Tentang Brompton dan Sepeda Bernama Piet

ilustrasi

Oleh : Bintang Prabowo

saya tidak terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya..
tentu saja makan cukup, bayar sekolah lancar..

ketika teman-teman masa kecil saya dibelikan gamewatch, semacam PlayStation atau X-Box barangkali padanannya sekarang, saya memilih untuk tidak minder dan tidak berusaha meminjam..

dengan tangan, saya menciptakan sendiri mainan dari apa saja yang ada di sekitar..
beberapa bahkan tergolong berbahaya.. misalnya busur panah dari bilah bambu dengan benang kasur sebagai string.. anak panah saya lengkapi dengan ujung refill ballpoint parker kosong milik Bapak.. dengan akurasi lumayan, batang pisang ukuran tanggung nyaris tembus dengan anak panah yang dilepaskan dari busur berjarak 10 meter..

membuat Kapak batu dari pecahan batu belah tetangga yang sedang membangun pondasi juga pernah.. seperti bangsa Mohawk, orang-orang Mohican, saya juga bisa melemparkan kapak dan pisau dapur milik ibu ke jantung pisang hingga menancap..

bandel banget..

konsep bom molotov pakai minyak tanah juga sudah saya ketahui sejak SD, bahkan tanpa ada youtube sekalipun ketika itu..
saya ngerti kalau dilemparkan dan pecah, maka akan terbakar hebat..
yang saya lakukan cuma memasang sumbu, kemudian menyulutnya, lalu lari pontang-panting..
tentu saja tidak meledak, cuma nyala saja seperti obor..
dari situ saya ngerti cara membuat lampu minyak dari botol bekas..

beberapa teman yang memiliki gamewatch kemudian justru mendatangi saya yang asyik bermain di ladang orang, atau tepi sungai, dan menawarkan meminjamkan gawainya untuk saya mainkan, dengan barter mereka boleh main-main dengan mainan buatan tangan saya..

saya juga berkali-kali berhasil membuat kapal/rakit kecil yang bisa saya naiki bersama teman-teman di sungai belakang rumah, dengan bambu, batang pisang, atau menyatukan banyak gabus bekas..

barangkali kebiasaan masa kecil itu terbawa hingga dewasa..

saya lebih suka membeli motor tua, kemudian mengotak-atiknya.. saya membeli gitar second, karena bunyinya sama..
dan kemarin, ketika tiket Bus langganan saya di Trondheim kedaluwarsa, saya membeli sepeda dari seorang mahasiswa dari Italia, bernama Pietro, yang akan segera selesai studinya dan kembali ke negara asalnya..
harganya cukup murah, separuh dari harga tiket langganan Bus selama satu bulan..

sepeda ini cukup membantu wira-wiri saya, berfungsi sebagaimana mestinya, kecuali fakta bahwa rem belakangnya sudah aus dan tidak berfungsi..
sebetulnya mudah saja memperbaikinya, tapi saya tidak punya alat bantunya..

oh, well.. it's okay..
been there, done that..

saya pernah mengendarai motor tanpa rem depan maupun belakang, kemudian menuruni kawasan Gombel yang terkenal curam itu untuk menuju bengkel langganan, hanya bermodalkan engine break dan alas kaki yang kuat.. serta do'a ibu tentunya..

di saat yang hampir bersamaan, di beberapa WA group muncul tren baru, membeli sepeda lipat yang mahal.. Brompton..

sebetulnya saya ngerti Brompton sudah lama.. jauh sebelum orang-orang mengenalnya ketika banyak diberitakan saat diselundupkan oleh Boss Garuda pakai pesawat baru yang masih bau pabrik..

in my humblest opinion, Brompton adalah sejenis sepeda yang dikendarai oleh sebagian besar orang karena gengsinya, bukan fungsinya..
kualitasnya memang bagus, bahan dan finishingnya excellent..
but, hey.. itu mirip dengan iPhone yang tidak pernah saya miliki, dan HP Xiaomi yang konon bisa menularkan CoronaVirus, yang tiap hari menemani saya di sini.. saya bukan Pro China.. saya cuma being realistic, best value between functions and price..

buat saya, tidak masuk akal beli sepeda seharga 36 juta.. atau bahkan di atas 50 juta..
sudah mahal, masih harus genjot gowes pula..
harga yang mungkin bisa dipakai buat beli motor Kawasaki Ninja 250 cc second, yang bisa juga jadi sarana olahraga kalau didorong kemana-mana.. lebih sehat; kombinasi antara cardio dengan muscle training.. kalau capek, tinggal starter..

itu masih murah.. beberapa sepeda dibanderol dengan harga di atas 100 juta.. ada juga yang menyentuh angka milyar..

tergantung pergaulannya juga sih..
beberapa orang minder setengah mati sampai depresi kalau sepedanya kalah mahal..
kata Isaac Newton, Gaya (F) berbanding lurus dengan Tekanan (P) dan penampang (a).. Jadi kalau hidupmu penuh tekanan, dan tampangmu gitu-gitu aja, mungkin karena hidupmu kebanyakan nggaya..

tentang sepeda mahal ini fenomenanya juga mirip jam mahal, katakanlah Rolex.. jam seharga 140 juta itu apa ya jarumnya muternya lebih kenceng dari jam seratus ribuan..
apalagi zaman sekarang tinggal lirik HP sudah bisa lihat jam.. dan bokep..

ya tapi kan tiap orang punya preferensinya sendiri sendiri..
bebas..

kalau saya, dengan segala keterbatasan yang ada, memilih sepeda yang saya beri nama Piet ini..
tanpa rem belakang, tanpa ban khusus winter, di jalanan Norwegia yang berlapis es super licin..
kebetulan pula, orang jawa menyebut sepeda sebagai "pit".. dan yang jual bernama Pietro..

temen saya ada yang hobi banget naik sepeda.. sepuluh tahun terakhir ini tiap hari dia bersepeda menempuh jarak 10 km.. sekarang, artinya dia udah jauh banget dari rumah.. tuh, istrinya nyariin tiap hari.. suaminya ilang satu dekade..

Sumber : Status Facebook Bintang Prabowo

Wednesday, January 29, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: