu dan susu melimpah dimana-mana.. batang ketela yang cuma ditancapkan akan berbakti dengan ubi yang gemuk dalam beberapa bulan saja.. padi yang disemai, tinggal ditunggu menguning, sambil berseruling di atas kerbau..

dan setelah menyadari bahwa yang mereka puja-puja sebagai surga dan puncak cita-cita ideologi itu ternyata adalah neraka jahanam yang sesungguhnya, mereka kemudian berbalik menelan ludah, lalu ingin hidup kembali di Indonesia.. kepingan surga di khatulistiwa..

di sini dilema yang sesungguhnya dimulai..

kita bisa berdebat berbulan-bulan mengenai apakah mereka layak diterima kembali atau tidak.. bahasa lainnya: dipulangkan, dijemput, dideportasi kembali..

Posisi pemerintah jadi lumayan sulit..
di satu sisi, pemerintah Syria dan Iraq juga tidak akan sudi merawat dan memberi makan orang-orang ini terus menerus di bumi mereka.. Negara lain juga tidak akan mau menerimanya.. Bahkan ketika pemerintah Indonesia tidak menjemputnya, mereka akan tetap dideportasi paksa dengan pesawat atau kapal laut ke Indonesia..

kalaupun masyarakat kita menganggap mereka ini sampah peradaban, ya bagaimanapun juga faktanya mereka adalah sampah domestik yang berasal dari dapur kita yang lepas bertaburan mengotori negara lain..
sulit rasanya membayangkan pemerintah menolak deportasi dari negara lain semacam ini.. kita kan hidup bertetangga di komunitas internasional..

kalau para pemangku kebijakan boleh memilih, rasa-rasanya 660 orang yang katanya eks-kombatan itu sebaiknya tidak usah kembali lagi ke tanah yang mereka toghut-toghutkan dan kafir-kafirkan ini.. dibom habis saja di sana, atau dieksekusi dan ditahan pemerintah lain karena kejahatan kemanusiaan yang luar biasa.. dan sepertinya sudah..
dari banyak gambar yang beredar, sebagian besar adalah perempuan.. artinya: (semoga) para lelaki durjananya telah habis...

para lelaki yang dulu dengan pengaruh misoginisnya berhasil menanamkan dogma, entah terpaksa atau sukarela, kepada para perempuan dan anak-anaknya, yang bisa jadi tidak punya kemerdekaan (berpikir) untuk menolak..

tapi memang jangan dulu berbelas iba.. di setiap upaya hipnotis dan gendam, pasti ada naluri serakah (greed) yang menggerakkan para korban.. serakah yang abstrak tentu saja surga dan janji panji khilafah.. yang lebih pragmatis lagi: duit..

mereka yang nekat berangkat melalui pintu-pintu ilegal itu terbujuk janji gaji dan honor yang sangat besar, puluhan hingga ratusan kali lipat penghasilan mereka di Indonesia.. itu sebabnya mereka nekat menjual rumah dan harta bendanya, lalu kabur sambil membakar jembatan di belakangnya..

lalu bagaimana nasib para perempuan (dan anak-anak balita?) yang sekarang berada di tenda-tenda pengungsian ini?

sulit memang kemudian memastikan, seberapa jauh orang-orang ini tersesat dalam radikalisme.. yang die-harder khilafah pasti memilih mati saja.. tapi yang pasukan takut mati, atau lebih parah lagi "pasukan kamikaze" pura-pura takut mati, pasti ada di sebagian dari rombongan itu.. bersama dengan orang-orang yang mungkin betulan insyaf dan menjadi sangat jijik dengan janji khilafah ala Daesh yang memuakkan itu..

bukankah ada adagium yang menyebutkan bahwa lebih baik membebaskan seribu orang yang ternyata bersalah, daripada terlanjur menghukum satu orang yang ternyata sungguh tidak bersalah..
tidak adil rasanya membiarkan satu saja diantara 660 orang itu dibiarkan mati nelangsa di tanah orang, padahal mereka betulan tertipu, dan sadar betul untuk bertobat sepenuhnya; taubatannasuha..

perkara repatriasi warga negara bermasalah ini memang tidak sesederhana kasus TKI ilegal, atau dijemputnya warga negara indonesia terkena bencana, atau yang belakangan ini dievakuasi dari Wuhan karena virus Corona..

bahkan untuk Virus Corona saja, mereka harus dikarantina, dan ditolak-tolak oleh warga parno di Natuna.. virus yang hanya menular lewat sentuhan fisik dan menghirup doplet yang mengandung virus.. yang kalau 14 hari tidak menampakkan gejala, artinya aman dan baik-baik saja..

apalagi untuk virus radikalisme..

fakta sudah membuktikan bahwa beberapa orang yg terpapar radikalisme di afghanistan, suriah, iraq, dan daerah konflik lainnya, mendadak berubah menjadi monster yang bisa meledak kapan saja..
saya bahkan pernah mendengar anak SD, yang entah dari siapa, punya pikiran radikal untuk membakar sekolah yang terafiliasi sebagai yayasan yang bukan seagama dengannya, kemudian menggumamkannya hingga terdengar orang-orang di sekelilingnya..

tapi kabar baiknya, beberapa pelaku kejahatan yang berhasil dideradikalisasi, bertransformasi menjadi semacam antivirus yang bisa dimanfaatkan untuk melawan virus ganas, atau bahkan menciptakan sistem imun baru bagi generasi mendatang yang masih sehat..

lalu bagaimana memfilter para "emak-emak eks-kombatan" ini?

jujur saja, saya tidak tahu..
tapi secara akal sehat, mereka harusnya melewati tahapan screening yang ketat.. lebih ketat dari suspect potensial pembawa virus Corona..
mereka juga harus dihukum atas kejahatan yang pastinya pernah dilakukan.. pelanggaran minimal mereka adalah pelanggaran imigrasi dan kewarganegaraan.. pelanggaran beratnya, dipenjara.. lalu kalau perlu mereka diwajibkan lapor dua hari sekali, dan menjalani kerjapaksa berdakwah anti radikalisme.. kalungi saja mereka dengan gelang pelacak, atau ditanam microchip di leher seperti di film sainsfiksi..

program deradikalisasi saja tidak akan cukup.. akibat trauma atas kejahatan biadab selama konflik tidak terperikan, bisa saja sebagian dari mereka sudah menjadi psikopat yang mengerikan, seperti Joker.. atau Hannibal Lecter..

namun bisa juga sebagian dari mereka ternyata (nantinya) adalah aset yang bisa dimanfaatkan untuk membangun benteng pertahanan terhadap upaya radikalisasi di masa depan.. siapa lagi yang bisa lebih baik menjelaskan tipu daya janji manis khilafah daripada mereka yang habis segala-galanya tertipu luar dalam di sana.. we will never know, until we try, walaupun selalu ada resikonya..

PR pemerintah memang berat.. di dalam negeri saja para penyebar virus kebencian dan intoleransi masih banyak..
masih harus ketambahan terpaksa menerima ratusan orang yang mempunyai potensi tinggi menjadi pembangkang dan penular virus yang sama..
lagipula pekerjaan rumah para penguasa untuk memberikan keadilan bagi pemeluk agama minoritas yang sudah mengantongi izin membangun (IMB) tempat ibadahnya lalu dirongrong masa, masih harus dibereskan terlebih dahulu.. sambil berkaca, umat mayoritas, tempat ibadahnya bahkan punya IMB atau tidak.. atau lebih jauh lagi, punya sertifikat atau liar..

tapi, apapun keputusan pemerintah mengenai hal ini, saya hanya bisa manut, dan mendoakan yang terbaik untuk bangsa ini..

sebagai warga negara yang baik, selama ini saya juga selalu nurut kepada pemerintah yang menetapkan idul fitri 1 Syawal, kapan saja.. yang penting libur..

termasuk nanti ketika pemerintah menetapkan 14 Februari sebagai peringatan hari Valentine yang resmi, dan akan selalu saja ada ormas yang mengumumkan lebih dulu bahwa mereka merayakan valentine satu hari lebih cepat, yaitu 13 Februari.. saya akan tetap setia ikut kebijakan resmi pemerintah yang sah..

marhaban yaa Valentinan..

Sumber : Status Facebook Bintang Prabowo

Tuesday, February 11, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: