Tenaga Kesehatan Bukan Budak Hari Sabat

ilustrasi
Oleh : Efron Bayern
Profesi ialah pekerjaan yang memerlukan pendidikan khusus yang bersifat melayani manusia tanpa diskriminasi serta berlaku seumur hidup. Profesi berakar kata Latin professus. Professus berarti mengakui. Seorang calon baptis akan melakukan professus di hadapan jemaat sebelum dibaptis. Ia mengakui akan kebenaran dan akan menjalankan hidupnya sesuai dengan nilai-nilai atau standar moral yang ditetapkan oleh jemaat/gereja. Dari kata professus timbul kata profesi, profesor, dan profesional. Orang yang melakukan professus wajib menjalankan hidupnya secara profesional, yaitu sesuai dengan nilai-nilai atau standar moral yang sudah ditetapkan oleh kelompoknya.
Istilah profesi menjadi terkenal pada awal abad 20 di AS. Seorang dokter di AS merancang kurikulum untuk akademi perawat yang sekaligus memerkenalkan perawat sebagai profesi seperti takrif pada kalimat pertama alinea di atas. Kurikulum perawat tersebut kemudian menjadi rujukan pengembangan persyaratan sebuah profesi.
Konvensi Jenewa I 1949 dan Protokol Tambahan 1977 sangat jelas menyatakan bahwa tenaga kesehatan (Nakes) harus selalu dihormati dan dilindungi dan dilarang dijadikan objek serangan. Penyerangan terhadap Nakes adalah kejahatan. Dalam pada itu Nakes wajib menolong korban serangan tanpa diskriminasi. Apa pun agama, ideologi,politik, ras korban, Nakes wajib melayani.
Dalam agama Yahudi orang harus beribadah pada Hari Sabat. Orang tidak boleh bekerja pada Hari Sabat. Berjalan pun tidak boleh lebih jauh daripada satu mil. Bahkan bersisir dan iseng memetik sekuntum gandum terlarang pada Hari Sabat. Yesus melawan itu. “Hari Sabat untuk manusia, bukan manusia untuk Hari Sabat,” kata Yesus. Maksud Yesus sangat jelas bahwa manusia bukanlah tumbal atau budak Hari Sabat. “Kalau anakmu kecemplung sumur pada Hari Sabat, apakah kamu tidak menolongnya?” begitu kira-kira kritik Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Barangkali itulah yang dilakukan oleh empat Nakes forensik RSUD Djasemen Saragih, Pematang Siantar. Mereka melindungi keluarga korban Covid19 agar tidak tertular virus corona. Mereka memandikan jenazah korban Covid19 yang bukan “muhrim”, meski mereka sendiri berisiko disangka menista agama. Bagi mereka kemanusiaan jauh lebih penting sesuai dengan kode etik yang mereka junjung. Semangat!
MDS
Sumber : Status Facebook Efron Bayern
Thursday, February 25, 2021 - 09:30
Kategori Rubrik: