Tentang Aksi 22 Mei

ilustrasi
Oleh : Mamang Haerudin
 
Dalam amatan saya, selain memang ada banyak para perusuh, juga memang terdapat banyak pendukung fanatik, entah itu fanatik ke Prabowo, Sandiaga Uno ataupun kepada para tokoh Islam radikal, corongnya terpusat pada Habib Rizieq Shihab. Ada sekurangnya tiga para pendukung fanatik yang berkumpul dalam aksi 22 Mei, selain para pendemo bayaran dan para preman. Pangkal masalahnya apa? Selain isu melakukan kecurangan Pilpres 2019, isu PKI dan China adalah isu-isu yang selalu dijadikan andalan untuk menjatuhkan Pemerintah RI dan terutama Presiden Jokowi. Para pendemo akan semakin militan dan jihadis hanya dengan sekadar dibangkitkan emosinya dengan isu-isu tersebut. Dan jangan tanya mereka pun sangat berani mati. 
 
Saya mengelus dada eh. Saya banyak menemukan orang yang betul-betul benci pada Pak Jokowi. Apapun yang menjadi kebijakan Pak Jokowi semuanya salah di mata mereka. Baik dari kalangan terpelajar maupun awam. Inilah pangkal persoalannya dan hasil Pilpres 2019 merupakan puncak kemarahannya. Pak Prabowo bukan hanya didukung oleh kalangan menegah ke atas atau yang ia sebut sebagai "emak-emak." Padahal "emak-emak" ini adalah kelompok nasionalis, hanya saja mereka mendapatkan amunisi ideologi radikal, mereka yang sejak lama ingin mengubah NKRI menjadi Negara Islam atau Khilafah Islamiyah. Akhirnya memang pecah. 
Juga jangan aneh jika pekik-pekik takbir dipolitisir dan disalah-fungsikan bersamaan dengan pekik-pekik caci-mami terhadap TNI dan Polri. Sebetulnya apa yang terjadi belum seberapa. Sebab aksi 22 Mei tersebut tidak dikomandoi langsung oleh para tokohnya: Habib Rizieq Shihab, Al-Khattath, KH. Abdullah Gymnastiar, Sobri Lubis, Haikal Hasan, Neno Warisman dan tokoh lain sejenisnya. Betapa cerdiknya para pendemo aksi 22 Mei ini, yang segala potensi rusuh atau tidaknya telah lama direncanakan. Dan untungnya lagi, saat aksi 22 Mei ini kemudian rusuh, baik pihak Pak Prabowo maupun tokoh-tokoh agama yang tadi disebutkan, tidak merasa bertanggungjawab, karena secara langsung mereka tidak terlibat. 
 
Jangan salah loh ya, kekuatan pendukung fanatik Pak Prabowo dan tokoh agama berideologi khilafah (ideologi keislaman radikal) itu masih banyak. Hanya mereka masih "malu-malu kucing." Siapa saja mereka yang belum turun tangan? Adalah mereka aktivis hijrah, baik pengikut maupun tokoh agamanya. Dan kita--kelompok Islam moderat dan nasionalis--juga mesti waspada, bahwa sampai hari ini dan sampai kapanpun mereka akan terus mengumpulkan kekuatan, termasuk target utamanya adalah menggandeng para artis hijrah: Arie Untung, Teuku Wisnu, Primus, Dimas Setyo, Irwansyah, dll berikut masing-masing istrinya. Saya meyakini akan semakin banyak artis yang berhijrah. Di mana keislaman yang mereka rujuk adalah Ust Abdul Somad, Ust Adi Hidayat dan Buya Yahya. Tiga tokoh agama aktivis hijrah ini adalah "Maha Guru" para aktivis hijrah. 
 
Wallaahu a'lam
 
Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)
 
Saturday, May 25, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: