Tentang Aturan Wajib Pakai Jilbab di SMP Negeri

Oleh: Denny Siregar

 

"Yang muslim wajib pake jilbab.."

Begitu kata seorang teman saat memasukkan anak perempuannya di hari pertama masuk SMP negeri di Surabaya. "Gak ditulis di surat edaran, tapi disampaikan oleh guru-guru di sekolah. Siswa wanita muslim wajib pake jilbab. Itu untuk memudahkan guru memisahkan mana yang muslim dan mana yang Kristen.."

 

 

Temanku cerita, anaknya mengeluh. Sudah di SD diwajibkan berjilbab, sekarang di SMP juga begitu. Dia bosan pake jilbab dan ingin seperti anak remaja umumnya.

Memang aneh sekolah negeri sekarang.

Saya ingat ketika saya SMP & SMA di tahun 80-90an, teman-teman yang wanita bisa bebas mengekspresikan dirinya tanpa harus terbebani dengan aksesoris yang membedakan dia dengan teman lainnya yang tidak seagama. Coba cek saja film-film remaja pada waktu itu, tidak ada siswi yang berjilbab. Dan semua baik-baik saja..

Tapi semua itu berubah setelah negara api menyerang.

Sekarang sudah ada pemisahan, mana muslim dan mana yang non muslim. Seakan agama begitu penting dalam memisahkan pergaulan antar sesama. Tanpa sadar sejak kecil anak kita dikotak-kotakkan berdasarkan apa keyakinannya. Dan keyakinan itu harus ditunjukkan berdasarkan aksesorisnya.

Dan ini terjadi di sekolah negeri. Sekolah yang berada di naungan pemerintah yang seharusnya menaungi semua warganya tanpa melihat perbedaan apapun karena hak dan kewajiban semuanya sama. Sekolah yang kepala sekolah dan guru-gurunya digaji pake uang rakyat, yang berasal dari semua agama.

Jadi untuk apa mewajibkan jilbab sebagai salah satu aksesoris wajib di sekolah negeri ? Apa jilbab berhubungan dengan prestasi ? Atau jilbab berkaitan dengan ahlak seseorang ?

Contoh yang baru saja terjadi, seorang anggota DPR RI dari komisi VII ditangkap KPK karena menerima suap sekian miliar rupiah. Dan dia berjilbab !

Pendidikan yang mengkotak-kotakkan siswa berdasarkan agamanya ini, akan berlanjut ketika mereka dewasa. Nanti dari mereka ada yang membuka salon khusus muslim. Perumahan khusus muslim. Apa-apa muslim. Tapi kalau ketangkep KPK, terus menyanggah, "Jangan liat agamanya dong, itu kan oknum.."

Seharusnya pemerintah pusat, terutama Dinas Pendidikan, melihat fenomena ini sebagai sebuah ancaman besar terhadap kesatuan negara. Bahwa kewajiban pakai jilbab di sekolah negeri ini, sangat berbahaya dalam mempengaruhi pemikiran seseorang. Kita akhirnya terbiasa mengkotakkan diri, dan berkumpul hanya dengan sesama.

Harus dibuat peraturan dan harus diawasi ketat, kepala sekolah negeri yang membuat peraturan seperti ini. Bagaimana bisa membasmi terorisme, jika sejak awal pendidikan sudah disusupi ideologi, "Kami paling benar dari kalian ?"

Jangan heran, jika generasi-generasi hasil pemaksaan seperti ini akan menguasai kampus-kampus negeri dan menghasilkan pengajar, praktisi bahkan pejabat-pejabat yang sibuk dengan aksesori.

Dan permasalahan ini tidak akan bisa selesai, jika orang tua murid diam saja karena takut anaknya tidak mendapat nilai baik jika mengadukan ke publik. Harus ada class action ke pemda, pemkot bahkan pemerintah pusat bahwa aturan tanpa tertulis di sekolah negeri seperti itu wajib ditiadakan.

Kalau bisa buat kelompok "Ibu-ibu perduli negeri" yang khusus mengawasi situasi seperti ini. "Jilbab itu hak, bukan kewajiban di sekolah negeri".

Sebenarnya kita bisa melihat, bagaimana ancaman terhadap ideologi bangsa, nyata dan terjadi di halaman rumah kita sendiri. Hanya banyak dari kita yang abai dan tidak perduli..

Ah, serasa kopi pagi ini pahit sekali..

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Tuesday, July 17, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: