Tentang Kimi Hime

Oleh: Muhammada Jawy

Karena nggak ngerti blas dunia PUBG, saya juga baru denger Kimi Hime kemarin ini. Saya ngertinya Starcraft2, jadi kenalnya Artosis dan Tasteless, keduanya cowok tulen, BTW.

Memang dunia Youtube ini membawa revolusi, siapapun bisa menjadi content creator. Dan saya termasuk yang sangat terbantu oleh youtube untuk belajar how-to, baik masalah masak-memasak ataupun pertukangan rumah, mengurusi kendaraan, sepeda. Banyak tips keren yang langsung bisa dipraktekkan.

 

Namun masalahnya harus diakui banyak Youtuber kacau, yang membanjiri YT dengan video sampah. ICTWatch mencatat setiap bulan ada ratusan video negatif yang diflag.

Saya lihat sekilas Himi ini, narasi judulnya sangat kentara memancing ya, jadi nggak pantas untuk dibaca anak-anak. Masalahnya ia membawa konten game yang notabene banyak anak memainkannya, dan videonya tidak langsung diset Age-restricted. 

Wajar kalau ada yang ribut, sampai Kominfo turun tangan. Problemnya ada di dua sisi. Si content creator mestinya juga ngerti kalau konten yang dibuat nggak cocok buat anak, ya mestinya langsung diset restriksi umurnya. Mau bikin humor dewasa, sepertinya masih boleh oleh hukum asal tidak mengarah ke pornografi. Tetapi kalau dibuka tanpa restriksi, ya ini merusak anak-anak dong. Wong bapak-bapak dan emak-emak juga bisa rusak, apalagi anak. 

Dan sisi lainnya adalah masyarakat, khususnya orangtua masih banyak yang belum bisa melindungi anaknya dengan baik. Banyak yang royal membelikan gadget ke anaknya, tanpa berusaha mencari tahu perlindungan apa yang wajib dilakukan. Kadang Youtube Kids saja tidak paham, apalagi seperti Family Link. Atau parahnya si anak menggunakan Youtube dengan akun ortunya, sehingga batasan Age-restricted menjadi tidak berguna. 

Jadi, di satu sisi, orangtua harus mau belajar untuk mengamankan anggota keluarganya dari terpapar konten yang negatif, tidak sesuai usianya. Sisi lain, content creator mbok ya jangan bloon-bloon amat. Pahami dampak dari konten yang dibuat.

Yuk para ortu, sama-sama pelajari bab Digital Parenting bersama biar anak tidak tersesat di belantara digital.

 

(Sumber: Facebook Muhammad Jawy)

Tags: 
Thursday, July 25, 2019 - 20:30
Kategori Rubrik: