Tentang Film Bumi Manusia

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Nonton film Bumi Manusia saya harus acungi jempol sekali lagi ke Pramudya, hebat cerita karya novelnya. Penuh semangat nasionalisme dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dialog2 yang cerdas berbobot. Juga tokoh Nyai Ontosoroh serta Minke, simbol pribumi maju namun tetap bangga dengan Jawanya. Minke tetap menghargai Belanda yang obyektif. Tidak semua Belanda buruk. Orang baik ada dimana saja tanpa peduli warna kulit maupun bangsanya. 

Hebat juga Hanung Bramantyo sangat serius dan detil menggarap filmnya. Tiga jam nggak terasa. Luar biasa.
Di film itu nuansa budaya Nusantara dengan kebaya, dan blankonnya sangat kental. Seakan membawa kembali ke masa lalu. Ketika itu.

Apalagi pidato Minke dipengangkatan ayahnya sebagai hupati soal jiwa Majapahit yang inspiratif itu sungguh bisa menjadi titik tolak perjuangan kembalinya bangsa besar ini.

Dulu ada Film Saijah dan Adinda yang disadur dari Novel Max Havelaar karya Douwes Dekker. Film yang dibuat tahun 78an baru boleh diputar tahun 89an. Saya menonton di LFM ITB yang murah meriah dan asyik. Film yang mengisahkan perilaku buruk pejabat pribumi pada rakyatnya sendiri serta perlawanan Saijah terhadap kesewenangan pejabat asisten residen Lebak Banten ini awalnya dilarang diputar. Di situ ada juga kisah pembelaan Douwes Dekker terhadap nasib kaum pribumi yang juga ditentang Pemerintahan Hindia Belanda. Ceritanya sangat bagus dan menginspirasi.

Mirip novel Pramudya yang dilarang beredar oleh Orba. Mestinya justru guru2 perlu nonton film ini atau baca Bumi Manusia biar pintar. Biar berpikir kritis.
Karena perilaku busuk dan otoriter, Orde Baru takut dengan bayang-bayangnya sendiri. Sehingga karya seni yang berisi perlawanan terhadap kesewenangan dan ketidakadilan dilarang dibaca atau ditonton oleh publik.

**Pertunjukan dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Tuesday, August 20, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: