Tentang Isa, Maria dan Al Maidah

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Saya sedang berada di Hong Kong ketika banjir besar melanda Jakarta pada awal 2007. Sandek Muna berlabuh di selpon saya di tengah malam buta, mengabarkan air yang mulai memasuki rumah. Saya begitu cemas karena tak bisa berbuat apa-apa. Janis, si bungsu kami, masih berusia 4 tahun.

Muna memutuskan untuk membawa anak-anak mengungsi ke Balai Warga, bergabung dengan nyaris seribuan orang yang juga berkumpul di sana. Dari jarak ribuan kilometer saya pandu sebuah truk datang menerobos banjir untuk menjemput mereka. Muna dan 5 anak lalu mukim di rumah Ibu Mertua saya selama sepekan.

Itu banjir terburuk. Tak cuma seluruh dokumentasi karya-karya saya habis ditelannya, buku-buku yang terkumpul selama belasan tahun juga hancur, rusak, termasuk buku kesukaan saya: ENSIKLOPEDI NURCHOLISH MADJID, Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, disunting Budhy Munawar Rachman.

Saya suka tulisan-tulisan Nurcholis. Segenap sengkarut terasa sederhana ketika dipapar melalui tulisan dengan gaya bahasa sehari-hari. Apalagi beberapa tulisan di buku itu adalah transkrip pidato, paparan lisan, dan pengajaran di kelas. Alirannya enak diikuti, nyaman melegakan jika Anda bersedia membiarkan diri hanyut tanpa kecurigaan apa-apa.

Salah satu tulisan berjudul “Dajjal Pemimpin Palsu”, mengetengahkan perbedaan pandang Islam dan Kristen dalam melihat Yesus dan Maria. Dengan enteng Nurcholis menolak sebutan “Al Masih terbesar dan satu-satunya” buat Yesus karena semua nabi pada hakekatnya adalah Al Masih. Dia juga mengecam penggampangan orang Islam dalam menyebut kata “nabi” di percakapan sehari-hari untuk merujuk Muhammad. Ada banyak nabi, kata Nurcholis. Mengucapkan “Nabi telah berkata” untuk mengatakan Nabi Muhammad adalah keliru.

Artikel tersebut terasa mengiris ketika masuk ke paragraf demi paragraf berikutnya, terutama ketika Nurcholis sampai pada bagian ‘apakah Yesus masih hidup?’ Dulu bagian itu menyandera saya bertahun-tahun. Buat orang Kristen, Yesus masih hidup. Mempersoalkannya adalah kenyinyiran tak perlu.

Tapi waktu berlalu. Akhir pekan kemarin Henny Supolo mengabarkan kehadiran website yang memampangkan seluruh tulisan dalam buku tersebut. Tadi malam saya berkunjung dan langsung masuk ke artikel “Dajjal Pemimpin Palsu”, mengenang hari-hari penyanderaan itu, sekaligus kepingin tahu: bagaimana sekarang saya merasakannya.

Ternyata saya sudah dibebaskan. Saya membacanya kembali dengan tenang dan malah dengan kekaguman baru kepada Yesus justru karena Nurcholis Madjid telah membuka selubungnya.

Ensiklopedi dalam format pdf ini menjadi sangat penting karena tahun ini seseorang telah mengkhianati penulisnya, memorakporandakan mozaik Indonesia yang dengan susah-payah dirawat.

Garong itu bahkan menghujamkan belati di kuburan Sang Paramadina--Madina nun jauh yang bersemayam di dada.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Monday, November 13, 2017 - 15:30
Kategori Rubrik: