Tendensius

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

"Abba, apa pendapatmu tentang hak seorang anak untuk mengurus dirinya?"

Itu pertanyaan si bungsu kepada saya 2 tahun lalu. Maka berdiskusilah kami tentang topik tersebut, panjang lebar. Simpulan tertelurkan: seorang anak memiliki hak otonom atas tubuhnya.

Keesokan hari si bungsu langsung lompat ke sebuah salon, meminta agar rambutnya diluruskan. Dalam 4 atau 5 jam semua selesai. Si bungsu pulang ke rumah dengan rambut lurus. Saya terenyak.

Dari 5 anak saya, cuma si bungsu yang berambut keriting dan memiliki golongan darah A. Dia satu-satunya representasi fisikal Sahat Siagian di rumah kami.

Sudah lama dia sebal sama rambutnya yang keriting dan menyusahkan itu. Sudah berkali-kali dia ajukan permintaan agar saya mengijinkan dia berambutlurus. Berkali-kali itu pula saya tolak. Selain ingin memiliki representasi fisikal, saya juga punya alasan mahasuci: keotentikan.

Karena makin sebal, dia menjebak saya dengan pertanyaan di atas. Selanjutnya dia tak perlu minta izin.

Pertanyaan di pembuka tulisan ini disebut pertanyaan tendensius. Sama halnya dengan topik seminar dalam gambar tertaut.

Boleh nggak sih? Tentu saja boleh. Tapi hendaklah kita semua mawas diri bahwa di belakang semua itu ada jebakan. Ada tipuan. Ada penyelewengan yang disimpan untuk disodor kemudian.

Kenapa membahas soal pemakzulan? Boleh saja, dengan asumsi bahwa sudah ada pembahasan topik-topik lain sebelumnya yang kemudian menggiring mereka untuk membahas lebih lanjut pada sebuah titik yang dianggap sebagai simpulan.

Kalau begitu, seminar ini juga harusnya dilanjutkan dalam forum-forum terdahulu yang telah membahas beberapa episodes masalah. Diadakan terbuka seperti ini kita nggak tahu apa yang membuat mereka melahirkan simpulan seperti itu sehingga memandang perlu untuk mempertanyakan konstitusionalitas pemakzulan.

Anda boleh saja berlindung di balik adagium "kebebasan mimbar kampus". Itu alasan suci. Tapi kalau tahapannya dibuat seperti ini, Anda ganjen kalau enggak mau saya bilang kurang ajar.

Trus, mosok saya nggak boleh menyimpulkan bahwa Din Syamsudin ya gitu itu orangnya.

Lebih menjengkelkan lagi kalau besok kita menemukan bahwa detikcom yang melaporkan acara ini seluas-luasnya.

Kalau ada dari kalian yang yang menyodorkan tautan detikcom untuk pemberitaan acara ini, langsung saya unfriend.

Nggak percaya, coba aja. Bego jangan ngajak-ngajak.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, June 2, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: