Tentang Kivlan Zen, Ahok dan Tempo

Oleh: Anton Septian
 

Kivlan Zen, saat ini orang-orang komunis sedang berkonsolidasi dalam senyap dan sewaktu-waktu akan mengambilalih kekuasaan. Sebab itu, jangan berdayakan para petani. Merekalah para pemegang arit dalam lambang Partai Komunis Indonesia.

Menurut Kivlan, tanda-tanda kebangkitan komunisme itu nyata. Anak-anak muda sudah terkontaminasi pikiran-pikiran kiri. Ini akibat maraknya peredaran buku-buku kiri dan kejadian seputar 1965. Kebangkitan komunisme sudah sistematik karena mereka juga punya banyak corong, salah satunya Tempo.

Majalah Tempo, kata Kivlan, adalah corong kaum komunis. Buktinya, majalah Tempo berulang kali menerbitkan edisi khusus soal tokoh-tokoh kiri, yakni Aidit, Muso, Sjam, Njoto, dan Tan Malaka; serta peristiwa 1965 dalam edisi Pengakuan Algojo 1965. Seluruh edisi tersebut kemudian diterbitkan ulang oleh KPG sebagai buku.

Pada November 2012, Tempo menerbitkan edisi khusus soal Sarwo Edhie, komandan RPKAD yang memimpin pembersihan orang-orang kiri pada 1965. Konon setelah edisi tersebut terbit, keluarga Ani Yudhoyono tersinggung. Sebab, Tempo menulis sisi lain rumah tangga Sarwo yang tak diketahui banyak orang.

Sejumlah sahabat saya, para pembaca Tempo, juga bereaksi. Mereka menuduh Tempo sedang membersihkan nama Sarwo dalam peristiwa 1965. Tempo, kata mereka, mengarahkan kesalahan pada Soeharto sebagai pemberi perintah penangkapan dan pembunuhan setelah G30S. Sementara Sarwo hanya pion dalam tragedi berdarah tersebut.

Reaksi ini mirip dengan saat Tempo menulis persiapan Prabowo Subianto berlaga dalam pemilihan umum 2014. Tulisan tersebut, antara lain, bersumber dari wawancara Prabowo dan reportase di kediamannya di Bukti Hambalang. Edisi itu terbit dengan judul Palagan Terakhir Prabowo. Menurut kabar yang saya dengar, Prabowo marah besar setelah majalah itu tayang. Pendukungnya kemudian merisak Tempo.

Namun, sejumlah aktivis demokrasi (setidaknya yang saya kenal) yang membaca edisi tersebut justru kecewa. Mereka menganggap Tempo sudah berdamai dengan Prabowo. Tulisan tentang Prabowo di edisi tersebut diangap tak menusuk, malah cenderung positif.

Ketika kami menulis edisi khusus Jenderal Soedirman dan Benny Moerdani, sejumlah pembaca juga menuduh kami sedang mengkultuskan mereka. Terutama Benny Moerdani, yang tangannya dianggap berlumur darah. Namun pembaca yang lain (yang jumlahnya lebih banyak) mengapresiasi karena Tempo menampilkan sisi lain orang-orang yang mempengaruhi lintasan sejarah republik ini.

Selain tuduhan Kivlan, contoh terkini bagaimana sebuah berita ditafsirkan secara berbeda adalah soal Ahok dan “barter” izin reklamasi dalam majalah edisi Amuk Reklamasi. Sebagaimana Ahok, para pendukungnya menuduh Tempo memfitnah karena menyebarkan informasi tak berdasar. Meskipun dalam berbagai tulisan tentang itu, Tempo (juga Koran Tempo dan Tempo.co) menyebut bahwa pemberitaan tersebut berdasarkan pengakuan bos Agung Podomoro ketika diperiksa penyidik. Baik KPK maupun pihak Agung Podomoro membenarkan bahwa keterangan tersebut memang disampaikan dalam pemeriksaan. Tak cukup hanya itu, Tempo memiliki dokumen yang menunjukkan bahwa Ariesman Wijaya, bos Podomoro, memang berkata demikian.

Di luar percakapan di media sosial tentang hal itu yang melebar ke mana-mana, sejumlah pihak yang anti-Ahok, atau boleh dibilang sebagai pembenci Ahok, justru menuduh Tempo sedang membela sang gubernur dalam kasus “barter” tersebut. Lihatlah, gambar sampulnya. Ahok diilustrasikan sebagai Robin Hood. Baca juga opininya. Suara redaksi Tempo tak tegas menyebut Ahok bersalah. Tulisannya pun tak sekeras ketika menulis kasus-kasus lain. Demikian anggapan pihak di seberang Ahok dan penggemarnya.

Bagi mereka, selama ini Tempo merupakan pendukung Ahok. Dalam kasus RS Sumber Waras misalnya, Tempo melawan opini umum, pendapat yang berseberangan dengan mereka, yang menganggap Ahok bersalah dalam perkara tersebut.

Demikianlah macam-macam tuduhan dialamatkan oleh mereka yang tak puas dengan pemberitaan. Bahkan, sebuah berita pun bisa dibaca secara berbeda oleh dua pihak yang berlainan, yang bahkan berseberangan sama sekali. Fakta yang sama bisa diartikan berlainan oleh dua kubu yang sejak awal sudah menyatakan berdiri di kutub mana. Sebab, pada umumnya kita hanya membaca berita yang kita sukai. Fakta-fakta dalam bacaan tersebut, bila cocok, menjadi justifikasi atas keyakinan kita.

Begitulah jurnalisme bekerja. Dengan segala risikonya, wartawan bekerja mengais-ngais fakta. Tak ada yang lain. Tidak juga dipengaruhi kedekatan atau hubungan baik sebelumnya. Kesetiaan bukanlah pada orang, tapi nilai-nilai kebajikan.

Orang boleh berkomentar apapun. Namun, seperti kata C.P. Scott, opini itu bebas, sedangkan fakta itu suci.**

NB: Tulisan ini tak mewakili Tempo

(Sumber: Facebook Anton Septian)

Sunday, May 29, 2016 - 12:00
Kategori Rubrik: