Tentang Cara Mengenal Hoax

Ilustrasi

Oleh Irfan Nuruddin

Beberapa waktu lalu seorang kawan yang "PKS sampai ke tulang", mengeluh karena usahanya untuk mendirikan Pesantren di daerah Metro-Lampung gagal total. Pasalnya, ia berkeras untuk membuat kurikulum terobosan dengan mengadopsi metodologi pak Munif Chatib dalam tools pembelajarannya. Kenapa jadi gagal? Karena disaat yang sama, pesantrennya itu mendapat limpahan informasi HOAX dari apa yang disebutnya " berasal dari sodara sendiri" bahwa pesantrennya itu adalah PESANTREN SYIAH. Dalam kosmologi beberapa kawan-kawan saya, menjadi syiah adalah kekafiran mutlak yang identik dengan: "Menyembah Imam Ali, menyodorkan istrinya untuk dimut'ah orang lain, tidak shalat, jibril salah menurunkan wahyu dan sekelompok orang yang memiliki Quran yang berbeda". Sebuah ketololan yang terlampau tolol untuk jadi nyata namun kadang diyakini dengan sangat percaya diri.

Saya sudah sering menemukan dampak dari kedogolan kawan-kawan saya yang menyebarkan informasi tentang "Si anu Syiah", tapi baru kali itu saya menemukan dampaknya pada teman-teman satu harakahnya sendiri. Kawan saya ini akhirnya dengan masygul mengurungkan niatnya dan disaat yang sama menyatakan keengganannya untuk kembali beraktivitas bersama kawan-kawannya, sesuatu yang saya kritik:"Kalau semua orang waras berhenti yang tersisa hanya orang-orang idiot".

Tidak hanya itu sebenarnya, informasi HOAX sebenarnya menimpa banyak kawan-kawan saya dari kelompok lain. Kawan-kawan kiri disebutnya "tidak percaya tuhan", kawan-kawan Islam Liberal disebutnya "mengangkat telfon dikala shalat, gemar minum khamr dan tidak shalat", masyaikh al azhar disebut beberapa kawan "menganjing buta kepada rezim militer", rezim bashar al assad meminta dirinya "disembah rakyatnya sendiri" atau "jokowi adalah Komunis China".

Dalam kriteria ini, hal tersebut masuk dalam kategori "Terlalu buruk untuk jadi nyata". Hal yang ditelan bulat-bulat tanpa berfikir lagi dan membuat kita dapat menduga bahwa otak mereka itu "kurang satu kilo". Tentu saja kriteria lain adalah "Terlalu fantastis untuk jadi benar" semacam berita bombastis tentang "Paus masuk Islam" atau "satu batalyon tentara masuk Islam" diterima bulat-bulat.

Kerusuhan yang membuat tanjung balai berkobar kemarin juga sebetulnya di buat meletup lewat provokasi dari berita-berita HOAX di Media Sosial yang diterima tanpa self critisized yang memadai oleh orang-orang dogol. Pengulangan yang sama atas kerusuhan Jakarta 98, Ambon, Poso dan berbagai kerusuhan lain.

Dibawah ini saya suguhi anda dengan sebuah gambar yang saya ambil dari MILITAN KEADILAN PUSAT. Silahkan anda nilai sendiri..

https://www.facebook.com/militankeadilanpusat/photos/a.207207649658743.1073741827.207188006327374/265644153815092/?type=3&theater

Jangan remehkan informasi palsu..

Wednesday, August 3, 2016 - 00:30
Kategori Rubrik: