Tentang Buku "How To" UAS

ilustrasi

Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo

Dalam dunia perbukuan, jenis buku dengan kualitas terendah dan paling murah harganya adalah buku yang disebut "how to". Ini sebetulnya cara penyebutan yang dilakukan orang2 penerbitan, untuk buku dengan kualifikasi buku panduan. Ya "panduan" apa saja. Dalam format paling rendah dan absurd ada panduan bimbingan belajar masuk PTN favorit, yang di dalamnya berisi contoh2 soal. Saya merasa bagian dari generasi awal "korban gaya pendidikan ngejar setoran" pada awal 1980-an yang belakangan saya anggap sungguh brengsek. Ikut bimbingan tes, ngapalin trik2 dan short cut cara menjawab soal. Sesuatu yang gak aneh, ketika lewat belasan tahun kemudian, tak ada satu-pun rumus atau hapalan yang tersisa nyantel di otak. Tak ada satu pun! Cara pendidikan "instant dan short cut" seperti ini, anehnya makin diminati orang2 tua yang ingin membeli "kebanggaan" dengan cara mudah dan cepat. Saya sempat terkaget2, ketika di daerah2 pelosok banyak bimbingan belajar privat, menawarkan jaminan uang kembali pasti diterima terutama di PTN favorit milik lembaga2 negara seperti STAN. Yang mengangetkan untuk bimbingan belajar "super intensf" selama 2-3 bulan itu mereka memasang tarif antara 30-50 juta. Sebuah bayaran, yang saya pikir sudah lebih dari cukup untuk biaya pendidikan untuk S1 sampai selesai. Tapi apa lacur, kadang perkembangan ekonomi yang tumbuh di luar kendali di desa, juga memunculkan gaya konsumsi yang lebih aneh dari orang2 yang tinggal di kota.

Beberapa belas tahun yang lalu, buku "How To" ini, di dunia Barat dikemas dalam serial Chicken Soup for Live. Sesungguhnya, ini sebuah buku yang maksudnya adalah sumber inspirasi. Juga juga semacam short cut dalam bentuk lain untuk menemukan makna hidup. Yang sesungguhnya, selain untuk sejenis "hiburan dalam bentuk lain", juga memotivasi diri dengan cara paling gampang. Dengan banyak kalimat inti: kita tidak sedang celaka sendirian, kita pasti juga bisa, dan hargailah proses. Buku jenis ini, pernah menjadi buku best seller bertahun2. Konon Gramedia sebagai penerbit buku terbesar, kalau dia mau: hanya perlu menerbitkan serial terjemahan buku ini, akan tetap sukses besar. Nyatanya secara filosofi ia paham bahwa kelas buku ini tetaplah rendahan. Apa jadinya hanya bertahan hidup dengan buku sejenis ini. Saya punya koleksi sekira 20an buku Chicken Soup ini, tak pernah saya baca. Karena selain memang sekedar ingin mengkoleksi, sebenarnya isinya juga hanya kompilasi dari cerita2 pribadi yang saya pikir mulanya hanya dipungut dari sumber berbagai media. Intinya adalah dalam buku chicken soup tak ada nilai pemikiran yang sifatnya original dan in depth. Tak ada yang baru, hanya setting lokasi, peristiwa, waktu, figur dan konteks masalahnya saja yang selalu dibikin berbeda. Demikian pula lah, saya pikir watak buku "how to", yang gilanya akhirnya tidak menyangkut masalah2 teknis atau teknologi, yang saya pikir masih OK-lah dibutuhkan. Lah kalau dalam masalah agama, juga ingin dishort-cutkan?

Itulah saya pikir yang terjadi pada fenomena Ustadz Abdul Shomad beberapa waktu terakhir. Ia menterjemahkan dan menuliskan ulang buku berjudul "Saat Rumah Tangga di Ambang Kehancuran - 25 Penyebab Perusak Rumah Tangga". Semestinya, sebagai penterjemah ia bisa sangat mengerti akar masalah kerusakan rumah tangga. Tapi apa daya, ia lebih memilih menyerah untuk menceraikan istrinya. Tentu tidak penting apa penyebabnya. Dalam perceraian: kekalahan adalah kekalahan dan semua tentu saja ada pada pihak yang salah dan kalah. Tak ada pemenang! Disinilah buku tetaplah sebuah buku, ia adalah kertas yang diatasnya tertuliskan tinta tercetak. Ia bisa berharga tinggi, pun hanya jatuh sekedar sampah! Dalam kacamata saya sebagai orang Jawa, pilihan angka 25 ini saja sudah aneh! Duapuluh lima dalam bahasa Jawa disebut selawe. Selawe itu memiliki makna filosofi "seneng-senenge lanang lan wedok" (puncak asmaranya laki-laki dan perempuan). Artinya logika selawe mustinya maknanya harus positif, dan bukan sebaliknya. Tentu saja, UAS bukan orang Jawa dan saya tentu akan makin malu kalau iya. Di tengah banyak orang Jawa yang makin hilang ke-Jawa-annya dan malah malu terlahir sebagai orang Jawa. Sehingga tega menghapus asal-usul dan identitas masa lalu-nya. Buku di atas adalah bukti bahwa ia bukanlah pemikir, ia sembrono bahkan hanya sekedar menterjemahkan buku untuk diterbitkan. Jika ada yang memuja dan mengidolakannya, hanya satu kata: kasihan deh lu!

Saya pikir kesimpulan saya hanya satu, sebagaimana watak buku "how to". Ia terjebak dalam keinginan menasehati, memberi tahu dan mengajari orang lain. Ia lupa bagaimana apa yang ia tuliskan ia berlakukan sendiri pada dirinya sendiri. Pada orang2 terdekat di sekitarnya. Ia mengingatkan saya pada sosok Mario Teguh dalam bentuk lain. Seolah merasa besar dan hebat ketika memberi nasehat, tapi lupa menasehati diri sendiri....

Pesan moralnya: berhati2lah menulis, bijaksanalah dalam keinginan menasehati. Di sini pilihannya adalah diam sebagai dasar watak emas. Sebaliknya adalah watak tong kosong yang nyaring bunyinya. Atau watak air beriak yang tandanya pasti tak dalam....

Sumber : Status Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

 
Tuesday, December 10, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: