Tengku Zulkarnain Merusak Diri Dan Agamanya

ilustrasi

Oleh : Kalis Mardiasih

Dialog ini (Tayangan I News) adalah contoh yang baik untuk menggambarkan bagaimana maskulinitas yang keras kepala itu. Pertama, perempuan berusaha menjelaskan bahwa ia perlu waktu yang tepat, bahkan perlu mood, akan tetapi dijawab si laki-laki, perempuan tidak perlu waktu bahkan tidak perlu mood, asal tiduran saja nggak usah bergerak nggak akan sakit, katanya. Ditambah pakai kalimat andalan, "daripada suaminya berzina?" Ya Allah, semudah itu gara-gara ditolak semalam aja pikirannya langsung cari yang lain wkwkwkwk. Padahal istrinya seharian juga bekerja/lelah sendirian mengasuh anak di rumah. 

Kedua, si Ibu jelas memakai jilbab, masih ditanya, "anda Muslim tidak?". Ini teknik untuk mensubordinasi lawan bicara. Lalu, ia katakan, tidak ada pola persetujuan/kesepakatan perempuan-laki-laki dalam Islam untuk berhubungan seksual. Ia mau bilang bahwa yang ada adalah kehendak laki-laki semata. Kalau dalam hubungan seksual saja pemahamannya begitu, bisa dibayangkan bagaimana pola pengambilan keputusan atau hal-hal lain dalam rumah tangganya.

Dulu, saya juga sangat percaya pola pemikiran seperti itu. Saya ingat sebuah materi yang selalu diulang-ulang oleh guru mengaji, jika laki-laki harus jadi pemimpin yang tidak zalim, hakim yang adil, maka perempuan bisa masuk surga tanpa hisab dengan mudah, hanya dengan menjadi istri yang melayani suami dengan sebaik-baiknya. Materi yang terus diulang-ulang itu membuat cita-cita saya hanya satu: lekas menikah agar bisa masuk surga tanpa hisab dengan mudah.

Belum lagi, hadist yang menyatakan bahwa istri akan dikutuki dari malam hingga subuh jika menolak ajakan suami. Kalau sudah begitu, saya selalu membayangkan Rasulullah Saw. Rasulullah yang dilempari tahi musuhnya saja tetap menolak bantuan Jibril yang akan membantunya membalik gunung, maka ia tak mungkin kehilangan kesabaran hanya karena istrinya meminta waktu.

Saya kemudian bertemu dengan para guru yang mengkaji Islam dengan semangat keadilan. Islam tidak hanya memberikan hak pengambilan keputusan kepada laki-laki, akan tetapi juga perempuan. Dalam hubungan rumah tangga, kesepakatan keduanya harus setara. Suami tidak boleh memaksakan kehendak apabila istri dalam keadaan lelah atau tidak ridho, sebaliknya Istri juga harus mengambil peran sebaik-baiknya dan tidak boleh memaksakan kehendaknya apabila suami tidak ridho. Ada banyak hadist seruan mempergauli Istri dengan baik, akan tetapi dalam aplikasinya, hadist-hadist tersebut tidak ditafsiri dengan semangat keadilan.

Proses untuk melazimkan pandangan baru ini memang perlu waktu. Akan tetapi, saya sering berdialog dengan banyak laki-laki baru yang bersedia untuk melembutkan maskulinitasnya, secara umum mereka sepakat bahwa laki-laki yang baik adalah laki-laki yang tidak bangga dengan stigma pemaksaan/kekerasan.

Mengapa pemahaman hal baru ini penting? Agar tidak lebih banyak lagi terjadi peristiwa semacam ini https://www.suara.com/…/diduga-tolak-berhubungan-intim-pria…

#KeadilanGenderDalamIslam

Sumber : Status Facebook Kalis Mardiasih

Thursday, March 14, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: